Selasa, 11 Maret 2008

Upayakan Sinergitas dengan Bank


JEMBER – Usai mendengarkan keluhan pengelola LKMM Srikandi, Djalal langsung berjanji akan mencarikan jalan keluarnya. Salah satunya adalah dengan mempertemukan lembaga penyedia modal bagi usaha micro itu dengan pimpinan Bank Jatim Jember.
Jika pertemuan bisa dilakukan, pengurus LKMM dengan leluasa bisa memaparkan berbagai perkembangan usaha permodalan yang dikelola. ”Nanti akan saya undang Bank Jatim Jember dan saya pertemukan dengan LKMM ini,”ujar Djalal menjanjikan.
Menanggapi keluhan pengurus yang merasa sulit untuk mendapatkan akes permodalan dari pihak Bank, Djalal menyarankan agar pengurus juga memaparkan persoalan tersebut diforum. Sehingga berbagai kendala mendasar untuk mendapatkan akses permodalan itu akan kelihatan dan bisa dicarikan jalan keluarnya.
Sebagai lembaga yang menyediakan modal untuk usaha, perbankan memang dituntut untuk berhati-hati. Namun bukan berarti tidak ada jalan keluar. ”Kita bicarakan disana, mungkin ada yang masih belum terpenuhi persyaratannya lainnya,”ujarnya sambil mengingatkan untuk membawa berkas yang pernah diajukan.
Namun Djalal tetap meminta agar semangat untuk berkarya dan membangun perekonomian dengan LKMM jangan surut hanya persoalan sulit mendapatkan bantuan dana dari Bank. Kegiatan pengembangan usaha mikro itu tetap akan diberikan perhatian lebih Pemerintah Kabupaten Jember. ”Dasarnya harus iklas mengurusi kelompok ini agar dapat lebih maju dan dapat mensejahterakan masyarakat disini,”pintanya
Sebelum meninggalkan kantor LKMM Srikandi, Djalal bekesempatan mengisi buku tamu dan memberikan kesan dan pesannya kepada pengurus dan anggotannya. ”Saya senang sekali atas kerukunan dan semangatnya,”demikian yang ditulis oleh MZA Djalal berikut membumbuhi tanda tangan di buku tamu LKMM Srikandi. (hh)
Selengkapnya.....

Lembaga Modal Maskin Perlu Mitra


JEMBER – Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM) dirangsang untuk terus maju dengan menggandengkannya dengan pihak bank sebagai penyedia modal. Lembaga keuangan tingkat kecamatan yang mayoritas beranggotakan perempuan itu dipandang berhasil untuk menjadi salah satu pelopor pergerakan ekonomi masyarakat miskin.
Pengupayaan itu dijanjikan bupati Jember MZA Djalal saat mengunjungi salah satu LKMM yang berlokasi di desa Puger Wetan belum lama ini. Djalal yang sejak awal dikukuhkan sebagai bupati sudah berkomitment melakukan percepatan pengentasan kemiskinan, memberikan angin segar kepada para pengurus lembaga yang menangani permodalan usaha kecil itu. ”Ayo sekarang ceritakan kendala mendasar yang dalam pengembangan LKMM ini,”ujarnya kepada para pengurus LKMM Srikandi Desa Puger Wetan yang dikunjunginya.
Ketua LKMM desa pinggiran pantai Puger, Ny Siti Murbayah menjelaskan, gerakan lembaga keuangan yang diketuainya sudah mengalami ketidakseimbangan antara permintaan pinjaman anggota dengan kas yang tersedia. Jumlah kas yang dimilikinya sudah tidak mencukupi kebutuhan modal anggota untuk pengembangan masing-masing.
Sejak didirikan pertengahan tahun 2006 lalu, LKMM Srikandi mengalami dinamika dan kemajuan yang cukup berarti. Perkembangan sudah mencakup pada jumlah anggota dan modal yang saat ini dimiliki lembaganya. ”Dulu modal yang kami miliki hanya Rp 91 juta untuk seluruh anggota Pokmas di desa-desa. Sekarang modal itu sudah berkembang menjadi Rp 300 juta,”ujarnya.
Anggota juga mengalami perkembangan pesat. Awal didirikan, LKMM Srikandi hanya menangani 25 Kelompok Masyarakat dengan jumlah anggota sekita 125 orang. ”Saat ini kami memiliki anggota sebanyak 1.292 orang. Aturannya, setiap 5 orang berkelompok menjadi karena ada konsep tanggung renteng dalam mempertanggung jawabkan pinjaman,”ungkap Murbayah kepada Bupati Jember dikantornya.
Jumlah modal yang tersedia menjadi tidak sebanding jika diukur dengan kebutuhan anggotanya. Murbayah mengaku sering mengalami kesulitan ketika permintaan pinjaman modal dari anggota datang bersamaan. Kondisi itu, membuat pihaknya hanya mampu memberikan pinjaman maksimal Rp 700 ribu kepada anggota.
Murbayah menegaskan, nilai maksimal pinjaman itu tentu sudah tidak idela untuk menjadi modal pengembangan usaha anggota. ”Usaha anggota yang sudah berkembang baik, sehingga uang senilai Rp 700 ribu itu masih sangat kurang untuk bisa mendorong perkembangan usahanya,”katanya menjelaskan.
Ungkapan senada juga muncul dari bendahara LKMM Srikandi. Siti Zubaidah mengaku sering mengalami kusulitan jiak sudah menghadi anggota secara bersamaan mengajukan pinjaman. Pasalnya, jumlah kas yang tersedia dengan nilai pinjaman sangat tidak berimbang. ”Akhirnya saya bagi rata agar tidak menimbulkan persoalan baru,”ujarnya.
Menurut Zubaidah, perputaran keuangan yang dikelolanya sampai saat ini berjalan lancar. Pengembalian pinjaman anggota berjalan normal. Lancarnya pengembalian itu salah satunya didorong oleh mekanisme yang diberlakukan yaitu resiko tanggung renteng. ”Jika ada anggota yang nakal, maka satu kelompok akan dikenai sangsi dan tidak boleh pinjam selama anggota macet itu mengembalikan pinjaman,”ujarnya.(hh)
Selengkapnya.....

Senin, 10 Maret 2008

Bergerak Cepat ’Selamatkan’ Ekonomi Warga


JEMBER – Cuaca yang tidak menentu dan tidak bersahabat, menjadikan mayoritas warga pingiran Pantai Puger terancam. Kebutuhan hidup yang sehari-harinya disandarkan pada perolehan penangkapan ikan laut, kini sedang kelabakan karena tidak bisa melakukan aktifitas sebagaimana mestinya.
Keprihatinan masyarakat itu menjadi sangat terasa ketika kemandekan pekerjaan melautnya ternyata sangat berpengaruh pada kebutuhan hidup keluarga yang harus dicukupi. ”Biasanya kami dapat uang minimal Rp 60 ribu/hari. Kadang kalau ikan sedang banyak bisa Rp. 500 ribu. Tetapi sekarang, untuk beli beras saja tidak ada duit,”ujar Jumari, salah satu nelayan Puger sedih.
Beruntung Pemerintah Kabupaten Jember bergerak cepat. Kondisi masyarakat miskin yang sudah kolaps itu segera ditangani. Atas instruksi Bupati, program padat karya langsung diadakan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat miskin Puger agar bisa bertahan hidup.
Informasi yang berhasil diperoleh menyebutkan, program padat karya itu mampu menyerap sedikitnya 1.269 warga miskin yang dipekerjakan untuk melakukan pembersihan sungai dan parit. Program itu dilaksanakan pada 4 desa yang menjadi kantong nelayan yang saat ini sedang paceklik akibat kondisi cuaca dan ombak laut yang sangat berbahaya jika diarungi. Masing-masing adalah desa Puger Kulon, Mojosari, Mojomulyo dan Puger Wetan.
Pelaksanaan Poryek yang dilaksanakan sejak Senin (10/03) itu langsung di Sidak oleh Bupati Jember MZA Djalal. Didampingi Sekretaris daerah, Asisten II, Ka Bappeda, Ka Disperindag, Ka Dinas Pengairan, Ka Dinas Peternakan dan Perikanan, dan Ka Kantor Infokom Jember itu, Djalal langsung meninjau lokasi proyek padat karya tersebut.
Usai menyampaikan beberapa pesan singkat kepada seluruh pekerja, Djalal meminta agar masyarakat tetap tenang dan bekerja dengan baik. Pemerintah. Menurutnya tidak akan membiarkan warga hidup dalam kesusahan.”Nyambut gawe sing apik geh (Bekerja dengan baik ya),”ucapnya sembari disambut anggug-an dan jawaban inggeh dari pekerja.
Pelaksanaan profram padat karya itu merupakan langkah realistis pemerintah untuk memberikan bantuan kepada masyarakat sekaligus dengan pendidikan kemandirian. Pemerintah tidak menginginkan masyarakat menjadi lemah dan bermental peminta serta terus bergantung kepada belas kasihan pihak lain. ”Kita punya kekuatan dan tangan yang sehat. Jadikan keduanya untuk selalu bekerja dengan baik. Sebaliknya, jangan biasa menjadi orang yang selalu dibawah,”tandas Djalal mensuport.
Pemberian subsidi dengan cara itu, dipandang Djalal sebagai bentuk pendidikan yang baik bagi warga. Sekalipun saat ini sedang kesulitan mencari nafkah karena lahan andalannya tidak bisa diambil manfaatnya. ”Ini bentuk subsidi mendidik yang kita berikan kepada masyarakat. Jangan kita didik masyarakat untuk selalu meminta,”ujarnya mengingatkan.
Melihat kegiatan padat karya itu secara umum Bupati Jember upaya itu mudah-mudahan dapat membantu masyarakat nelayan untuk memperingan keadaan. ”Apalagi sekarang dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang tidak menguntungkan serta harga sembako yang merangkak naik,”terangnya.(hh)
Selengkapnya.....

Gizi Buruk Masih ‘Rajin’menyerang


JEMBER – Selama tiga bulan terakhir, di RSU Dr Soebandi Jember telah merawat sekitar 22 pasien terserang ‘Gizi Buruk’. Penderita penyakit yang terkesan ironis ditengah kemapanan hidup mayoritas masyarakat itu masih didominasi Balita. Bahkan akibat dari penyakit itu, 2 anak tak berdosa dilaporkan meinggal dunia.
Kedua bayi malang itu masing-masing Audio Viki Pratama (3) dan Ahmad Dani (1,2). Keduanya diketahui sama-sama berasal dari Daerah Jenggawah Jember. Dari petugas yang menangani diperoleh informasi kedua bayi tersebut hanya memiliki bobot sekitar 4,5 Kg atau hanya separuh bobot bayi normal lainnya.
Pada saat awal masuk dirawat kedua balita itu sudah menderita diare berat, wajah pucat, anemia, mata cowong serta batuk-batuk. Ibu angkat Sely Melani Anjelita, Tin mengatakan, gejala awal sakit bayinya itu dimulai dengan terkena diare berat dan terus menerus. "Karena tidak kuat membeli susu, sejak umur 4 bulan anak kami beri ai gula atau air kacang hijau. Namun kondisinya terus memburuk, makanya kami bawa ke
rumah sakit," kata ibu Tin, kemarin.
Ia juga menambahkan, pekerjaan orang tua sebagai kuli bangunan tersebut makin membuat kondisi bayi memprihatinkan. Sebab dengan kenaikan harga susu kaleng yang cukup tinggi tersebut, keluarga tidak mampu membelinya. Akibatnya, kondisi kesehatan Sely kini cukup memprihatinkan, sebab disekitar perut, pantat dan alat kelamin bayi perempuan ini kulinya nampak memerah dan gatal. Sely sudah dua hari ini terus dirawat dengan diberikan asupan gizi melalui jarum infus yang berisi cairan vitamin.Hal serupa juga dialami oleh Achmad Dani. Ia mengalami gizi buruk jenis marasmum kwarsiorkor dengan luka yang terdapat disebagian perut dan pantat.
Sedangkan salah seorang dokter anak di RSUD dr Subandi Jember dr Gebyar Tri Baskoro mengatakan, kedua balita itu memiliki hanya bobot sekitar 4,5 kilogram atau separuh dari bobot normal bayi seusianya. Selain itu mereka juga terkena gizi buruk jenis marasmus kwasiorkor. Pada saat awal masuk dirawat kata dia kedua balita itu sudah menderita diare berat, wajah pucat, anemia, mata cowong serta batuk-batuk. "Kini mereka terus kita rawat dan memasuki tahap stabilisasi dan memerlukan waktu sampai seminggu," kata dr Gebyar Tri Baskoro, kemarin. (hh)

Tabel Kasus Gizi Buruk :

Tahun Balita Gizi Buruk Meningal
2004 260 -
2005 217 -
2006 181 -
2007 (Jan-Nov) 340 10
2008 (Jan-Maret) 22 2


(Sumber RSUD dr Subandi dan Dinas Kesehatan Jember)
Selengkapnya.....

Sabtu, 08 Maret 2008

Garansi "Aman" Bagi Investor Masuk Jember


JEMBER – Pemberian jaminan aman oleh Bupati Jember MZA Djalal bukan basa basi. Sering diberbagai kesempatan, Djalal selalu menegaskan pentingnya nilai dan rasa aman bagi siapapun yang sedang berada di Jember.
Komitment itu berani dinyatakan olehnya, karena masyarakat Jember yang nilai Sumber Daya Manusianya sudah semakin baik semakin sadar akan perlunya rasa aman. Karena itu pemerintah bersama masyarakat, akan menjaga dan mengawal kelangsungan investasi yang masuk Jember. ”Masyarakat kami yang menjaga agar Jember tetap dan selalu dalam kondisi kondusif,”ungkap Djalal.
Bukti komitment masyarakat untuk mempertahankan Jember tetap kondusif itu bisa dilihat pada pelaksanaan Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) tahun 2007 lalu. Pada agenda yang direncanakan digelar tiap tahun itu terbukti tidak terjadi apa-apa selama satu bulan pelaksanaan.
Padahal saat BBJ, banyak berdatangan tamu dari daerah lain hingga dari mancanegara. Berbagai event kegiatan yang digelar bisa dilakukan tanpa gangguan yang berarti. Semua itu bisa dilakukan karena peran masyarakat terhadap komitment pemerintah untuk memberikan yang terbaik bagi warganya dapat ditangkap dengan baik. "Kita bisa sebagai tuan rumah yang baik, ramah dan aman, "jelas Djalal.
Sekarang, hampir seluruh masyarakat Jember menyadari pentingnya pelaku bisnis yang memiliki modal besar untuk masuk ke Jember. Pasalnya, Jember yang sangat kaya dengan potensi itu tidak mampu jika hanya mengandalkan modal yang berasal dari dalam daerah. Karena itu, kehadiran dan masuknya pelaku bisnis sekala besar dianggap sebagai bentuk solusi terbaik. ”Kami tidak punya kemampuan dana yang cukup untuk mengelola seluruh potensi itu,”ungkap Djalal.
Bupati yang dikukuhkan sejak Agustus 2005 lalu itu sangat optimis, jika pemilik modal masuk Jember, maka tidak perlu bingung dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan. ”Kami banyak memiliki tenaga potensial yang bisa dimanfaatkan dalam pengelolaan usaha yang diinginkan,”pungkas Djalal. (hh)
Selengkapnya.....

Menakar "Peluang Investasi" di Jember


JEMBER – Tengara bahwa resiko keamanan yang tidak kondusif dan prosedur yang berbelit-belit dari birokrasi dalam penanganan ijin bagi investor yang ingin menanamkan modal di Jember ditepis langsung oleh Bupati Jember MZA Djalal. Sebagai kepala pemerintah yang saat ini bertanggung jawab, dirinya memberikan garansi kepada investor yang akan masuk Jember.
“Jika memang mau masuk dan berinvestasi di Jember, saya langsung yang akan memberikan jaminan. Mulai dari keamanan hingga kepada perijinan. Tidak perlu lama memproses ijin, seminggu sudah jadi. Karena saya sendiri yang akan menanganinya,”ujar MZA Djalal saat memaparkan potensi Jember di acara Bedah Potensi Daerah yang diselenggarakan JTV belum lama ini.
Djalal yang asli putera Jember itu mengaku sudah lama merasa heran dengan minimnya investasi dari kalangan pebisnis yang masuk daerah bagian timur pulau jawa itu. Lambat laun, dirinya mengetahui penyebabnya adalah adanya kekhawatiran dari pemilik modal terkait rasa aman dan rumor rumitnya perijinan. “Makanya sekarang saya berikan jaminan. Bupati yang akan menjadi penjamin dan akan turun sendiri untuk mengurusi perijinannya. Jangan kuatir,”katanya menegaskan.
Sebagai kawasan yang sangat setrategis dan memiliki potensi melimpah, semestinya Jember menjadi kawasan sentra bagi pemilik modal. Beberapa indikator yang bisa dilihat adalah adanya Bank Indonesia di Jember, lahan pertanian yang yang mencapai hampir 100 hektar, hutan yang memiliki berbagai potensi untuk dikelola dengan benar dan maksimal.
Selain itu, di beberapa titik juga memiliki potensi alam seperti laut yang siap dikelola dan pertambangan seperti kapur (gamping) sangat melimpah di Jember. “Hampir semua potensi bisnis yang dibutuhkan para investor ada di Jember. Maka sangat rugi kalau tidak datang dan berisvestasi di Jember,”terang mantan Kepala Dinas PU Bina Marga Jatim itu.
Sarana transportasi untuk kelancaran hasil produk yang akan dibawa keluar daerah Jember juga sangat mendukung. Jember, yang menjadi perlintasan jalur utama yang menghubungkan ke berbagai daerah, juga memiliki sarana peti kemas yang terletak di Rambipuji. Fakta ini menambah nilai penjamin bagi proses sirkulasi produk yang dihasilkan di Jember.
Dukungan lain yang bisa menjadi andalan potensi Jember yakni produk produk unggulan milik Jember. "Produk Jember memiliki trade mark tersendiri, karena sudah membudaya dengan ciri khasnya. Contohnya adalah suwar suwir, tape, sangkar burung, handycraf, "jelas Djalal.
Begitu juga dengan potensi di bidang hortikultura. Jember tidak hanya menghasilkan jeruk, alpukat, dan durian, tapi juga rambutan yang biasanya dipanen pada bulan Januari sampai bulan Juli. "Saya memimpikan kalau ada pembeli membawa rambutan atau jeruk pada musimnya sebanyak satu container, betapa gembiranya masyarakat kami, "tuturnya.
Tanaman horti lain yang sangat dikena; dari Jember adalah Buah Naga. Buah dengan kulit berwarna merah itu tetap akan menjadi proudk andalah meskipun di daerah lain masih ditanam. Pasalnya, hasil buah naga yang dari Jember memiliki cita rasa tersendiri dan sangat disuka. "Apalagi pusat tenamannya ada di kawasan pegunungan Rembangan, yang selama ini menjadi kawasan wisata menyenangkan dan sangat tenang,”kata Djalal meyakinkan.(hh)
Selengkapnya.....