Jember (jurnalbesuki.com) - Edan, siapa sangka jika titel seorang haji, tak menjamin seseorang tidak akan melakukan perbuatan melanggar norma-norma agama serta hukum. Seperti yang dilakukan oleh Wak kaji yang satu ini, akibat perbuatannya kini ia harus mempertanggung jawabkan dimuka hukum.
H. Samsul Arifin (53), asal jalan Krakatau, RT 01, RW 01, Desa/Kecamatan Kencong. Penjual daging sapi ini diringkus oleh Tim Resmob Unit Barat Polres Jember pada Selasa (24/8), sekitar pukul 08.00. Kontan peristiwa penangkapan ini sempat menghebohkan warga sekitar, sebab pelaku ini juga terkenal sebagai tokoh masyarakat dikencong.
Belakangan diketahui jika pelaku ini diringkus oleh petugas, akibat kenekatannya mengoplos daging sapi jualannya dengan daging babi (celeng). Kemudian daging itu oleh pelaku dijual dipasar penampungan sementara Kencong.
Sumber informasi dikepolisian menyebutkan, jika pelaku sejak lama telah menjadi incaran petugas. Sebab, beredar kabar jika sejak lama, pelaku mengoplos daging sapi yang dicampur dengan daging babi.
Selanjutnya, petugas yang tergabung dalam Unit resmob wilayah Jember, akhirnya berusaha melakukan penyelidikan. Bahkan dalam satu minggu terakhir ini, petugas berusaha mencari tahu kegiatan pelaku sebenarnya.
Hasilnya setelah beberpa hari melakukan pengintaian, kemudian pelaku yang kebetulan pagi itu sedang ada dijalan untuk mengantar daging oplosan, tanpa pandang bulu langsung diringkus oleh petugas.
Selanjutnya pelaku yang membawa dua bungkus plastik warna merah, saat itu unutk sementara digelandang menuju kemapolsek kencong untuk didengar pengakuannya. Hasilnya, walaupun kilat petugas ternyata berhasil juga mendapat keterangan pelaku.
Dalam pengakuannya tersangka telah menerima suplai daging babi ini dari seseorang yang berinisial Y, asal Kecamatan Wuluhan.”kalau rumahnya saya tidak tahu, pak. Karena ketemu dirumah” ujar pelaku pada petugas.
Lebih lanjut pelaku menceritakan jika, kedatangan daging babi ini tiap tiga hari sekali. Itupun datangnya menurut pelaku sekitar pukul 05.00, dalam kondisi hari masih gelap. Dan ini dilakukan oleh pelaku dalam beberapa bulan terakhir ini.
Dalam setiap kilonya, pelaku membeli daging babi tersebut sebesar Rp.37.000,-. Selanjutnya daging tersebut menurut pelaku langsung dioplos dengan daging sapi, baru kemudian dijual dipasar kencong.
Mendengar pengakuan itu, petugas yang berjumlah lima orang langsung melanjutkan perburuannya kemapolsek ketempat jaualan pelaku, yang letaknya dipasar kencong. Disitu kedatangan petugas kontan menjadi perhatian pedagang yang lain.
Bahkan petugas sempat menghalau para pedagang serta pengunjung pasar, yang hendak menonton, kegiatan penggeladahan petugas. Dari tempat jaualan pelaku yang dijaga istrinya, petugas juga mengamankan beberapa barang bukti daging, yang dicurigai adalah daging sapi yang dioplos daging babi.
Tak hanya itu saja, dari hasil obok-obok yang dilakukan petugas ditempat jaualan pelaku. Berhasil diamankan juga hampir satu kwintal daging busuk, yang diawetkan dengan lonjoran es, yang berbau cukup menyengat.
Diduga kuat oleh petugas, daging busuk itu akan kembali dijual oleh pelaku disaat ramai-ramainya orang belanja jelang lebaran. Modusnya dengan dicampur daging segar yang masih berwarna kemerah-merahan.
Penggeledahan yang dilakukan oleh petugas ini, ternyata tak hanya ditempat jualan pelaku saja. Nyaris hampir semua pedagang daging sapi yang ada dipasar kencong, digeledah oleh petugas pagi itu.
Sayanganya walaupun hampir semua diobok-obok. Ternyata petugas tak menemukan jika para pedagang yang lain, menjual daging oplosan ataupun daging busuk, yang tak layak dikonsumsi oleh manusia.
Dari semua barang bukti yang ada, petugas kemudian menggelandang pelaku menuju mobil petugas. Walaupun belum diborgol, ternyata kegiatan polisi ini menjadi perhatian warga pasar kencong. (sumber: www.jurnalbesuki.com)
Link Aslinya:http://www.jurnalbesuki.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7072&Itemid=44
Selengkapnya.....
Jumat, 27 Agustus 2010
Minggu, 15 Agustus 2010
Masyaallah, Ada Anak Hobby Makan Cacing Mentah, Ulat Mentah, dan Cicak
Kerumunan cacing tanah mungkin menjadi salah satu hewan melata yang menjijikkan bagi kita. Jangankan disuruh makan, mau memegang saja enggan. Begitu melihat cacing tanah yang ukurannya besar, pastinya ingin ngacir pergi.
Bagi Febri Nugroho (13) tidak demikian. Siswa kelas 6 SD yang tinggal di Dusun Sumber Groto, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, ini justru sebaliknya. Cacing yang hidup di tempat kumuh ini bisa menjadi santapan lezat baginya.
Jangan membayangkan kumpulan cacing itu digoreng sebelum dimakan. Di tangan anak kedua pasangan suami istri Jumati dan Untung ini, cacing biasa ditelan mentah-mentah.
Terkadang hewan yang suka hidup di lumpur ini dimakan setengah matang dengan cara dibakar sekedarnya. Menu cacing bakar sudah biasa menjadi santapan Febri setiap kali hasratnya datang.
Itu belum seberapa. Bocah pendiam ini juga suka memakan cicak yang merayap di dinding. Cukup dengan memutar lehar sang cicak, hewan pemakan lalat ini pun masuk ke dalam perut Febri tanpa disertai rasa mual. “Biasa saja,” ungkapnya singkat.
Dua hewan itu saja belum cukup. Masih ada hewan melata lain yang sudah masuk ke dalam pencernaan Febri. Hewan itu antara lain ulat daun yang hampir menjadi kepompong serta bunglon.
Selain suka makan daging mentah, dia juga mahir menangkap ular berbisa. Kebiasaan itu membuat Jumati cemas. Ibu kandung Febri ini sampai kewalahan memperingatkan putranya. “Dikasih tahu bukanya berenti, malah tambah,” ungkapnya sambil tersenyum.
Menurut Jumati, kebiasaan putra keduanya itu sudah terlihat sejak masih tinggal bersama suaminya di daerah Sempu. Kebiasaan makan hewan melata beberapa kali disaksikan Jumati secara langsung. “Jijik juga melihatnya. Tapi anak saya kok tetap sehat,” ujarnya menambahkan.
Dibandingkan dengan putra pertamanya yang sering didera sakit, Febri justru jauh lebih sehat. Sampai duduk di bangku kelas 6 SD, dia hanya mengalami sakit panas saja. “Belum pernah sakit berat,” sambung Jumati.
Saat ditemui wartawan di kediamannya, Febri memang tidak mempertontonkan kebiasaanya. Dia enggan mempraktikkannya karena sedang menjalani ibadah puasa. “Kalau sudah tiba waktu buka mau,” ujarnya lirih. (Sumber: www.jurnalbesuki.com) Selengkapnya.....
Bagi Febri Nugroho (13) tidak demikian. Siswa kelas 6 SD yang tinggal di Dusun Sumber Groto, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, ini justru sebaliknya. Cacing yang hidup di tempat kumuh ini bisa menjadi santapan lezat baginya.
Jangan membayangkan kumpulan cacing itu digoreng sebelum dimakan. Di tangan anak kedua pasangan suami istri Jumati dan Untung ini, cacing biasa ditelan mentah-mentah.
Terkadang hewan yang suka hidup di lumpur ini dimakan setengah matang dengan cara dibakar sekedarnya. Menu cacing bakar sudah biasa menjadi santapan Febri setiap kali hasratnya datang.
Itu belum seberapa. Bocah pendiam ini juga suka memakan cicak yang merayap di dinding. Cukup dengan memutar lehar sang cicak, hewan pemakan lalat ini pun masuk ke dalam perut Febri tanpa disertai rasa mual. “Biasa saja,” ungkapnya singkat.
Dua hewan itu saja belum cukup. Masih ada hewan melata lain yang sudah masuk ke dalam pencernaan Febri. Hewan itu antara lain ulat daun yang hampir menjadi kepompong serta bunglon.
Selain suka makan daging mentah, dia juga mahir menangkap ular berbisa. Kebiasaan itu membuat Jumati cemas. Ibu kandung Febri ini sampai kewalahan memperingatkan putranya. “Dikasih tahu bukanya berenti, malah tambah,” ungkapnya sambil tersenyum.
Menurut Jumati, kebiasaan putra keduanya itu sudah terlihat sejak masih tinggal bersama suaminya di daerah Sempu. Kebiasaan makan hewan melata beberapa kali disaksikan Jumati secara langsung. “Jijik juga melihatnya. Tapi anak saya kok tetap sehat,” ujarnya menambahkan.
Dibandingkan dengan putra pertamanya yang sering didera sakit, Febri justru jauh lebih sehat. Sampai duduk di bangku kelas 6 SD, dia hanya mengalami sakit panas saja. “Belum pernah sakit berat,” sambung Jumati.
Saat ditemui wartawan di kediamannya, Febri memang tidak mempertontonkan kebiasaanya. Dia enggan mempraktikkannya karena sedang menjalani ibadah puasa. “Kalau sudah tiba waktu buka mau,” ujarnya lirih. (Sumber: www.jurnalbesuki.com) Selengkapnya.....
Label:
aneh,
gaya hidup,
peristiwa
Rabu, 24 Maret 2010
Menghidupkan Kembali Kesenian Ditengah Keterhimpitan

Kesenian rakyat bernama Takbuta’an (buto-butoan/ondel-ondel) juga lahir dan berkembang di Jember. Diyakini sebagai alat untuk menolak bala (musibah-red), tarian dengan menggunakan tak-buta’an lahir sebagai sebuah kreatifitas masyarakat disebuah desa Kamal Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
Sebelum tersingkir oleh permainan modern, Takbuta’an yang dibuat dari bahan berbasis kertas dengan rangka bamboo itu selalu muncul ketika disebuah desa terjadi sesuatu yang meresahkan kehidupan masyarakat, seperti wabah penyakit atau bila sedang gagal panen. Namun seiring perkembangan jaman, keberadaan seni khas rakyat pinggrian Jember it terus meredup dan hampir punah.
Menurut Andiyanto, Ketua Pecinta Seni Takbuta’an, tarian khas itu memang cirri khas masyarakat Jember utara. “Kemunculannya tidak sembarangan waktu, hanya pada saat masyarakat melakukan selamatan tolak bala, maka tarian Takbuta’an dilakukan,”ujarny menceritakan.
Sebagai sebuah warisan leluhur, Andiyanto dan teman-temannya terus berupaya agar keseian tradisional itu bisa bertahan dari waktu ke waktu. Andi mengaku bersyukur karena kemarin lusa, ketika ada Bedah Potensi Desa yang dipusatkan di Kecamatan Arjasa, kesenian Takbuta’an diperbolehkan tampil untuk menunjukkan eksistensi.
“Kami senang, karena bisa tampil langsung dihadapan Bapak Bupati Jember dan rombongannya. Sungguh, saya berharap, kesenian ini bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah Kabupaten agar bisa bertahan hidup,”ujar Andiyanto kemarin.
Takbuta’an akan menjadi bagian dari sederet perbendaharaan seni budaya masyarakat Jember asli. Jika perhatian dari pemerintah bisa didapatkan, Andi optimis kesenian yang nyaris punah itu akan bisa dibangkitkan kembali dan berjaya.
Harapan Andiyanto juga diamini oleh Kepala Desa Kamal, Kusnadi. Seni Takbuta’an hanya akan berkembang dan bertahan ditengah perkembangan seni budaya baru jika pemerintah memberikan dorongan dan dukungan yang cukup. “Sangat eman jika kesenian warisan nenek moyang ini dibiarkan mati dan tidak dikenal anak cucu,”terangnya.
Kusnadi. menyampaikan kesenian tak butak’an ini merupakan warisan budaya yang sama halnya dengan kesenian-kesenian lain seperti ludruk suroboyoan, gandrung banyuwangi, dan can macanan katdukyang juga milik khas masyarakat Jember.
Untuk menjaga kelangsungan kesenian itu, Kusnadi mengaku banyak melakukan loby kepada masyarakat diberbagai padukuhannya agar menyisipkan acara berisi tarian Takbuta’an jika memiliki hajatan atau acara yang melibatkan orang banyak. “Dengan cara ini, saya berharap agar kesenian ini semakin dikenal dan digemari masyarakat,”ungkap Kusnadi.
Kusnadi membayangkan, jika berbagai lembaga pemerintahan di lingkungan Pemkab Jember memanfaatkan keberadaan kesenian Takbuta’an sebagai salah satu elemen acara yang digelar, maka dalam waktu tidak lama, seni tari Takbuta’an akan bisa kembali menyebar dan dikenal akrab masyarakat. (Ahmad Hasan Halim)
Selengkapnya.....
Minggu, 21 Maret 2010
Guntur Ariyadi Kritik JFC

Jember Fashion Carnaval (JFC) yang digagas Dynand Fariz sudah membuat nama Jember berkilau di tingkat nasional, bahkan internasional. Namun JFC masih mendapat kritikan dari Guntur Ariyadi, mantan Kepala Kepolisian Daerah Maluku yang tengah mencalonkan diri sebagai bupati Jember.
Guntur mengatakan, akhir-akhir ini dunia seni dan budaya Jember kembali menggeliat dengan adanya Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) yang menampilkan JFC. "Namun, hal ini disayangkan, event ini masih menonjolkan pertunjukan yang kurang berakar pada kesenian dan kebudayaan asli Jember, sehingga seni dan budaya asli Jember belum menjadi ikon utama," paparnya, dalam seminar 'Menuju Jember Makmur' di aula kantor Palang Merah Indonesia, Minggu (21/3/2010).
Secara umum, Guntur melihat, Jember memiliki potensi wisata yang luar biasa. Potensi wisata alam Jember belum tentu dimiliki semua daerah. "Belum lagi ditambah wisata rekreasi seperti Jember Fashion Carnaval dan wisata lori tua," katanya.
Guntur memandang, pembangunan wisata di Jember masih mandeg, karena belum bisa menarik wisatawan seoptimal mungkin. Oleh karena itu, potensi-potensi wisata yang ada dapat dikembangkan dengan membenahi pengelolaan agar lebih profesional. Selain itu, perlu ada penambahan fasilitas secara bertahap.
"Promosi yang lebih efektif juga dapat dilakukan saat digelar even Bulan Berkunjung ke Jember, saat di mana wisatawan banyak kerkunjung ke Jember. Suatu paket wisata yang tertata dan terjadwal dapat ditawarkan," kata Guntur.
Guntur berpendapat, harus ada peningkatan dan penanaman kembali kebudayaan tradisional sebagai salah satu aset wisata. "Hal ini dapat ditempuh dengan menampilkan kebudayaan tradisional Jember di even Jember Fashion Carnaval, sehingga wisatawan tak hanya terhibur, namun juga dapat melihat budaya khas Kabupaten Jember seperti ludruk, hadrah, musik patrol, dan tari-tari tradisional Jember," katanya.
Fesyen menempatkan Jember dalam peta dunia. Boleh jadi kalimat itu berlebihan. Namun tidak berlebihan kalau dikatakan, berkat pentas fesyen seperti Jember Fashion Carnaval (JFC), nama kota terbesar ketiga di Jawa Timur ini mulai dikenal orang. Perhelatan Jember Fashion Carnaval sudah memasuki tahun ke-9, dan digelar setiap bulan Agustus.
Catwalk JFC adalah jalanan sepanjang kurang lebih 4 kilometer dari alun-alun hingga Gelanggang Olahraga Kaliwates. Tahun-tahun sebelumnya, ratusan ribu warga Jember tumplek blek di sekujur jalan protokol yang ditutup sementara, karena ingin menyaksikan peragaan busana tersebut. (sumber: www.jurnalbesuki.com)
Selengkapnya.....
Minggu, 07 Maret 2010
ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA OBAT HIV/AIDS DITEMUKAN

Kabar baik bagi umat manusia. Ilmuwan mengajukan cara radikal untuk memerangi penyakit itu, dengan pemberian obat anti-retroviral yang dapat membasmi AIDS dalam 40 tahun.
Sebuah program agresif yang meresepkan pengobatan anti-retroviral (ART) pada setiap orang yang terinfeksi HIV, bisa menghentikan semua infeksi baru dalam lima tahun dan akhirnya menghapus epidemi. Demikian diungkapkan Dr Brian Williams dari Pusat Pemodelan dan Analisis Epidemiologi di Afrika Selatan, kemarin.
Dr Williams adalah bagian dari pakar perkembangan tubuh yang percaya bahwa obat anti-HIV mungkin adalah harapan terbaik untuk mencegah bahkan menghilangkan penyebaran AIDS. Sebaliknya ia menolak pilihan menunggu pengembangan vaksin yang dinilai efektif, atau hanya mengandalkan agar orang-orang mengubah gaya hidup seksualnya.
Gagasan itu akan diuji tahun depan, diawali percobaan klinis terkontrol melibatkan ribuan orang yang tinggal di sebuah bagian Afrika Selatan dengan insiden HIV dan AIDS yang tinggi. Dr Williams mengatakan upaya itu akan diikuti dengan percobaan serupa di Amerika Serikat, di mana HIV merajalela di beberapa kota.
"Harapan tercepat kami dengan menggunakan ART tidak hanya untuk menyelamatkan nyawa, tetapi juga untuk mengurangi penularan HIV. Saya percaya kalau kita menggunakan obat ART secara efektif, bisa menghentikan penularan HIV dalam lima tahun," kata Dr Williams.
"ART memungkinkan menghentikan penularan HIV dan AIDS, mengurangi penderita berkaitan AIDS hingga setengah dalam kurun waktu 10 tahun dan menghilangkan infeksi dalam waktu 40 tahun," katanya kepada Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan di San Diego, California.
Anti-retroviral secara dramatis menurunkan konsentrasi HIV dalam aliran darah seseorang, selain melindungi pasien terhadap AIDS. Obat itu secara signifikan mengurangi penularan antar individu.
Dr Williams dan para pendukungnya percaya, jika orang yang terinfeksi sudah cukup banyak yang dirawat, akan menurunkan tingkat infeksi sehingga epidemi akan mati. Ia yakin AIDS secara efektif dapat dihapuskan pada pertengahan abad ini.
"Masalahnya adalah bahwa kita menggunakan obat untuk menyelamatkan nyawa, tetapi tidak menggunakan untuk menghentikan penularan," kata Dr Williams.
Memblokir penularan hanya dapat dilakukan dengan pengujian yang ekstensif diikuti pengobatan cepat menggunakan obat anti-retroviral bagi setiap orang yang ditemukan mengidap HIV positif.
"Konsentrasi virus turun 10.000 kali [dengan ART] ... yang berarti 25 kali lipat mengurangi penularan. Tetapi jika Anda melakukan hal itu, akan cukup dasar untuk menghentikan penularan secara total," katanya.
Sebuah studi yang diterbitkan di 2008 menunjukkan bahwa secara teori ART dapat mengurangi kasus HIV baru hingga 95%, dari prevalensi 20 per 1.000 menjadi 1 per 1.000, dalam 10 tahun pelaksanaan program pengujian universal dan resep obat ART.
Obat ART harus diminum setiap hari seumur hidup dan biaya untuk Afrika Selatan sendiri akan menjadi sekitar US$4 miliar per tahun. Namun Dr Williams mengatakan biaya untuk mengobati jumlah pasien AIDS yang meningkat, serta biaya ekonomi remaja yang mati muda akan lebih tinggi daripada memberikan obat ART gratis kepada semua orang yang membutuhkan.
"Kunci masalah biaya adalah bahwa jika Anda tidak melakukan apa pun, biayanya lebih besar. Lebih penting lagi, kita membunuh orang muda di kehidupan utama mereka, ketika mereka harusnya memberikan kontribusi pada masyarakat,” kata Dr Williams. (www.jurnalbesuki.com)
Selengkapnya.....
Sabtu, 06 Maret 2010
Sejarah Singkat 'Thomas Alva Edison'

Thomas Alva Edison adalah penemu dari Amerika dan merupakan satu dari penemu terbesar sepanjang sejarah. Ia lahir di Milan, Ohio, Amerika Serikat. Pada masa kecilnya di Amerika Serikat,Edison selalu mendapat nilai buruk di sekolahnya. Oleh karena itu ibunya memberhentikannya dari sekolah dan mengajar sendiri di rumah.
Di rumah dengan leluasa Edison kecil dapat membaca buku-buku ilmiah dewasa dan mulai mengadakan berbagai percobaan ilmiah sendiri. Pada Usia 12 tahun ia mulai bekerja sebagai penjual koran, buah-buahan dan gula-gula di kereta api. Kemudian ia menjadi operator telegraf, Ia pindah dari satu kota ke kota lain.
Di New York ia diminta untuk menjadi kepala mesin telegraf yang penting. Mesin-mesin itu mengirimkan berita bisnis ke seluruh perusahaan terkemuka di New York.
Selama karirnya, Thomas Alva Edison telah mempatentkan sekitar dari 1.093 hasil penemuannya, termasuk bola lampu listrik dan gramophone, juga kamera film. Ketiga penemuannya membangkitkan industri-industri besar bagi industri listrik, rekaman dan film yang akhirnya mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Dia juga dikenal sebagai penemu yang menerapkan prinsip 'produksi massal' bagi penemuan-penemuannya.
Bola lampu pertama
Edison sendiri memperoleh keahliannya dalam bidang kelistrikan dan telegraphy (telegraph untuk komunikasi) pada usia belasan tahun. Pada tahun 1868, di usia 21 tahun, dia telah mengembangkan dan mempatentkan penemuannya yang berupa sebuah mesin yang merekam telegraph.
Dimasa kecilnya, Edison hanya bersekolah di sekolah yang resmi selama tiga bulan, selanjutnya semua pendidikannya diperoleh dari ibunya yang mengajar Edison di rumah. Ibu Edison mengajarkan Edison cara membaca, menulis, dan matematika.
Dia juga sering memberi dan membacakan buku-buku bagi Edison, antara lain buku-buku yang berasal dari penulis seperti Edward Gibbon, William Shakespeare dan Charles Dickens.
Edison di usia 12 tahun, memperoleh penghasilan dengan cara bekerja menjual koran dan surat kabar, buah apel, serta gula-gula di sebuah jalur kereta api. Di usia itu pula, Edison hampir mengalami kehilangan seluruh pendengaran karena penyakit yang dideritanya, penyakit itu membuatnya menjadi setengah tuli. Edison pernah menulis dalam diarinya: "Saya tidak pernah mendengar burung bernyanyi sejak saya berusia 12 tahun."
Pada usia 15 tahun, Edison, sambil tetap berjualan, membeli sebuah mesin cetak kecil bekas yang selanjutnya dipasang pada sebuah bagasi mobil. Kemudian dia mencetak korannya sendiri, WEEKLY HERALD, yang di cetak, diedit dan dijualnya di tempat dia berjualan.
Pada musim panas 1862, Edison menyelamatkan seorang anak berusia tiga tahun yang hampir di tabrak oleh mobil. Ayah dari anak yang diselamatkan adalah kepala stasiun kereta api di tempatnya berjualan. Dan sebagai rasa terima kasih, kepala stasiun tersebut mengajari Edison cara menggunakan telegraph. Setelah 5 bulan mempelajari telegraph, Edison bekerja sebagai ahli telegraph selama 4 tahun. Hampir semua gaji yang didapatnya dihabiskan dengan membangun berbagai macam laboratorium dan peralatan listrik.
Edison sangat senang mempelajari sesuatu dan membaca buku-buku yang ada. Dari semua yang dipelajarinya, Edison menerapkan pelajaran tersebut dengan cara bereksperimen di laboratorium kecilnya. Edison tinggal di laboratoriumnya, hanya tidur 4 jam sehari, dan makan dari makanan yang dibawa oleh asistennya ke laboratoriumnya. Edison melakukan percobaan dan eksperimen terus menerus hingga penemuan-penemuannya menjadi sempurna. Mungkin kata yang cocok untuk menggambarkan kepandaian Edison adalah: "Genius adalah 99% kerja keras"
Pada tahun 1870 ia menemukan mesin telegraf yang lebih baik. Mesin-mesinnya dapat mencetak pesan-pesan di atas pita kertas yang panjang. Uang yang dihasilkan dari penemuannya itu cukup untuk mendirikan perusahaan sendiri. Pada tahun 1874 ia pindah ke Menlo Park, New Jersey. Disana ia membuat sebuah bengkel ilmiah yang besar dan yang pertama di dunia. Setelah itu ia banyak melakukan penemuan-penemuan yang penting. Pada tahun 1877 ia menemukan Gramofon. Dalam tahun 1879 ia berhasil menemukan lampu listrik kemudia ia juga menemukan proyektor untuk film-film kecil.
Tahun 1882 ia memasang lampu-lampu listrik di jalan-jalan dan rumah-rumah sejauh satu kilometer di kota New York. Hal ini adalah pertama kalinya di dunia lampu listrik di pakai di jalan-jalan. Pada tahun 1890, ia mendirikan perusahaan General Electric.
Edison dipandang sebagai salah seorang pencipta paling produktif pada masanya, memegang rekor 1.093 paten atas namanya. Ia juga banyak membantu dalam bidang pertahanan pemerintahan Amerika Serikat. Beberapa penelitiannya antara lain : mendeteksi pesawat terbang, menghancurkan periskop dengan senjata mesin, mendeteksi kapal selam, menghentikan torpedo dengan jaring, menaikkan kekuatan torpedo, kapal kamuflase, dan masih banyak lagi.
Ia meninggal pada usianya yang ke-84, pada hari ulang tahun penemuannya yang terkenal, bola lampu modern. (gush-satya.blogspot.com)
Selengkapnya.....
Kamis, 25 Februari 2010
Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW; Memekarkan Bunga Cinta Yang Agung

Pada tiap-tiap tanggal 12 Bulan Rabul Awal sebagian besar kaum muslim sudah terbiasa memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut Maulid Nabi atau Maulud saja. Umumnya kaum muslim menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji, pengajian dan bahkan disemarakkan dengan permainan gamelan.
Terdapat perbedaan pendapat dikalangan kaum muslim seputar sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebagian menyatakan sejarah perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Pahlawan Islam Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem.
Sebagian yang lain menyatakan bahwa perayaan maulid mulai diperingati abad IV Hijriyah oleh dinasti Fathimiyyah di Mesir dengan rajanya bernama Al Muiz Lidinillah, yang membuat enam perayaan hari lahir sekaligus; hari lahir Nabi, hari lahir Ali bin Abi Thalib, hari lahir Fatimah, hari lahir Hasan, hari lahir Husein dan hari lahir raja yang berkuasa.
Tulisan ini tidak hendak memperpanjang perdebatan seputar sejarah maulid Nabi, juga tidak dimaksudkan untuk mematahkan pendapat salah satu golongan yang berbeda tersebut. Tulisan ini merupakan rangkaian bisikan hati saya ketika mendengar nama Rasulullah Muhammad disebut.
Aduhai…., bagaimanakah cara saya melukiskan kepribadian sempurna nan elok milik kekasih Allah itu? Sungguh, kata-kata yang saya miliki sangat terbatas untuk mengungkapkan kebesaran dan kemuliaannya. Mengenang kisah hidupnya tidak jarang buliran air mata menetes disudut pipi.
Betapa agung pengorbanan Rasulullah dalam kesendirian berjuang membawa cahaya Islam ditengah kegelapan masyarakat jahiliyah hingga terbentuk peradaban Islam yang cemerlang. Betapa mulia perjuangan Rasulullah merubah masyarakat arab yang bodoh menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia. Betapa indah tutur kata Rasulullah yang mampu merubah masyarakat yang tidak memahami bahasa selain bahasa perang menjadi masyarakat yang satu laksana bangunan yang rapi.
Ranjau-ranjau kehidupan Rasulullah singkirkan, gelapnya jalan kehidupan Rasulullah jadikan terang agar mudah dilalui umatnya. Pahit getir perjuangan telah Rasulullah lakukan, pengorbanan yang maha besar sudah Rasulullah persembahkan. Jika kasih ibu laksana sang surya menyinari dunia, hanya memberi tak harap kembali, maka Rasulullah adalah cahaya diatas cahaya. Allah tidak menciptakan dunia beserta isinya jika tidak menciptakan Rasulullah Muhammad, begitulah firman Allah dalam suatu hadis Qudsi. Allah hamparkan bumi dari Timur ke Barat untuk Rasulullah, dan Rasulullah memohon kepada Allah untuk mempersembahkan semua kepada umatnya. Sungguh nyata keagungan cinta Rasulullah kepada umatnya. Menyakitkan Rasul apa yang menyakitkan umatnya, gelisah Rasul apa yang menggelisahkan umatnya.
Maulid Nabi pertama kali yang digelar Salahuddin Al Ayyubi kiranya merupakan salah satu cara untuk menyambut keagungan cinta Rasulullah, agar kaum muslim senantiasa ingat terhadap perjuangan Rasulullah yang maha dahsyat. Perjuangan totalitas yang tidak kenal lelah, perjuangan yang tidak satupun manusia sanggup menandingi baik proses maupun hasilnya. Dan sejarah bercerita bahwa apa yang dilakukan Salahuddin berhasil. Benteng Yerusalem berhasil direbut oleh kaum muslim; orang-orang Kristen Eropa berhasil dipecundangi kemudian dipulangkan baik-baik ke kampung halamannya.
Tentu saja kemenangan gemilang yang diraih Salahuddin dan kaum muslim yang berjuang ketika itu bukan karena perayaan Maulid-nya akan tetapi disebabkan oleh pertolongan Allah lantaran kecintaan kaum muslim kepada Rasulnya. Kecintaan untuk berjihad layaknya Rasul dan sahabat, kecintaan terhadap ajaran-ajarannya serta harap akan perjumpaan dengannya.
Perayaan maulid hanyalah sebatas charger yang boleh dipakai untuk membuat api cinta kaum muslim terhadap Rasul semakin membara, disamping charger lain yang lebih utama seperti mengerjakan semua amalan sunnah dan amalan wajib. Jadi, esensi perayaan maulid Nabi adalah memunculkan kecintaan untuk melanjutkan perjuangan yang sudah dilakukan Rasulullah. Jika perayaan maulid Nabi hanya sebatas perayaan kosong tanpa makna tidaklah berbeda antara hari ketika Maulid Nabi dirayakan dengan hari-hari yang lain. Tetapi apabila dihari maulid kecintaan kepada Nabi bisa semakin merekah, tentunya dihari-hari yang lain bunga cinta itu juga harus dimekarkan. Sebab ketaatan kepada Nabi bukanlah dihari lahirnya saja akan tetapi disetiap detik kehidupan begitu juga mengenang Nabi bukan saja dihari kelahirannya saja akan tetapi sepanjang hayat masih dikandung badan.
Allah SWT sudah menolong Salahuddin Al Ayyubi meluluhlantakkan kaum Kristen Eropa maka Allah juga akan menolong kita meluluhlantakkan sistem kufur yang sudah menyengsarakan dunia untuk diganti dengan sistem Islam. Tentunya apabila kita melakukan perjuangan yang sama gigihnya dengan perjuangan Salahuddin serta mencintai Rasulullah seperti Salahuddin. Jika wujud keagungan cinta Salahuddin kepada Rasulullah adalah perjuangan totalitas yang tidak kenal lelah mengibarkan panji kemenangan dimedan pertempuran dengan senjata pedang. Maka wujud keagungan cinta kita kepada Rasulullah adalah perjuangan totalitas dan tidak kenal lelah mengibarkan panji Islam dimedan pertempuran Ideologis. Mereka yang seluruh gerak hidupnya, pemikiran dan perasaannya serta matinya untuk kepentingan Ideologi Islam, mereka itulah yang memekarkan bunga cinta yang agung kepada Rasulullah. (jurnalbesuki.com). Selengkapnya.....
Minggu, 14 Februari 2010
Andi Soraya, Mantan Mujahidah di Pusaran Film Pengumbar Aurat

Andi Soraya adalah sebuah anomali: ia pernah begitu 'perkasa' sebagai kader perjuangan (baca: mujahidah) yang bercita-cita mentegakkan syariat Islam, tapi kini disebut-sebut sebagai salah satu artis panas, yang memerankan berbagai adegan 'panas' dalam beberapa film yang ia bintangi. Setelah film komedi Anda Puas Saya Loyo, kini nama Andi Soraya atau akrab disapa Aya dikaitkan dengan sebuah adegan panas terbarunya dalam sebuah thriller film berjudul "Hantu Puncak Datang Bulan". Atas portofolionya di layar lebar itu, bahkan, sebuah ormas menjuluki ia sebagai "Miyabi dari Indonesia".
Di era pertengahan 1990-an hingga awal tahun 2001, ia adalah salah seorang perempuan tangguh di komunitas Negara Islam Indonesia faksi Zaytun. Aya, yang ketika itu bersuamikan seorang masĂșl (aparat) NII-Zaytun tingkat onder district/kecamatan/Ibrahim, dikenal sebagai seorang kader jaringan sel Cilandak-Jakarta Selatan. Di masa itu, nama Aya disebut-sebut sebagai kader yang mampu menjadi jembatan bagi perekrutan beberapa artis terkenal menjadi kader NII-Zaytun, seperti Dewi Sandra, Surya Saputra, Indra Brasco, Mona Ratuliu, Tia Ivanka, Ersa Mayori, Vivit Kavi, dan lain-lain.
Aya, yang ketika itu lebih dikenal sebagai model beberapa iklan komersial punya pergaulan luas di kalangan artis. Status ia sebagai istri (qarinah) seorang aparat di gerakan itu kemudian menjadi strategis dalam upaya merekrut kalangan artis dan model, yang tentu saja juga potensial dari sisi kemampuan finansial. Kata seorang teman, yang secara langsung pernah menjadi pembina Aya, perempuan ayu berdarah Libanon ini merupakan jamaah perempuan pertama di Distrik Cilandak yang berasal dari kalangan model dan artis. "Aya adalah anak binaan kami, yang menjadi pintu masuk bagi perekrutan artis-artis lain," kata BM, yang kini juga sudah tidak lagi bergabung dengan jaringan NII-Zaytun.
Memang, tak ada kaitan langsung antara karir Aya sebagai bintang film yang cukup berani melakukan adegan berkonotasi ponografi dengan kisah keterlibatannya di jaringan NII-Zaytun. Sejak bercerai dengan mantan suaminya, yang kader NII itu, Aya terkesan kejar target. Kisah "kumpul kebo"-nya dengan Steve Emmanuel merupakan titik balik citra dirinya yang sama sekali kontras dengan portofolionya di NII. Tak ada yang tahu pasti kenapa Aya kemudian memilih jalan hidup yang sangat bertolak belakang dengan masa lalunya dua puluh tahun silam itu. Hanya ia dan DIA yang tahu.
Selengkapnya.....
Sejarah Hari Valentine
Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya, terutama di Dunia Barat.
Asal muasalnya, konon hari Velentine adalah merupakan salah satu hari raya Katolik Roma. Hari raya ini sama sekali tidak diasosiasikan dengan “cinta yang romantis” seperti konsep “Hari Valentine” masa kini.
Sekarang ini hari Valentine terutama diasosiasikan dengan saling bertukar “pernyataan cinta romantis” dalam bentuk simbol modern Valentine antara lain sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sosok “Cupido-/-Dewi Asmara” (Inggris: cupid) bersayap.
Mulai abad ke-19, tradisi penulisan pernyataan cinta ini mendorong timbulnya produksi kartu ucapan secara massal. Asosiasi Kartu Ucapan AS (The Greeting Card Association) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar 1 milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari Valentine ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an , industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah hubungan serius. Sebenarnya hari Valentine itu merupakan hari cinta kasih, jadi bukan hanya cinta kepada pacar atau kekasih. Hari Valentine merupakan hari raya dalam soal cinta kasih namun bukan berarti selain hari Valentine tidak ada cinta kasih.
Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan cinta antar pacar pada hari Valentine yang dimpor dari AS ini mulai bermunculan. Budaya ini cenderung menjadi populer dan konsumtif karena perayaan hari valentine ini lebih banyak didorong oleh promosi para penjual barang-barang yang terkait dengan hari Valentine seperti kartu ucapan cinta, kotak coklat, perhiasan dan boneka di pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja). Hal ini terutama banyak terjadi di kota-kota besar di Indonesia yang marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan hari Valentine. Jadi sifatnya sudah sangat komersil tanpa disadari oleh para “penganut” hari Valentine bahwa mereka telah dimanfaatkan untuk dikeruk uangnya.
Sejarah nama Valentine (Valentinus)
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk 3 martir atau santo (orang suci) yang berbeda :
Seorang pastur di Roma
Seorang uskup Interamna (modern Terni)
Seorang martir di provinsi Romawi Africa.
Hubungan antara ke 3 martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini. Namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam “Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus” dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian diletakkan dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja “Whitefriar Street Carmelite Church” di Dublin, Irlandia.. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi yang khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya Valentine ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya masih di pertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.
Hari Valentine pada era modern
Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya (Inggris), negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worceste, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”).
Selengkapnya.....
Asal muasalnya, konon hari Velentine adalah merupakan salah satu hari raya Katolik Roma. Hari raya ini sama sekali tidak diasosiasikan dengan “cinta yang romantis” seperti konsep “Hari Valentine” masa kini.
Sekarang ini hari Valentine terutama diasosiasikan dengan saling bertukar “pernyataan cinta romantis” dalam bentuk simbol modern Valentine antara lain sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sosok “Cupido-/-Dewi Asmara” (Inggris: cupid) bersayap.
Mulai abad ke-19, tradisi penulisan pernyataan cinta ini mendorong timbulnya produksi kartu ucapan secara massal. Asosiasi Kartu Ucapan AS (The Greeting Card Association) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar 1 milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari Valentine ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an , industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah hubungan serius. Sebenarnya hari Valentine itu merupakan hari cinta kasih, jadi bukan hanya cinta kepada pacar atau kekasih. Hari Valentine merupakan hari raya dalam soal cinta kasih namun bukan berarti selain hari Valentine tidak ada cinta kasih.
Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan cinta antar pacar pada hari Valentine yang dimpor dari AS ini mulai bermunculan. Budaya ini cenderung menjadi populer dan konsumtif karena perayaan hari valentine ini lebih banyak didorong oleh promosi para penjual barang-barang yang terkait dengan hari Valentine seperti kartu ucapan cinta, kotak coklat, perhiasan dan boneka di pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja). Hal ini terutama banyak terjadi di kota-kota besar di Indonesia yang marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan hari Valentine. Jadi sifatnya sudah sangat komersil tanpa disadari oleh para “penganut” hari Valentine bahwa mereka telah dimanfaatkan untuk dikeruk uangnya.
Sejarah nama Valentine (Valentinus)
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk 3 martir atau santo (orang suci) yang berbeda :
Seorang pastur di Roma
Seorang uskup Interamna (modern Terni)
Seorang martir di provinsi Romawi Africa.
Hubungan antara ke 3 martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini. Namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam “Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus” dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian diletakkan dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja “Whitefriar Street Carmelite Church” di Dublin, Irlandia.. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi yang khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya Valentine ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya masih di pertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.
Hari Valentine pada era modern
Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya (Inggris), negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worceste, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”).
Selengkapnya.....
Kingkong 'Jejadian' Gemparkan Warga

Seekor Kingkong yang diduga 'Jelmaan Mahluk Halus' berhasil ditangkap warga setelah beberapa waktu membuat warga sekitar Desa Pakis Kecamatan Panti Jember geger dan resah oleh tindak tanduk mahluk aneh menyeramkan itu.
Mahluk mengerikan itu berhasil ditangkap warga setelah puluhan warga melakukan pengepungan hingga tengah malam (jum'at, 12/02). Warga melakukan upaya penangkapan karena kera besar itu selalu mengganggu warga bahkan melukai karena selalu menggigit. Namun warga yang mendengar kejadian itu, langsung mendatangi pelataran kantor balai desa karena penasaran.
Sayangnya, tidak lama setelah berhasil diringkus, Kingkong tersebut tewas dalam perjalanan menuju balai desa Pakis.
Informasi yang diperoleh dari beberapa warga menyebutkan, Kingkong itu diduga merupakan jelmaan mahluk halus karena selalu mengganggu warga ketika hari menjelang gelap. "Selalu menjelang maghrib kejadiannya. Dan yang diganggu adalah para pengendara motor,"ujar Samiun seorang warga menerangkan, tadi pagi.
Hampir setiap warga yang melintas dijalan ketika menjelang maghrib, tiba-tiba kingkong itu melompat dan memeluk pengendara sepeda dari belakang. "Kemudian kingkong itu menggigit. Beberapa warga sini (Desa Pakis-red) terpaksa harus menjalani perawatan dirumah sakit akibat gigitan,"tambah Samiun.
Rencananya, sore ini, Sabtu (13/02), Kingkong yang telah tewas itu akan dikuburkan oleh warga.
Sementara, kemunculan mahluk aneh itu menimbulkan isu dan rumor lain yang bersifat mistis. Beberapa warga yang tidak mau disebut namanya menyatakan bahwa Kingkong itu adalah penjelmaan seseorang kaya yang telah meninggal.
Selama Hidupnya, orang itu dikabarkan pernah tinggal di Bali dan mempelajari ilmu ghaib. Tidak diketahui penyebabnya, tiba-tiba orang itu meninggal dan tidak beberapa lama, muncullah kingkong itu.
Selengkapnya.....
Wahai Rakyat, Siapkan Telor Busuk pada 2 Maret 2010
Akhir drama Centurygate tinggal beberapa hari lagi. Agendanya, 17 Februari besok Pansus akan membuat simpulan akhir dan hasilnya akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR pada 2 Maret 2010. Guna mengawal hasil akhir pansus, anggota Pansus Century dari Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo menyerukan masyarakat untuk menyiapkan telor busuk pada 2 Maret tersebut.
"Silakan datang ke DPR dengan membawa telor busuk. Lalu, sambitlah mobil-mobil para anggota dengan telor busuk jika mereka membelok dari simpulan akhir Pansus," kata Bambang dalam diskusi Centurygate di Kampus Paramadina, Jalan Gatot Soebroto, Sabtu (13/2/2010).
Seruan tersebut untuk mengawal putusan sementara Pansus Century dengan skor 7:2. Guna mencegah perubahan skor, Bambang berharap peran aktif masyarakat untuk turun ke jalan pada 2 Maret.
"Nanti kan ketahuan di Paripurna, siapa saja yang berubah dan membelot," tambahnya.
Terkait perubahan suara, Partai Golkar mengaku takkan berubah. Meski banyak
gerilya politik, dari penangkapan petinggi politik dengan kasus korupsi, isu
mengemplang pajak hingga penawaran jabatan, Partai Golkar tetap yakin jika
bailout century melanggar hukum.
"Kita bisa lihat, siapa yang tiba-tiba ditangkap dan sebagainya. Kalau Golkar jelas, masalah pajak itu masalah murni bisnis," bebernya.
Seruan ini disambut oleh anggota Pansus lainnya, Ahmad Yani dari PPP dengan
dukungan aksi lempar telor busuk. Menurutnya, PP akan tetap bersikukuh dengan simpulan sementara, simpulan akhir dan sampai ke sidang Paripurna.
"Insya Allah PPP tetap dengan simpulan sementara,” pungkasnya
Selengkapnya.....
"Silakan datang ke DPR dengan membawa telor busuk. Lalu, sambitlah mobil-mobil para anggota dengan telor busuk jika mereka membelok dari simpulan akhir Pansus," kata Bambang dalam diskusi Centurygate di Kampus Paramadina, Jalan Gatot Soebroto, Sabtu (13/2/2010).
Seruan tersebut untuk mengawal putusan sementara Pansus Century dengan skor 7:2. Guna mencegah perubahan skor, Bambang berharap peran aktif masyarakat untuk turun ke jalan pada 2 Maret.
"Nanti kan ketahuan di Paripurna, siapa saja yang berubah dan membelot," tambahnya.
Terkait perubahan suara, Partai Golkar mengaku takkan berubah. Meski banyak
gerilya politik, dari penangkapan petinggi politik dengan kasus korupsi, isu
mengemplang pajak hingga penawaran jabatan, Partai Golkar tetap yakin jika
bailout century melanggar hukum.
"Kita bisa lihat, siapa yang tiba-tiba ditangkap dan sebagainya. Kalau Golkar jelas, masalah pajak itu masalah murni bisnis," bebernya.
Seruan ini disambut oleh anggota Pansus lainnya, Ahmad Yani dari PPP dengan
dukungan aksi lempar telor busuk. Menurutnya, PP akan tetap bersikukuh dengan simpulan sementara, simpulan akhir dan sampai ke sidang Paripurna.
"Insya Allah PPP tetap dengan simpulan sementara,” pungkasnya
Selengkapnya.....
Kohati Gelar Seminar Kesehatan Bagi Remaja
Banyuwangi (jurnalbesuki.com) - Sebanyak 160 remaja dari kalangan pelajar dan mahasiswa di Banyuwangi, Minggu (14/2) mengikuti acara seminar tentang Kesehatan Reproduksi Wanita yang digelar oleh Korp HMI Wati (Kohati) Banyuwangi. Acara yang digelar di Aula Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi dan menampilkan tiga orang pembicara itu banyak mengungkap tentang berbagai hal terkait dengan kesehatan reproduksi wanita.Ketua Panitia penyelenggara, Mu'awwanah, kepada jurnalbesuki.com menjelaskan, acara seminar ini sengaja digelar dalam rangka hari kasih sayang (Valentine day). “Biasanya, hari valentine seperti ini dirayakan oleh kaum remaja dengan hedonisme serta sex bebas. Tapi Kohati sebagai organisasi mahasiswa yang bergerak dibidang keperempuanan ingin memberikan kegiatan positif yang dipermak dalam sebuah pelatihan bertema remaja dan kesehatan. Dengan maksud, supaya memberikan solusi gaya hidup sehat bagi kalangan remaja modern,” jelas Muawwanah. Menurutnya, penting artinya bagi kalangan remaja untuk mengetahui dan memahami secara dini berbagai hal tentang kesehatan, khususnya menyangkut kesehatan reproduksi wanita. “Sebagai calon orang tua mereka juga harus memahami tentang kesehatan reproduksi.
Tiga pembicara yang ditampilkan dalam seminar tersebut yakni: Betty Kumala Febriawati, S.Psi yang mengupas tuntas tentang Perkembangan Psikologi Remaja, Direktur RSNU Banayuwangi, dr Taufik Hidayat, Sp.An., yang mengupas tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dan Hakim Pengadilan Agama Banyuwangi, Drs Nur Choszin Cholil yang membawakan tema tentang pernikahan usia dini. (jurnalbesuki.com)
Selengkapnya.....
Tiga pembicara yang ditampilkan dalam seminar tersebut yakni: Betty Kumala Febriawati, S.Psi yang mengupas tuntas tentang Perkembangan Psikologi Remaja, Direktur RSNU Banayuwangi, dr Taufik Hidayat, Sp.An., yang mengupas tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dan Hakim Pengadilan Agama Banyuwangi, Drs Nur Choszin Cholil yang membawakan tema tentang pernikahan usia dini. (jurnalbesuki.com)
Sabtu, 13 Februari 2010
Ada Insentif, Guru Madrasah Meningkat
Jember - Data guru madrasah diniyah (sekolah agama Islam) di Jawa Timur amburadul. Jumlah guru madrasah melonjak tiga kali lipat, begitu ada pendataan untuk pengucuran dana insentif Ro 250 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Amburadulnya data ini diakui Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, saat memberikan sambutan acara wisuda Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Falah Assunniyah (Staifas) Kencong
"Dari 26 ribu guru menjadi 86 ribu guru. Karena memang belum pernah didata secara resmi. Akhirnya agak 'kelabakan'," katanya.
Padahal, rencananya Pemprov hendak memberikan insentif untuk setiap guru madrasah diniyah Rp 600 ribu per bulan. Namun, gara-gara adanya pertambahan jumlah yang luar biasa, insentif akhirnya cuma Rp 300 ribu per bulan. Dana insentif ini berbagi dengan dana pemerintah kota/kabupaten (sharing).
Dari 38 kabupaten/kota, baru 18 kabupaten/kota yang siap memberikan dana sharing. Kabupaten/kota yang belum siap beralasan tidak dianggarkan. "Ya, sekuat apapun sharingnya, dana pemprov tetap (akan diberikan)," kata Gus Ipul. Namun, karena kemampuan sharing setiap daerah berbeda-beda, maka jumlah insentif yang diterima masing-masing guru di setiap daerah akan berbeda-beda.
Amburadulnya pendataan guru diniyah tak lepas dari minimnya perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan agama. "Dulu pondok tidak dianggap sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional," katanya.
Gus Ipul masih ingat bagaimana para kiai lulusan pondok pesantren besar sekalipun, seperti Lirboyo, kesulitan mendaftarkan diri menjadi calon legislator. Ini dikarenakan ijazah lulusan madrasah diniyah ponpes tak diakui. "Walau pun pandai dianggap bodoh. Maka, banyak yang mencari ijazah-ijazahan. Ketika menjadi anggota DPR menjadi masalah," katanya. (sumber : jurnalbesuki.com)
Selengkapnya.....
"Dari 26 ribu guru menjadi 86 ribu guru. Karena memang belum pernah didata secara resmi. Akhirnya agak 'kelabakan'," katanya.
Padahal, rencananya Pemprov hendak memberikan insentif untuk setiap guru madrasah diniyah Rp 600 ribu per bulan. Namun, gara-gara adanya pertambahan jumlah yang luar biasa, insentif akhirnya cuma Rp 300 ribu per bulan. Dana insentif ini berbagi dengan dana pemerintah kota/kabupaten (sharing).
Dari 38 kabupaten/kota, baru 18 kabupaten/kota yang siap memberikan dana sharing. Kabupaten/kota yang belum siap beralasan tidak dianggarkan. "Ya, sekuat apapun sharingnya, dana pemprov tetap (akan diberikan)," kata Gus Ipul. Namun, karena kemampuan sharing setiap daerah berbeda-beda, maka jumlah insentif yang diterima masing-masing guru di setiap daerah akan berbeda-beda.
Amburadulnya pendataan guru diniyah tak lepas dari minimnya perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan agama. "Dulu pondok tidak dianggap sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional," katanya.
Gus Ipul masih ingat bagaimana para kiai lulusan pondok pesantren besar sekalipun, seperti Lirboyo, kesulitan mendaftarkan diri menjadi calon legislator. Ini dikarenakan ijazah lulusan madrasah diniyah ponpes tak diakui. "Walau pun pandai dianggap bodoh. Maka, banyak yang mencari ijazah-ijazahan. Ketika menjadi anggota DPR menjadi masalah," katanya. (sumber : jurnalbesuki.com)
Memalukan! Bu Guru dan Wartawan Mesum di Hotel
Banyuwangi - Memalukan! Kata itulah kiranya yang tepat bagi perbuatan oknum wartawan dan bu guru ini. Betapa tidak, keduanya tertangkap basah bermesum ria di sebuah kamar hotel, Kamis (11/2/2010). Padahal, keduanya sama-sama sudah berumah tangga. Yang lebih ironis, perbuatan itu dilakukan pada saat bu guru tersebut seharusnya berada di sekolah untuk mengajar.
Kedua orang tersebut adalah Mul (42), warga Desa Sukonatar, Kecamatan Srono. Sedangkan pasangan selingkuhnya bernama Is (40), ibu dua anak asal Desa Wonosobo, Kecamatan Srono. Is selama ini dikenal sebagai guru SD.
Penggerebekan dilakukan setelah polisi mendapat informasi dari warga. Kecurigaan berawal saat Is dibonceng motor masuk kamar hotel dengan mengenakan baju safari yang biasa digunakan untuk mengajar di sekolah. Apalagi pria yang memboncengnya diketahui bukan suami Is. Dari situlah semakin kuat dugaan kalau saat itu Is dan laki-laki itu hendak berselingkuh.
Aparat sempat kebingungan mencari kamar tempat keduanya check-in. Apalagi Mul ternyata memarkir motornya di dalam kamar hotel yang berlokasi di desa Jajag, kecamatan Gambiran itu.
Saat digerebek, Mul mengaku sebagai wartawan koran mingguan. “Ini kartu KTP dan kartu pers saya,” ucapnya. Is sendiri kala itu berada di kamar mandi. “Istri saya masih buang hajat,” kelit Mul kepada aparat dengan menyebut Is sebagai istrinya.
Kuat dugaan, ketika aparat datang melakukan penggerebekan keduanya baru saja melakukan hubungan badan. Itu terlihat dari tubuh keduanya yang mandi keringat. Ranjang kamar 07 tempat mereka menginap pun acak-acakkan. Polisi lalu membawa keduanya ke Mapolsek Gambiran.
Saat ditanya status hubungan mereka, baik Mul maupun Is menjawab sebagai suami istri. Keduanya mengaku telah menikah secara siri. Mul mengaku menjalin hubungan dengan Is sejak dua tahun lalu. Ketika diberitahu bahwa Is masih berstatus istri orang, Mul langsung menjawab, "Saya tahunya dia janda."
Beberapa jam kemudian, STK, suami Is datang ke Mapolsek Gambiran untuk memastikan perselingkuhan istrinya. Staf Dinas Perkebunan itu nampak shok melihat tingkah istrinya.
Kapolsek Gambiran, AKP Makruf menjelaskan bahwa Mul sudah pernah kepergok melakukan ulah serupa. “Dulu Mul pernah dihajar suami Is. Sekarang diulangi lagi,” terangnya. (disadur dari : jurnalbesuki.com)
Selengkapnya.....
Kedua orang tersebut adalah Mul (42), warga Desa Sukonatar, Kecamatan Srono. Sedangkan pasangan selingkuhnya bernama Is (40), ibu dua anak asal Desa Wonosobo, Kecamatan Srono. Is selama ini dikenal sebagai guru SD.
Penggerebekan dilakukan setelah polisi mendapat informasi dari warga. Kecurigaan berawal saat Is dibonceng motor masuk kamar hotel dengan mengenakan baju safari yang biasa digunakan untuk mengajar di sekolah. Apalagi pria yang memboncengnya diketahui bukan suami Is. Dari situlah semakin kuat dugaan kalau saat itu Is dan laki-laki itu hendak berselingkuh.
Aparat sempat kebingungan mencari kamar tempat keduanya check-in. Apalagi Mul ternyata memarkir motornya di dalam kamar hotel yang berlokasi di desa Jajag, kecamatan Gambiran itu.
Saat digerebek, Mul mengaku sebagai wartawan koran mingguan. “Ini kartu KTP dan kartu pers saya,” ucapnya. Is sendiri kala itu berada di kamar mandi. “Istri saya masih buang hajat,” kelit Mul kepada aparat dengan menyebut Is sebagai istrinya.
Kuat dugaan, ketika aparat datang melakukan penggerebekan keduanya baru saja melakukan hubungan badan. Itu terlihat dari tubuh keduanya yang mandi keringat. Ranjang kamar 07 tempat mereka menginap pun acak-acakkan. Polisi lalu membawa keduanya ke Mapolsek Gambiran.
Saat ditanya status hubungan mereka, baik Mul maupun Is menjawab sebagai suami istri. Keduanya mengaku telah menikah secara siri. Mul mengaku menjalin hubungan dengan Is sejak dua tahun lalu. Ketika diberitahu bahwa Is masih berstatus istri orang, Mul langsung menjawab, "Saya tahunya dia janda."
Beberapa jam kemudian, STK, suami Is datang ke Mapolsek Gambiran untuk memastikan perselingkuhan istrinya. Staf Dinas Perkebunan itu nampak shok melihat tingkah istrinya.
Kapolsek Gambiran, AKP Makruf menjelaskan bahwa Mul sudah pernah kepergok melakukan ulah serupa. “Dulu Mul pernah dihajar suami Is. Sekarang diulangi lagi,” terangnya. (disadur dari : jurnalbesuki.com)
Minggu, 01 November 2009
Pemkab Himbau PNS Tidak Menuntut Lauk Pauk
Pemerintah Kabupaten Jember kembali mengambil sikap tegas untuk tidak mengeluarkan Tunjangan Lauk Pauk bagi kalangn Pegawai Negeri Sipil Dilingkungannya. Dan untuk kesekian kalinya, Bupati Jember MZA Djalal menjelaskan alasan prinsip dalam mengambil kebijakan tesebut.
Kalau dilihat dari angka, nilai APBD Kabupaten Jember yang mencapai 1 trilyun lebih memang Nampak jauh diatas nilai APBD daerah lain. “Tetapi jumlah penduduk kita juga besar, mencapai 2,2 juta. Karenanya jangan membandingkan kondisi Jember dengan daerah lain,”ujar MZA Djalal ketika memberikan pengarahan disebuah acara di Mumbulsari.
Tahun 2010, kebijakan itu juga tidak berubah. Artinya tunjangan Lauk Pauk tetap tidak akan dicairkan. Para PNS diminta untuk memahami kondisi dan kebutuhan pembangunan untuk masyarakat. Sebab dari jumlah nilai APBD itu, yang terserap untuk pengeluaran gaji dan belanja rutin pegawai mencapai 60 persen. Jika dirupiahkan, pengeluaran itu mencapai Rp 850 milyar.
Dengan demikian sisa nilai APBD untuk dialokasikan pada pembangunan hanya tinggal 40 persen saja. “Jika sisa anggaran itu masih harus dikeluarkan lagi untuk memenuhi tunjangan Lauk Pauk, maka pembangunan untuk rakyat akan semakin sedikit. Kan kasihan rakyat,”terang Djalal.
Pencairan uang Lauk Pauk akan mengakibatkan jumlah pengeluaran rutin pemerintah untuk pegawai semakin membengkak. Jika hal itu dibiarkan, maka resikonya akan membuat perjalanan pembangunan dan pemerintah menjadi terkendala serius. “Kalau hak-hak pegawai ini dituruti maka pemkab tidak akan berjalan. Ada kecenderungan belanja pegawai ini terus naik,” tandas Djalal.
Djalal mengaku memang berkepentingan untuk memberikan penjelasan. Dia mengaku sering mendapat SMS yang mempertanyakan uang Lauk Pauk. “Kalau untuk Lauk Pauk, saya mohon maaf tidak bisa mengeluarkan,”katanya menjawab SMS yang masuk ke ponselnya.
Sementara, Kepala Bagian Humas Pemkab Jember, Drs Agoes Slameto, M.Si, menyetakan bahwa penjelasan yang disampaikan bupati untuk memjelaskan kepada semua pihak, utamanya kalangan PNS, bahwa uang LP tidak akan pernah ada atau dengan kata lain Pemkab Jember belum bisa meluluskan harapan kalangan pegawai itu. “Kalau uang LP diminta, mohon maaf saya belum bisa menuruti,” jelas Agoes, seraya menirukan pernyataan Bupati Djalal.
Kesulitan Pemkab Jember untuk memenuhi harapan kalangan pegawai negeri atas uang LP ini, mengingat keuangan untuk keperluan tersebut tidak tersedia. Terlebih lagi, dana yang dibutuhkan, terbilang cukup besar, bahkan bisa mengganggu program pembangunan.
Dijelaskan Agoes, uang LP yang banyak dipertanyakan kalangan pegawai ini memang perlu dijelaskan rinci, agar bisa dipahami bersama dan tidak menimbulkan persepsi macam-macam. Mengingat selama ini, kalangan pegawai, khususnya guru banyak yang menanyakan soal kapan uang tersebut akan dicairkan.“Ini memang perlu dijelaskan, agar saya tidak di sms terus. Ada yang menanyakan kapan LP cair, mengapa Jember tidak mencairkan LP padahal daerah lain sudah. Malahan ada yang mengatakan, kalau LP tidak dicairkan, saya tidak akan mendukung Pak Djalal (untuk Pilkada 2010),” ujar Agoes, yang lagi-lagi mengutip pernyataan yang disampaikan Bupati Djalal, pada acara Dialog Solutif di Kecamatan Mayang itu. (Ahmad Hasan Halim) Selengkapnya.....
Kalau dilihat dari angka, nilai APBD Kabupaten Jember yang mencapai 1 trilyun lebih memang Nampak jauh diatas nilai APBD daerah lain. “Tetapi jumlah penduduk kita juga besar, mencapai 2,2 juta. Karenanya jangan membandingkan kondisi Jember dengan daerah lain,”ujar MZA Djalal ketika memberikan pengarahan disebuah acara di Mumbulsari.
Tahun 2010, kebijakan itu juga tidak berubah. Artinya tunjangan Lauk Pauk tetap tidak akan dicairkan. Para PNS diminta untuk memahami kondisi dan kebutuhan pembangunan untuk masyarakat. Sebab dari jumlah nilai APBD itu, yang terserap untuk pengeluaran gaji dan belanja rutin pegawai mencapai 60 persen. Jika dirupiahkan, pengeluaran itu mencapai Rp 850 milyar.
Dengan demikian sisa nilai APBD untuk dialokasikan pada pembangunan hanya tinggal 40 persen saja. “Jika sisa anggaran itu masih harus dikeluarkan lagi untuk memenuhi tunjangan Lauk Pauk, maka pembangunan untuk rakyat akan semakin sedikit. Kan kasihan rakyat,”terang Djalal.
Pencairan uang Lauk Pauk akan mengakibatkan jumlah pengeluaran rutin pemerintah untuk pegawai semakin membengkak. Jika hal itu dibiarkan, maka resikonya akan membuat perjalanan pembangunan dan pemerintah menjadi terkendala serius. “Kalau hak-hak pegawai ini dituruti maka pemkab tidak akan berjalan. Ada kecenderungan belanja pegawai ini terus naik,” tandas Djalal.
Djalal mengaku memang berkepentingan untuk memberikan penjelasan. Dia mengaku sering mendapat SMS yang mempertanyakan uang Lauk Pauk. “Kalau untuk Lauk Pauk, saya mohon maaf tidak bisa mengeluarkan,”katanya menjawab SMS yang masuk ke ponselnya.
Sementara, Kepala Bagian Humas Pemkab Jember, Drs Agoes Slameto, M.Si, menyetakan bahwa penjelasan yang disampaikan bupati untuk memjelaskan kepada semua pihak, utamanya kalangan PNS, bahwa uang LP tidak akan pernah ada atau dengan kata lain Pemkab Jember belum bisa meluluskan harapan kalangan pegawai itu. “Kalau uang LP diminta, mohon maaf saya belum bisa menuruti,” jelas Agoes, seraya menirukan pernyataan Bupati Djalal.
Kesulitan Pemkab Jember untuk memenuhi harapan kalangan pegawai negeri atas uang LP ini, mengingat keuangan untuk keperluan tersebut tidak tersedia. Terlebih lagi, dana yang dibutuhkan, terbilang cukup besar, bahkan bisa mengganggu program pembangunan.
Dijelaskan Agoes, uang LP yang banyak dipertanyakan kalangan pegawai ini memang perlu dijelaskan rinci, agar bisa dipahami bersama dan tidak menimbulkan persepsi macam-macam. Mengingat selama ini, kalangan pegawai, khususnya guru banyak yang menanyakan soal kapan uang tersebut akan dicairkan.“Ini memang perlu dijelaskan, agar saya tidak di sms terus. Ada yang menanyakan kapan LP cair, mengapa Jember tidak mencairkan LP padahal daerah lain sudah. Malahan ada yang mengatakan, kalau LP tidak dicairkan, saya tidak akan mendukung Pak Djalal (untuk Pilkada 2010),” ujar Agoes, yang lagi-lagi mengutip pernyataan yang disampaikan Bupati Djalal, pada acara Dialog Solutif di Kecamatan Mayang itu. (Ahmad Hasan Halim) Selengkapnya.....
Kamis, 24 September 2009
Pembebasan dari Belenggu Lingkungan Sosial
Kalau dulu pengaruh buruk sering didentifikasi sebagai pengaruh yang datang dari luar, dari masyarakat lain atau dari kebudayaan lain, tetapi sekarang ini ketika situasi sosial telah sedemikian buruk, maka sistem tersebut dengan sendirinya telah memaksa manusia yang hidup di dalamnya untuk turut dalam derap sosial yang sedang menuju pada kenistaan. Dalam situasi begini maka bermasyarakt berarti juga berisiko menghadapi situasi buruk, karena semu teah terdorong untuk melakukan perbuatan nista, seperti mengajarkan kebencian, kerakusan, kekerasan dan sebagainya. Konsep uzlah bahkan hijrah yang dilakukan para Nabi berangkat dari situasi sosial seperti ini.
Menghadapi situasi zaman atau keadaan sosial yang sudah rusak seperti itu kalangan ulama Jawa mengajarkan apa yang disebut dengan topo ngeli (tetap bergaul tapi tidak larut) dengan harapan agar tidak tenggelam dalam kegelapan moral, sehingga tetap bisa menjaga norma agama dan norma sosial yang sehat. Bila orang sudah bisa mensikapi perkembangan sosial seperti itu maka dia disebut sebagai orang yang mati sajeruning urip (mati ketika masih hidup). Mampu menahan semoa godaan hidup sebagaimana dituntut oleh situasi sosial yang ada.
Puasa dalam Islam adalah sebagai upaya mengatasi berbagai problem sosial yang dihadapi terutama soal moral. Bagi orang kebanyakan yang masih pada taraf nafsu bahimiah (jiwa binatang), maka dengan keserakahannya akan sulit menahan godaan nafsu duniawi. Sebaliknya bagi orang yang telah mencapai nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang), akan mampu menghadapi godaan seberapapun beratnya, baik berupa harta maupun kekuasaan.
Kondisi sosial kita sekarang ini telah demikian buruk, di mana seluruh kehidupan telah diliberalisasi, sehingga hubungan antar masnuisa menjadi sedemikian renggang, masing-masing menjadi pesaing dari yang lain. Bersaing dalam memperoleh harta, bersaing memperebutkan pangkat dan kedudukan, bersaing mendapatkan ketenaran. Kesemuanya berujung pada satu tujuan yaitu harta. Persaingan itu ditempuh dengan cara menipu, menjegal berkhianat dan sebagainya. Inilah karakter zaman kita sekarang ini, kejujuran dan kebenaran dianggap tidak relevan.
Puasa yang kita jalankan sebagai sarana untuk memcapai ketakwaan itu sekaligus merupakan sarana untuk menghadapi situasi sosial yang buruk seperti sekarang ini. Tetapi ketika peningkatan ketakwaan belum juga diperoleh, hari telah keburu lebaran sebagai hari pembebasan, bebas dari belenggu sosial yang mengarah pada amoralitas. Dalam konteks ini hari lebaran merupakan hari pebuktian apakah benar-benar puasa kita mencapai ketakwaan, sehingga membawa pada pembebasan. Kalau setelah lebaran seseorang mampu membebaskan dari kultur sosial yang hitam yang liberal dan kapitalistik ini berarati mereka telah memperoleh ketakwaan dan mampu membebaskan diri dari cengkeraman sosial yang merusak.
Tetapi kalau setelah lebaran mereka semakin kuat mengikuti arus tanpa sedikitpun melakukan resistensi terhadap arus budaya massa yang konsumtif, hedonis, maka itu berarati mereka sama sekali tidak berlebaran, tidak memperoleh pembebasan, karena puasanya tidak mengarah pada ketakwaan. Hal iti tidak lain ketika berpuasa nafsu bahimiyah (binatang) tetap menguasai jiwanya sehingga dalam melaksanakan puasa semakin banyak makan dan minum. Kezuhudan bukan diutamakan, sebaliknya ketamakan yang ditampakkan, sehingga nafsu mengumpulkan berbagai kesenangan duniawi lebih ditonjolkan ketimbang upaya meraih kebahagiaan ukhrawi.
Dalam situasi sosial dan politik yang buruk seperti ini dimana setiap orang yang hidup didalamnya harus mengikuti arus dan logika yang mereka gerakkan. Sistem sosial yang liberal kapitalistik ini punya pengaruh besar dalam pembentukan sikap dan kepribadian seseorang, sehingga dengan mudah orang menyesuaikan diri dengannya. Dan amat berat bisa bertahan dari pengaruh sistem ini, kecuali orang yang sudah bisa melakukan topo ngeli atau melakukan mati sajeruning urip, inilah yang disebut dengan hidup asketik yang dlam tasawuf disebut sebagai zuhud, sebiah tahapan awal menuju takarub keada Allah. Puasa merupakan langkah ke sana dan Lebaran merupakan momentum pembuktiannya.
Untuk memperbaiki masyarakat yang telah terbelenggu dalam sistem ini tidak cukup hanya dengan memperbaiki manusia sebagai individu. Melakukan perombakan total dari sistem sosial, atau revolusi sosial ini merupakan langkah strategis yang harus dtempuh. Sekuat apapun membina mental anggota masyarakat kalau situasi sosial tempat dia hidup masih buruk, maka orang akan cenderung berperilaku buruk, ketiak keburukan telah menjadi kelaziman dan tidak adalagi kontrol sosial unuk mencegah keburukan. Revolusi sosial sangat penting sebagai pijakan bagi revolusi moral. (Abdul Mun’im DZ/nuo) Selengkapnya.....
Menghadapi situasi zaman atau keadaan sosial yang sudah rusak seperti itu kalangan ulama Jawa mengajarkan apa yang disebut dengan topo ngeli (tetap bergaul tapi tidak larut) dengan harapan agar tidak tenggelam dalam kegelapan moral, sehingga tetap bisa menjaga norma agama dan norma sosial yang sehat. Bila orang sudah bisa mensikapi perkembangan sosial seperti itu maka dia disebut sebagai orang yang mati sajeruning urip (mati ketika masih hidup). Mampu menahan semoa godaan hidup sebagaimana dituntut oleh situasi sosial yang ada.
Puasa dalam Islam adalah sebagai upaya mengatasi berbagai problem sosial yang dihadapi terutama soal moral. Bagi orang kebanyakan yang masih pada taraf nafsu bahimiah (jiwa binatang), maka dengan keserakahannya akan sulit menahan godaan nafsu duniawi. Sebaliknya bagi orang yang telah mencapai nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang), akan mampu menghadapi godaan seberapapun beratnya, baik berupa harta maupun kekuasaan.
Kondisi sosial kita sekarang ini telah demikian buruk, di mana seluruh kehidupan telah diliberalisasi, sehingga hubungan antar masnuisa menjadi sedemikian renggang, masing-masing menjadi pesaing dari yang lain. Bersaing dalam memperoleh harta, bersaing memperebutkan pangkat dan kedudukan, bersaing mendapatkan ketenaran. Kesemuanya berujung pada satu tujuan yaitu harta. Persaingan itu ditempuh dengan cara menipu, menjegal berkhianat dan sebagainya. Inilah karakter zaman kita sekarang ini, kejujuran dan kebenaran dianggap tidak relevan.
Puasa yang kita jalankan sebagai sarana untuk memcapai ketakwaan itu sekaligus merupakan sarana untuk menghadapi situasi sosial yang buruk seperti sekarang ini. Tetapi ketika peningkatan ketakwaan belum juga diperoleh, hari telah keburu lebaran sebagai hari pembebasan, bebas dari belenggu sosial yang mengarah pada amoralitas. Dalam konteks ini hari lebaran merupakan hari pebuktian apakah benar-benar puasa kita mencapai ketakwaan, sehingga membawa pada pembebasan. Kalau setelah lebaran seseorang mampu membebaskan dari kultur sosial yang hitam yang liberal dan kapitalistik ini berarati mereka telah memperoleh ketakwaan dan mampu membebaskan diri dari cengkeraman sosial yang merusak.
Tetapi kalau setelah lebaran mereka semakin kuat mengikuti arus tanpa sedikitpun melakukan resistensi terhadap arus budaya massa yang konsumtif, hedonis, maka itu berarati mereka sama sekali tidak berlebaran, tidak memperoleh pembebasan, karena puasanya tidak mengarah pada ketakwaan. Hal iti tidak lain ketika berpuasa nafsu bahimiyah (binatang) tetap menguasai jiwanya sehingga dalam melaksanakan puasa semakin banyak makan dan minum. Kezuhudan bukan diutamakan, sebaliknya ketamakan yang ditampakkan, sehingga nafsu mengumpulkan berbagai kesenangan duniawi lebih ditonjolkan ketimbang upaya meraih kebahagiaan ukhrawi.
Dalam situasi sosial dan politik yang buruk seperti ini dimana setiap orang yang hidup didalamnya harus mengikuti arus dan logika yang mereka gerakkan. Sistem sosial yang liberal kapitalistik ini punya pengaruh besar dalam pembentukan sikap dan kepribadian seseorang, sehingga dengan mudah orang menyesuaikan diri dengannya. Dan amat berat bisa bertahan dari pengaruh sistem ini, kecuali orang yang sudah bisa melakukan topo ngeli atau melakukan mati sajeruning urip, inilah yang disebut dengan hidup asketik yang dlam tasawuf disebut sebagai zuhud, sebiah tahapan awal menuju takarub keada Allah. Puasa merupakan langkah ke sana dan Lebaran merupakan momentum pembuktiannya.
Untuk memperbaiki masyarakat yang telah terbelenggu dalam sistem ini tidak cukup hanya dengan memperbaiki manusia sebagai individu. Melakukan perombakan total dari sistem sosial, atau revolusi sosial ini merupakan langkah strategis yang harus dtempuh. Sekuat apapun membina mental anggota masyarakat kalau situasi sosial tempat dia hidup masih buruk, maka orang akan cenderung berperilaku buruk, ketiak keburukan telah menjadi kelaziman dan tidak adalagi kontrol sosial unuk mencegah keburukan. Revolusi sosial sangat penting sebagai pijakan bagi revolusi moral. (Abdul Mun’im DZ/nuo) Selengkapnya.....
Sekali Pidato, Ghadafi Sebut PBB Sebagai Dewan teror
New York - Bagi Pemimpin Libya Muammar Gaddafi, berpidato di Majelis Umum PBB, Rabu (23/9), adalah kesempatan pertamanya. Nah, kesempatan itu dipakainya untuk "menyemprot" PBB. Gaddafi mengecam negara-negara besar dalam Dewan Keamanan (DK) PBB.
Sementara itu, sanak saudara para korban pengeboman Lockerbie tahun 1988 melakukan aksi unjuk rasa di luar markas besar PBB ketika Kolonel Gaddafi tiba. Orang Libya yang dinyatakan bersalah melakukan pengeboman itu dibebaskan dari sebuah penjara di Skotlandia bulan lalu.
Sementara, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, yang sebelumnya mengatakan dia tidak percaya "holocaust" terjadi, akan berpidato Rabu waktu New York.
Karuan saja, Israel menyerukan agar pidato Ahmadinejad diboikot. sementara para anggota delegasi dari Jerman mengatakan mereka akan melakukan aksi walkout, keluar dari ruangan, bila Ahmadinejad mengulangi lagi klaimnya.
Dewan teror
Ketika berpidato setelah Presiden Obama, Gaddafi mengecam keras struktur kekuatan PBB saat ini. Menurutnya, DK ketinggalan zaman dan tidak adil, karena kekuasaan tidak rata.
Sambil memegang salinan mukadimah Piagam PBB, dia mengatakan,"Dalam pembukaan ini dikatakan bahwa semua bangsa memiliki hak yang sama walaupun negara itu kecil atau besar. Apakah kita semua sama dalam hak memiliki kursi permanen Dewan Keamanan? Tidak, kita tidak sama. Apakah kita semua memiliki hak veto?"
Kemudian, Gaddafi mengatakan demokrasi seharusnya bukan menjadi barang mewah bagi negara kaya atau negara yang lebih kuat.
"Semua negara harus memiliki hak yang sama. Bagi mereka yang memiliki posisi permanen Dewan Keamanan, sistem ini merupakan sistim feodal politik. Dewan ini seharusnya bukan bernama Dewan Keamanan, tetapi Dewan Teror," kritiknya.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon membuka sidang umum PBB ini pada Rabu dengan mengatakan kepada para pemimpin yang hadir bahwa "Sekarang adalah waktunya untuk mengembalikan persatuan ke dalam PBB".
Urutan pidato dalam Majelis Umum berdasarkan aturan protokoler, dengan sedikit kelonggaran.
Juru bicara PBB menyebutkan proses menentukan urutan pidato itu sebagai tugas yang "menantang dan sangat rinci".
Ada sistem yang disepakati, yaitu kepala negara didahulukan dari kepala pemerintahan dan putra mahkota.
Tetapi ada sejumlah pengecualian, salah satunya adalah bahwa Perdana Menteri Inggris Gordon Brown akan berpidato sebelum Presiden Cina, Hu Jintao. (nuo) Selengkapnya.....
Sementara itu, sanak saudara para korban pengeboman Lockerbie tahun 1988 melakukan aksi unjuk rasa di luar markas besar PBB ketika Kolonel Gaddafi tiba. Orang Libya yang dinyatakan bersalah melakukan pengeboman itu dibebaskan dari sebuah penjara di Skotlandia bulan lalu.
Sementara, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, yang sebelumnya mengatakan dia tidak percaya "holocaust" terjadi, akan berpidato Rabu waktu New York.
Karuan saja, Israel menyerukan agar pidato Ahmadinejad diboikot. sementara para anggota delegasi dari Jerman mengatakan mereka akan melakukan aksi walkout, keluar dari ruangan, bila Ahmadinejad mengulangi lagi klaimnya.
Dewan teror
Ketika berpidato setelah Presiden Obama, Gaddafi mengecam keras struktur kekuatan PBB saat ini. Menurutnya, DK ketinggalan zaman dan tidak adil, karena kekuasaan tidak rata.
Sambil memegang salinan mukadimah Piagam PBB, dia mengatakan,"Dalam pembukaan ini dikatakan bahwa semua bangsa memiliki hak yang sama walaupun negara itu kecil atau besar. Apakah kita semua sama dalam hak memiliki kursi permanen Dewan Keamanan? Tidak, kita tidak sama. Apakah kita semua memiliki hak veto?"
Kemudian, Gaddafi mengatakan demokrasi seharusnya bukan menjadi barang mewah bagi negara kaya atau negara yang lebih kuat.
"Semua negara harus memiliki hak yang sama. Bagi mereka yang memiliki posisi permanen Dewan Keamanan, sistem ini merupakan sistim feodal politik. Dewan ini seharusnya bukan bernama Dewan Keamanan, tetapi Dewan Teror," kritiknya.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon membuka sidang umum PBB ini pada Rabu dengan mengatakan kepada para pemimpin yang hadir bahwa "Sekarang adalah waktunya untuk mengembalikan persatuan ke dalam PBB".
Urutan pidato dalam Majelis Umum berdasarkan aturan protokoler, dengan sedikit kelonggaran.
Juru bicara PBB menyebutkan proses menentukan urutan pidato itu sebagai tugas yang "menantang dan sangat rinci".
Ada sistem yang disepakati, yaitu kepala negara didahulukan dari kepala pemerintahan dan putra mahkota.
Tetapi ada sejumlah pengecualian, salah satunya adalah bahwa Perdana Menteri Inggris Gordon Brown akan berpidato sebelum Presiden Cina, Hu Jintao. (nuo) Selengkapnya.....
Sabtu, 22 Agustus 2009
Hidup di Republik Babi
oleh : Abdul Wahid, Dekan Fakultas Hukum Unisma Malang, dan Penulis Buku “Negara Tanpa Kelamin”
Penyakit yang menjangkiti seseorang di muka bumi ini, 90 % disebabkan makanan/minuman. Jenis makanan/minuman haram memberikan andil paling besar dalam penyebaran penyakit dan ‘pembunuhan manusia’, demikian �temuan Mohammad Wahib (2007) dalam bukunya berjudul “Quo Vadis Label Halal”, yang sejatinya sudah mengingatkan kita, bahwa selama di Republik ini obyektivitasnya masih marak produk haram, apapun dalih yang digunakan untuk mengaburkannya, maka ancaman akselerasi penyakit dan pembunuhan massal, rasanya sulit dihindari, dan bahkan bukan tidak mungkin di masa mendatang, bisa menjadi bomming atau “teroris sejati” yang bisa merampas kemerdekaan hak kesehatan dan hidup setiap manusia.
Sebagai sampelnya, kasus baru positif influenza A H1N1 semakin sulit dibendung “gerakannya”. Ia barangkali bisa menjadi penyebar horor yang melebihi apa yang dilakukan oleh teroris. Kalau teroris menyebar horor dengan rencana matang dan sistemik, maka A H1N1 bisa menjadi horor tanpa perlu arsitek.
Saat ini (setidaknya dengan menggunakan data WHO bulan Mei 2009, sudah ada 31 negara yang terjangkit flu babi. Di Indonesia, sudah 22 propinsi dilaporkan terinfeksi virus tersebut. Yaitu, Bali, Banten, Jogjakarta, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Jambi. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Tjandra Yoga Aditama menyatakan, saat ini kasus penularan H1N1 banyak ditemukan secara masal. Misalnya, yang terjadi di ponpes maupun sekolah. Penularan tersebut tidak bisa dicegah lagi Depkes sudah meminta agar seluruh masyarakat mewaspadai penularan virus tersebut dengan menerapkan pola hidup sehat. Di Kabupaten Malang misalnya sudah ditetapkan sebagai KLB flu babi (Surya, 6 Agustus 2009). Sampel ini cukup representatif untuk menyebut Indonesia terjajah flu babi.
Memang benar kalau akselerasi H1N1 sulit dibendung. Virus ini boleh disebut menjadi neo-kolonialis, pasalnya untuk memprediksi dimana dan kapan aklereasi virus ini tak bisa dengan cepat dan tepat. H1N1 seperti sengaja unjuk kekuatan, hegemoni represipnya, atau menunjukkan pada manusia kalau dirinya telah menjadi virus yang sangat menghebohkan, yang sebenarnya potensinya bisa lebih dahsyat menghebohkannya dibandingkan teroris.
Pemerintah melalui Dirjen sudah memberikan saran yang tepat bernama “pola hidup sehat”. Benar kalau masyarakat dimintanya merekonstruksi atau mereformulasi pola hidupnya menjadi pola hidup yang sehat, pasalnya hanya dengan pola hidup sehat ini, berbagai serangan virus membahayakan atau mematikan bisa dilawan (dikalahkan). Masalahnya, apakah masyarakat negeri ini memang menyukai pola hidup sehat? Apakah setiap elemen rakyat atau pejabat Indonesia memang punya kegemaran menjunjung tinggi budaya hidup sehat atau menyehatkan hidup berbudaya sehat (berkeadaban)?
Pola hidup sehat tidak selalu menjadi pilihan utama, apalagi kultur masyarakat atau pejabat negeri ini. Mulai dari pengusaha/perusahaan (korporasi) hingga konsumen dan pejabat kurang serius mengutamakan hidup berkeadaban atau memprivilitaskan pola hidup sehat. Pola hidupnya lebih cenderung mencari dan memburu yang memuaskan, menguntungkan, dan menyenangkan, dan bukan yang menyelamatkan dan membahagiakan.
Sebagian elemen di Republik ini seperti diajak semakin memerangkapkan diri dalam jagat hewani, animalisasi, atau setidaknya kacamata babi, yang anatomi dirinya menawarkan kelezatan dan kenikmatan (kepuasan) untuk dikonsumsi, atau dijadikan sebagai zat yang secara langsung atau tidak langsung bisa masuk ke dalam perut dan mampu menunjukkan neo-hegemonismenya.
Neo-hegemonisme babi menjadi mudah dirasakan oleh masyarakat Republik ini, baik konsumen, produsen, maupun pejabat, ketika mereka (merasa) seperti menjadi kekuatan yang tidak lagi superioritas atau kehilangan keberdayaan (empowerless), yang takluk, menyerah, atau kehabisan amunisi yang ampuh untuk melawan dan mengalahkannya. Kita seperti menjadi korban yang meminta jiwa karitas dari hewan yang semula kita rendahkan atau jadikan bahan olok-olok dasar babi, padahal dalam konstruksi dan anatomi tubuh kita, secara langsung atau tidak, telah menjadikan babi sebagai unsur yang mempersilahkan neo-hegemonisme.
Bagi mereka yang jadi pengusaha atau produsen, yang diburu dan ditargetkan sebagai kepentingan istimewa bukannya memuaskan, menyenangkan, dan menyelamatkan konsumen secara lahir dan batin seperti melindungi konsumen lewat prinsip halalan-toyiiban, tetapi sekedar memperlakukan konsumen menjadi obyek dan bumper mengail keuntungan ekonomi sebesar-besarnya. Berkali-kali misalnya sudah ditemukan sejumlah produk makanan� dan minuman yang setelah diteliti, ternyata mengandung zat-zat yang membahayakan dan oleh agama distigma diragukan atau diharamkan.
Produsen bermental cacat ini sengaja menjatuhkan opsi kapitalisme atau komoditi keselamatan lahir dan batin konsumen sebagai segmentasi dari cost logis yang harus dibayar oleh konsumen, baik pertaruhan kesehatan, sejumlah uang (biaya kesehatan) maupun nyawa melayang. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan barang-barang yang dikonsumsi dan yang digunakanya (QS, Abasa: 24), demikian Firman Allah menunjukkan imbauan atau pesan moral kepada manusia (konsumen) tentang makanan yang hendak dimakan atau dikonsumsinya. Manusia diingatkan mengenai sikap cermat, hati-hati, atau waspada dalam menentukan produk yang dipilihnya. Sikap yang dituntut oleh agama ini sebenarnya mengindikasikan, bahwa di setiap makanan yang diproduk oleh produsen (perusahaan), bukan tidak mungkin mengandung zat-zat berbahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatannya, termasuk kemungkinan diragukan kehalalannya.
Menurut Ali Yafie (2003), mengkonsumsi yang haram, atau yang belum diketahui kehalalannya akan berakibat serius, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW setiap daging tumbuh yang diperoleh dari kejahatan (jalan haram), maka neraka lebih layak baginya (HR. Imam Ahmad). (dtm) Selengkapnya.....
Penyakit yang menjangkiti seseorang di muka bumi ini, 90 % disebabkan makanan/minuman. Jenis makanan/minuman haram memberikan andil paling besar dalam penyebaran penyakit dan ‘pembunuhan manusia’, demikian �temuan Mohammad Wahib (2007) dalam bukunya berjudul “Quo Vadis Label Halal”, yang sejatinya sudah mengingatkan kita, bahwa selama di Republik ini obyektivitasnya masih marak produk haram, apapun dalih yang digunakan untuk mengaburkannya, maka ancaman akselerasi penyakit dan pembunuhan massal, rasanya sulit dihindari, dan bahkan bukan tidak mungkin di masa mendatang, bisa menjadi bomming atau “teroris sejati” yang bisa merampas kemerdekaan hak kesehatan dan hidup setiap manusia.
Sebagai sampelnya, kasus baru positif influenza A H1N1 semakin sulit dibendung “gerakannya”. Ia barangkali bisa menjadi penyebar horor yang melebihi apa yang dilakukan oleh teroris. Kalau teroris menyebar horor dengan rencana matang dan sistemik, maka A H1N1 bisa menjadi horor tanpa perlu arsitek.
Saat ini (setidaknya dengan menggunakan data WHO bulan Mei 2009, sudah ada 31 negara yang terjangkit flu babi. Di Indonesia, sudah 22 propinsi dilaporkan terinfeksi virus tersebut. Yaitu, Bali, Banten, Jogjakarta, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Jambi. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Tjandra Yoga Aditama menyatakan, saat ini kasus penularan H1N1 banyak ditemukan secara masal. Misalnya, yang terjadi di ponpes maupun sekolah. Penularan tersebut tidak bisa dicegah lagi Depkes sudah meminta agar seluruh masyarakat mewaspadai penularan virus tersebut dengan menerapkan pola hidup sehat. Di Kabupaten Malang misalnya sudah ditetapkan sebagai KLB flu babi (Surya, 6 Agustus 2009). Sampel ini cukup representatif untuk menyebut Indonesia terjajah flu babi.
Memang benar kalau akselerasi H1N1 sulit dibendung. Virus ini boleh disebut menjadi neo-kolonialis, pasalnya untuk memprediksi dimana dan kapan aklereasi virus ini tak bisa dengan cepat dan tepat. H1N1 seperti sengaja unjuk kekuatan, hegemoni represipnya, atau menunjukkan pada manusia kalau dirinya telah menjadi virus yang sangat menghebohkan, yang sebenarnya potensinya bisa lebih dahsyat menghebohkannya dibandingkan teroris.
Pemerintah melalui Dirjen sudah memberikan saran yang tepat bernama “pola hidup sehat”. Benar kalau masyarakat dimintanya merekonstruksi atau mereformulasi pola hidupnya menjadi pola hidup yang sehat, pasalnya hanya dengan pola hidup sehat ini, berbagai serangan virus membahayakan atau mematikan bisa dilawan (dikalahkan). Masalahnya, apakah masyarakat negeri ini memang menyukai pola hidup sehat? Apakah setiap elemen rakyat atau pejabat Indonesia memang punya kegemaran menjunjung tinggi budaya hidup sehat atau menyehatkan hidup berbudaya sehat (berkeadaban)?
Pola hidup sehat tidak selalu menjadi pilihan utama, apalagi kultur masyarakat atau pejabat negeri ini. Mulai dari pengusaha/perusahaan (korporasi) hingga konsumen dan pejabat kurang serius mengutamakan hidup berkeadaban atau memprivilitaskan pola hidup sehat. Pola hidupnya lebih cenderung mencari dan memburu yang memuaskan, menguntungkan, dan menyenangkan, dan bukan yang menyelamatkan dan membahagiakan.
Sebagian elemen di Republik ini seperti diajak semakin memerangkapkan diri dalam jagat hewani, animalisasi, atau setidaknya kacamata babi, yang anatomi dirinya menawarkan kelezatan dan kenikmatan (kepuasan) untuk dikonsumsi, atau dijadikan sebagai zat yang secara langsung atau tidak langsung bisa masuk ke dalam perut dan mampu menunjukkan neo-hegemonismenya.
Neo-hegemonisme babi menjadi mudah dirasakan oleh masyarakat Republik ini, baik konsumen, produsen, maupun pejabat, ketika mereka (merasa) seperti menjadi kekuatan yang tidak lagi superioritas atau kehilangan keberdayaan (empowerless), yang takluk, menyerah, atau kehabisan amunisi yang ampuh untuk melawan dan mengalahkannya. Kita seperti menjadi korban yang meminta jiwa karitas dari hewan yang semula kita rendahkan atau jadikan bahan olok-olok dasar babi, padahal dalam konstruksi dan anatomi tubuh kita, secara langsung atau tidak, telah menjadikan babi sebagai unsur yang mempersilahkan neo-hegemonisme.
Bagi mereka yang jadi pengusaha atau produsen, yang diburu dan ditargetkan sebagai kepentingan istimewa bukannya memuaskan, menyenangkan, dan menyelamatkan konsumen secara lahir dan batin seperti melindungi konsumen lewat prinsip halalan-toyiiban, tetapi sekedar memperlakukan konsumen menjadi obyek dan bumper mengail keuntungan ekonomi sebesar-besarnya. Berkali-kali misalnya sudah ditemukan sejumlah produk makanan� dan minuman yang setelah diteliti, ternyata mengandung zat-zat yang membahayakan dan oleh agama distigma diragukan atau diharamkan.
Produsen bermental cacat ini sengaja menjatuhkan opsi kapitalisme atau komoditi keselamatan lahir dan batin konsumen sebagai segmentasi dari cost logis yang harus dibayar oleh konsumen, baik pertaruhan kesehatan, sejumlah uang (biaya kesehatan) maupun nyawa melayang. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan barang-barang yang dikonsumsi dan yang digunakanya (QS, Abasa: 24), demikian Firman Allah menunjukkan imbauan atau pesan moral kepada manusia (konsumen) tentang makanan yang hendak dimakan atau dikonsumsinya. Manusia diingatkan mengenai sikap cermat, hati-hati, atau waspada dalam menentukan produk yang dipilihnya. Sikap yang dituntut oleh agama ini sebenarnya mengindikasikan, bahwa di setiap makanan yang diproduk oleh produsen (perusahaan), bukan tidak mungkin mengandung zat-zat berbahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatannya, termasuk kemungkinan diragukan kehalalannya.
Menurut Ali Yafie (2003), mengkonsumsi yang haram, atau yang belum diketahui kehalalannya akan berakibat serius, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW setiap daging tumbuh yang diperoleh dari kejahatan (jalan haram), maka neraka lebih layak baginya (HR. Imam Ahmad). (dtm) Selengkapnya.....
Senin, 17 Agustus 2009
Laga Off Road, Tak Cukup Cuma Modal Nyali
Kejuaran kejuaraan Off Road Jember 2009 menjadi agenda penutup lomba bertaraf nasional dari rangkaian acara Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ). Kegiatan yang dilaksanakan sejak tanggal 15 dan berakhir kemarin itu banyak menyisakan kenangan luar biasa.
Berpetualang di sirkuit yang penuh dengan tantangan, hampir seratus peserta yang berasal Jakarta, Jogjakarta, Bali, kalimantan, Surabaya, dan Jember berlaga memperebutkan status juara yang menjadi idamannya. “Tahun ini jumlah peserta terbanyak berasl dari Jember sendiri,”ungkap ketua panitia lomba, Zainal Marzuki disela pembukaan lomba yang rata-rata yang menggunakan mobil jenis Jeep itu.
Zainal yang juga ketua kelompok Raung Off Road Jember itu mengaku bangga, karena peserta yang berasal dari Jember tahun ini dominan. Fakta itu menunjukkan bahwa peminat petualangan model off road semakin diminati oleh masyarakat. “Sebagai pecinta petualangan laga seperti ini, kami merasa semakin banyak kawan,”terangnya.
Keberhasilan pelaksanaan lomba itu juga tidak lepas perhatian langsung dari Bupati Jember, MZA Djalal. Karenanya, meskipun pelaksanaan Lomba dipusatkan di Sirkuit The Argopuro Kaliwates Jember. Namun proses pelepasan dilaksanakan di Jalan Sudarman, depan kantor Pemkab Jember. Hadir dalam prosesi itu, Bupati Jember didampingi jajaran muspida. Beberapa diantaranya Kapolwil Besuki, Kapolres Jember, Ketua DPRD Jember dan Dandim Jember.
Sebelum mengibarkan bendera stratnya, menariknya oleh Panitia lomba dari Raung Jember diminta Bupati Jember diminta untuk mencoba 2 arena yang telah disediakan oleh panitia. “Kalau tahun kemarin (2008) Bupati Jember MZA Djalal telah mendaftar sebagai anggota maka pada event ini diminta untuk mencoba dan menguji kemampuannya,”ungkap Ketua Raung Jember Zainal Marzuki, SH.
Tidak hanya itu, Ketua Raung Jember yang juga merangkap sebagai Ketua Panitia Lomba Off Road tidak saja menyempatkan Bupati Jember untuk mencoba arena yang telah disedikan secara khusus. “Kami juga menyediakan arena untuk anggota muspida lainnya yng ingin mencobanya namun tentunya tidak sama dengan arena yang semestinya,” tandasnya.
Dalam menyampaikan sambutan singkatnya Bupati Jember Djalal spontanitas langsung memberikan hadih uang tunai senilai 50 juta bagi pemenang nantinya. “Hadiah itu saya berikan karena tadi malam mimpi enak sehingga saya harus memberikan hadiah kepada pemenang dari saya,”ujarnya.
Lebih lanjut Djalal memuji panitia lokal dari Raung Jember yang gigih dalam memperjuangkan agar terwujudnya lomba meski dengan keterbatasan. “Saya menilai dan mengamati sudah 2 kali kegigihan ditunjukkan oleh panitia agar off roade dapat terselenggara di Jember dalam rangka BBJ,”cetusnya.
Untuk itu dengan kegigihan dan terujinya panitia dalam menyelenggarakan off roade di Jember, Bupati Jember juga berharap agar panitia bias menyelenggarakan event setingkat internasional. “Entah tahun depan atau 2 tahun lagi bersama saya jadikan Jember sebagai ajang lomba off road tingkat internasional,”pinta Djalal.
Sebagai persiapannya diminta oleh Djalal agar mulai sekarang selalu komunikasi dengan pengurus pusat yang mandegani pelaksanaan lomba ini. “Mulai sekarang Raung untuk selalu konsultasi dengan IMI pusat, kalau ada kemauan pasti ada jalan dan itu sudah diwujudkan dalam mempersiapkan lomba off roade di Jember,”cetusnya.
Selengkapnya.....
Berpetualang di sirkuit yang penuh dengan tantangan, hampir seratus peserta yang berasal Jakarta, Jogjakarta, Bali, kalimantan, Surabaya, dan Jember berlaga memperebutkan status juara yang menjadi idamannya. “Tahun ini jumlah peserta terbanyak berasl dari Jember sendiri,”ungkap ketua panitia lomba, Zainal Marzuki disela pembukaan lomba yang rata-rata yang menggunakan mobil jenis Jeep itu.
Zainal yang juga ketua kelompok Raung Off Road Jember itu mengaku bangga, karena peserta yang berasal dari Jember tahun ini dominan. Fakta itu menunjukkan bahwa peminat petualangan model off road semakin diminati oleh masyarakat. “Sebagai pecinta petualangan laga seperti ini, kami merasa semakin banyak kawan,”terangnya.
Keberhasilan pelaksanaan lomba itu juga tidak lepas perhatian langsung dari Bupati Jember, MZA Djalal. Karenanya, meskipun pelaksanaan Lomba dipusatkan di Sirkuit The Argopuro Kaliwates Jember. Namun proses pelepasan dilaksanakan di Jalan Sudarman, depan kantor Pemkab Jember. Hadir dalam prosesi itu, Bupati Jember didampingi jajaran muspida. Beberapa diantaranya Kapolwil Besuki, Kapolres Jember, Ketua DPRD Jember dan Dandim Jember.
Sebelum mengibarkan bendera stratnya, menariknya oleh Panitia lomba dari Raung Jember diminta Bupati Jember diminta untuk mencoba 2 arena yang telah disediakan oleh panitia. “Kalau tahun kemarin (2008) Bupati Jember MZA Djalal telah mendaftar sebagai anggota maka pada event ini diminta untuk mencoba dan menguji kemampuannya,”ungkap Ketua Raung Jember Zainal Marzuki, SH.
Tidak hanya itu, Ketua Raung Jember yang juga merangkap sebagai Ketua Panitia Lomba Off Road tidak saja menyempatkan Bupati Jember untuk mencoba arena yang telah disedikan secara khusus. “Kami juga menyediakan arena untuk anggota muspida lainnya yng ingin mencobanya namun tentunya tidak sama dengan arena yang semestinya,” tandasnya.
Dalam menyampaikan sambutan singkatnya Bupati Jember Djalal spontanitas langsung memberikan hadih uang tunai senilai 50 juta bagi pemenang nantinya. “Hadiah itu saya berikan karena tadi malam mimpi enak sehingga saya harus memberikan hadiah kepada pemenang dari saya,”ujarnya.
Lebih lanjut Djalal memuji panitia lokal dari Raung Jember yang gigih dalam memperjuangkan agar terwujudnya lomba meski dengan keterbatasan. “Saya menilai dan mengamati sudah 2 kali kegigihan ditunjukkan oleh panitia agar off roade dapat terselenggara di Jember dalam rangka BBJ,”cetusnya.
Untuk itu dengan kegigihan dan terujinya panitia dalam menyelenggarakan off roade di Jember, Bupati Jember juga berharap agar panitia bias menyelenggarakan event setingkat internasional. “Entah tahun depan atau 2 tahun lagi bersama saya jadikan Jember sebagai ajang lomba off road tingkat internasional,”pinta Djalal.
Sebagai persiapannya diminta oleh Djalal agar mulai sekarang selalu komunikasi dengan pengurus pusat yang mandegani pelaksanaan lomba ini. “Mulai sekarang Raung untuk selalu konsultasi dengan IMI pusat, kalau ada kemauan pasti ada jalan dan itu sudah diwujudkan dalam mempersiapkan lomba off roade di Jember,”cetusnya.
Jumat, 14 Agustus 2009
Genjot Pariwisata Untuk Lumbung PAD
Upaya melakukan penyempurnaan pada berbagai obyek pariwisata yang tersebar di Kabupaten Jember terus dilakukan. Perbaikan menjadi faktor penting, karena jumlah kunjungan ke Jember oleh para wisatawan domestik maupun asing sudah menunjukkan peningkatan.
Pengalaman melaksanakan Program Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) sejak tahun 2006 lalu, Jember menjadi semakin dikenal oleh kalangan luar. “Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari PHRI, jumlah hunian masing-masing Hotel di Jember selalu terjadi kenaikan prosentase hingga 15 sampai 20 persen tiap tahun,”tutur Arif Tjahyono, kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Jember kemarin.
Kunjungan wisatawan semakin banyak ketika BBJ berlangsung. Berbagai event kegiatan yang dilaksanakan ternyata menjadi magnit luar biasa untuk menarik kunjungan publik luar untuk masuk dan berwisata ke Jember. “Ketika BBJ berlangsung, jumlah kunjungan semakin banyak. Terbukti hotel-hotel di Jember tingkat hunian mencapai 85 sampai 90 persen selama event BBJ digelar,”kata Arif menambahkan.
Ketertarikan publik luar terhadap Jember harus diimbangi dengan perbaikan dan management yang lebih bagus terhadap seluruh obyek pariwisata. Sehingga kehadiran mereka menjadi maksimal dan tidak hanya tertumpu pada satu obyek.
Program BBJ diakui Arif sebagai magnit luar biasa untuk dijadikan pemicu masuknya wisatawan ke Jember. Namun kehadiran para turis akan semakin bagus jika tidak hanya datang untuk BBJ. “Jika mereka terus melakukan kunjungan ke berbagai obyek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Jember, maka akan menjadi moment pendapatan yang luar biasa juga,”tandasnya.
Pihak Kantor Pariwisata Jember saat ini tengah menyiapkan berbagai hal untuk merumuskan promosi ideal agar bisa menjual potensi wisata diwilayahnya. Berbagai brosur dan majalah yang menceritakan keindahan dan idealitas obyek wisata Kabupaten telah disebar di berbagai daerah. “Kami juga aktif mengikuti pameran wisata diberbagai daerah,”terang Arif.
Diharapkan, manuver promotif yang dilakukannya bisa memperkenalkan Jember dengan lebih menyeluruh terhadap masyarakat luas. Sehingga ketika kehadiran wisatawan ke Jember sudah memiliki gambaran terhadap obyek yang akan dikunjunginya. “Apakah akan menikmati nuansa laut, ataukah ingin rekreasi di derah pegunungan. Informasinya lengkap,”terang mantan camat Umbuksari itu menjelaskan.
Sementara untuk langkah-langkah kongkrit yang mengarah pada tekhnis perbaikan kualitas obyek wisata, Kantor Pariwisata selalu melakukan komunikasi dengan Dinas Pendapatan Daerah Pemkab Jember. “Ada pembagian job untuk mengelola obyek wisata Jember. Dispenda sebagai lembaga yang menangabi langsung. Sedangkan kantor kami sebagai lembaga yang memasarkannya,”pungkas Arif Tjahyono.
Selengkapnya.....
Pengalaman melaksanakan Program Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) sejak tahun 2006 lalu, Jember menjadi semakin dikenal oleh kalangan luar. “Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari PHRI, jumlah hunian masing-masing Hotel di Jember selalu terjadi kenaikan prosentase hingga 15 sampai 20 persen tiap tahun,”tutur Arif Tjahyono, kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Jember kemarin.
Kunjungan wisatawan semakin banyak ketika BBJ berlangsung. Berbagai event kegiatan yang dilaksanakan ternyata menjadi magnit luar biasa untuk menarik kunjungan publik luar untuk masuk dan berwisata ke Jember. “Ketika BBJ berlangsung, jumlah kunjungan semakin banyak. Terbukti hotel-hotel di Jember tingkat hunian mencapai 85 sampai 90 persen selama event BBJ digelar,”kata Arif menambahkan.
Ketertarikan publik luar terhadap Jember harus diimbangi dengan perbaikan dan management yang lebih bagus terhadap seluruh obyek pariwisata. Sehingga kehadiran mereka menjadi maksimal dan tidak hanya tertumpu pada satu obyek.
Program BBJ diakui Arif sebagai magnit luar biasa untuk dijadikan pemicu masuknya wisatawan ke Jember. Namun kehadiran para turis akan semakin bagus jika tidak hanya datang untuk BBJ. “Jika mereka terus melakukan kunjungan ke berbagai obyek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Jember, maka akan menjadi moment pendapatan yang luar biasa juga,”tandasnya.
Pihak Kantor Pariwisata Jember saat ini tengah menyiapkan berbagai hal untuk merumuskan promosi ideal agar bisa menjual potensi wisata diwilayahnya. Berbagai brosur dan majalah yang menceritakan keindahan dan idealitas obyek wisata Kabupaten telah disebar di berbagai daerah. “Kami juga aktif mengikuti pameran wisata diberbagai daerah,”terang Arif.
Diharapkan, manuver promotif yang dilakukannya bisa memperkenalkan Jember dengan lebih menyeluruh terhadap masyarakat luas. Sehingga ketika kehadiran wisatawan ke Jember sudah memiliki gambaran terhadap obyek yang akan dikunjunginya. “Apakah akan menikmati nuansa laut, ataukah ingin rekreasi di derah pegunungan. Informasinya lengkap,”terang mantan camat Umbuksari itu menjelaskan.
Sementara untuk langkah-langkah kongkrit yang mengarah pada tekhnis perbaikan kualitas obyek wisata, Kantor Pariwisata selalu melakukan komunikasi dengan Dinas Pendapatan Daerah Pemkab Jember. “Ada pembagian job untuk mengelola obyek wisata Jember. Dispenda sebagai lembaga yang menangabi langsung. Sedangkan kantor kami sebagai lembaga yang memasarkannya,”pungkas Arif Tjahyono.
Langganan:
Postingan (Atom)