Rabu, 03 September 2008

Mengukur BBJ sebagai Tradisi Baru


Jika dijadikan agenda tahunan, Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) akan menjadi ikon dan tradisi baru bagi masyarakat Kabupaten Jember. Aktifitas yang diisi berbagai kegiatan dan lomba bersekala besar itu akan menjadi magnit luar biasa bagi seluruh komponen masyarakat. Maka dengan BBJ, Jember akan memiliki beberapa icont besar yang diselenggarakan tiap tahun dengan waktu yang sudah ditetapkan.
Tidak sulit untuk menjadikan BBJ sebagai tradisi baru. Pasalnya, banyak aktifitas besar yang sudah dikenal luas seperti Gerak Jalan Tradisional Tanggul – Jember (Tajemtra), Jember Fashion Carnaval dan Jember City carnaval (JCC).
Seluruh aktifitas sangat perlu dibudayakan, Selain menjadi ajang promosi bagi Daerah Tembakau itu, BBJ juga menjadi ajang memompa kratifitas dari berbabagi sektor potensial di Jember. Banyak masyarakat yang mengaku bisa mendapatkan berkah besar berupa peningkatan pendapatan dari BBJ selama 2 tahun pelaksanaan.
“Sudah 2 tahun ini saya mendapatkan berkah besar dari BBJ, karena usaha yang konfeksi yang saya kelola dengan 18 karyawan mendapatkan pesanan dalam jumlah sangat banyak,” ungkap Sugiono, pengusaha Konfeksi dan Sablon yang mengaku gembira dengan event BBJ yang dicetuskan Bupati MZA Djalal tersebut.
Menurut Sugiono, banyaknya order secara otomatis akan memberikan peningkatan pendapatan. Manfaat itu tidak hanya dirasakan dirinya sebagai owner, tetapi juga seluruh karyawan yang dibawahinya. “Alhamdulillah, dua kali BBJ, dua kali juga kami kebanjiran pesanan. Karyawan kami menjadi senang,”tambahnya.
Sementara, keuntungan serupa juga diperoleh oleh pelaku usaha lainnya. Disetiap event BBJ digelar, berbagai kelompok usaha mulai dari penjual asongan, PKL hingga tukang parker bisa meraih keuntungan. Apalagi jika kegiatan yang digelar seperti JFC, Tajem hingga motor Cross. “Biasanya hari biasa saya hanya dapat 25 ribu dari parker, tetapi kalau ada event BBJ seperti ini, saya bisa dapat Rp 300 ribu dalam sehari,”ujar Saturi, Tukang parkir yang biasa bertugas di selatan alun-alun Kota Jember.
Disisi lain, BBJ juga merupakan ajang untuk mempromosikan Jember dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Event besar yang diagendakannya, diharapkan bisa menjadi magnit khas yang bisa mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah dan Negara untuk datang ke Jember. “Bagaimana orang akan tertarik jika tidak kenal dengan Jember,”ujar Bupati Jember pada berbagai kesempatan.
Pengenalan poetnsi Jember, tidak bisa terjadi jika hanya dilakukan dengan menunggu. Tetapi harus ada rumusan untuk mengundang para pemilik modal agar mau bertandang ke Jember. “JIka sudah tertarik, maka kemungkinan untuk berinvesatsi di Jember akan menjadi agenda utamanya,”terang Djalal.
Sebagai daerah yang memiliki potensi besar pada berbagai sektor. Jember semestinya sudah menjadi ajang investasi dari pemilik modal. Tetapi hingga saat ini, investasi yang masuk ke Jember masih minim sekali. Oleh karena itu, digelarnya BBJ dalam setiap tahun akan menjadi media yang bisa dijadikan moment tersendiri untuk bisa mengundang para pemilik modal untuk datang dan melihat Jember lebih dekat dan langsung.
Keinginan agar Kabupaten Jember segra terdorong maju sudah menjadi kebutuhan. “Salah satu factor yang bisa mempercepat itu adalah masuknya investasi, jika itu sudah terjadi dan kita dapatkan, maka Jember dengan sendirinya akan menjadi daerah yang maju dan sejahtera,”imbuh Djalal optimis.(hh)
Selengkapnya.....

Senin, 01 September 2008

Gelar Penutupan BBJ 2008


Aksi Pawai Dengan Lintasan Terpanjang

JEMBER – Gelar aksi puncak dari event Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) 2008 digelar Sabtu (30/08) malam kemarin dengan Jember City Carnaval (JCC). Event yang dijadikan penutup BBJ itu berjalan sangat meriah. Berbagai atraksi ditampilkan, mulai dari pawai sepeda onthel kuno, JFC yang berkelas internasional, hingga ke pawai dari kalangan Tionghwa.
Pawai yang dimulai dari sekitar jam 07.00 WIB itu terus berlangsung hingga lewat tengah malam. Ratusan ribu pengunjung dari berbagai daerah hadir menjadi saksi langsung pagelaran terakhir yang disuguhkan Pemkab Jember tersebut. Sepanjang 3 Kilometer, lintasan pawai yang start dari Gor Kaliwates menuju Alun – alun kota Jember dipenuhi pengunjung.
Tepuk tangan riuh terdengar ketika rombongan pawai kedua muncul dan menampilkan atraksi menarik. Kelompok dari Jember Fashion Carnaval (JFC) dengan berbagai aksesori yang berasal dari tumbuhan, akar kayu, dan bahan bekas seperti plastik itupun mendapat sambutan laur biasa dari pengunjung.
Apresiasi serupa juga muncul dari pengunjung ketika rombongan dari Universitas Jember (Unej) menampilkan atraksi kesenian Daerah reog Ponorogo. Bahkan di depan panggung kehormatan yang ditempati Bupati Jember an jajaran Muspida, group yang diikuti sedikitnya 100 orang itupun sengaja berhenti untuk atraksi.
Bupati Jember, Pimpinan DPRD, Ketua Pengadilan Negeri, dan komandan Kodim 0824 Jember mendapatkan kehormatan untuk naik di reog yang dimainkan oleh kalangan mahasiswa. “Mohon kepada Bapak Bupati dan Muspida untuk berkenan duduk disini,”uajr koordinator pawai dari Unej sambil menunjuk dadak merak dan kepala macan untuk diduduki.
Pawai terkesan semakin marak ketika ratusan rombongan dari kalangan Thionghwa melintas dengan menampilkan aktraksi tari liang liong dan barongsai yang dikenal masyarakat sebagai kesenian khas cina. Uniknya, ketika melakukan atraksi di depan panggung kehormatan, seluruh lampu penerang dimatikan. “Lampu dimatikan agar penampilan dari Barongsai menjadi marak karena kostum memakai scoot lead yang akan terang saat suasana gelap,”ujar panitia menjelaskan.
Sementara, kelompok masyarakat Papua yang ada di Jember ikut ambil bagian dan menyajikan atraksi khas pulau cendrawasihnya. Puluhan anak muda tampil dengan hiasan dan kostum ala papua.
Informasi yang dihimpun dari panitia, Pagelaran JCC merupakan agenda penutup dari berbagai event yang digelar sepanjang bulan Agustus 2008. BBJ selain untuk mengenalkan berbagai potensi ke daerah luar hingga ke manca negara, juga diharapkan menjadi ajang acara bersyukurnya masyarakat Jember terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia dari Penjajah.
Karena JCC merupakan ajang untuk menunjukkan kreasi, panitia memberikan kesempatan kepada seluruh komponen masyarakat untuk ambil bagian dan berpartisipasi. Hanya saja, panitia memang memberikan beberapa persyaratan karena tampilan pada JCC merupakan aksi besar yang memiliki daya tarik tinggi.
Rencananya, BBJ akan terus digelar dari tahun ke tahun. “Tentu saja dengan perencanaan yang lebih matang. Saya yakin kita akan terus bisa melakukan perbaikan, karena kekurangan yang terjadi tahun ini akan menjadi catatan dan pelajaran yang baik,”ujar Arif Cahyono, Kepala Kantor Pariwisata Jember disela acara Pawai.
Sebagaimana diberitakan, Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) merupakan agenda besar Pemkab Jember untuk menjajakan Potensinya kepada publik dengan cakupan yang lebih luas. Langkah itu muncul dikarenakan selama ini potensi Jember yang memiliki nilai jual luar biasa ternyata tidak tersentuh dengan maksimal.
Pengenalan itu harus dilakukan dengan penyiasatan. BBJ akan membuat banyak kalangan (khususnya pemilik modal-red) akan tertarik untuk hadir. Kehadiran itulah yang akan menjadi moment untuk menilai potensi Jember secara langsung dan dari dekat. “Bagaimana Jember akan dicintai dan dituju orang luar jika tidak dikenalkan,”ujar Bupati Jember MZA Djalal kepada wartawan. (hh)
Selengkapnya.....

Mengintip Kehidupan Pesantren Salaf

Bertahan Dengan Memberi Manfaat Ganda

JEMBER – Pesantren tradional, hingga saat ini masih konsisten memberikan manfaat bagi masyarakat. Model pendidikan yang khas, khususnya kajian kitab kuning, telah menjadikan Pondok Pesantren tetap bertahan ditengah revolusi dunia pendidikan umum yang berkembang luar biasa.
Pondok Pesantren Nurul Huda, berlokasi di Desa Pondok Joyo Kecamatan Semboro - Jember , merupakan salah satu lembaga pendidikan Pesantren yang hingga saat ini masih memberlakukan pola salafiah. Meskipun tidak sepenuhnya, tetapi kegiatan pembelajaran kitab kuningnya tetap diberikan dengan porsi yang sangat dominant.
“Siang hari kami berikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan kegiatan sekolah umum. Tetapi sore hingga malam kami berikan pendidikan keagamaan dengan ngaji kitab dan Al qur’an,” ujar KH Musthofa AF, Putera Pengasuh Pesantren Nurul Huda.
Menurut Putera KH Abdurraouf Faqih itu, kehadiran Pesantren tetap menjadi kebutuhan masyarakat. Pasalnya, pesantren menjadi tempat untuk membentuk ahlak dan kepribadian generasi muda. “Bidang Akidah dan Ahlak merupakan program prioritas pesantren dalam memberikan pembelajaran kepada semua santri,”terang Musthofa.
Tantangan hidup yang semakin berat memerlukan kekuatan hati yang kokoh. Hal itu sangat sulit diperoleh pada lembaga pendidikan selain Pondok Pesantren. Musthofa optimis, Pesantren yang dikelolanya merupakan salah satu media yang akan memberikan sarana penyeimbang tersebut. “Karena kami juga secara intens memberikan pendidikan tentang cara mengelola hati dan menguatkannya ketika menghadapi berbagai tantatang hidup. Sumbernya dari kitab-kitab yang sudah masyhur itu,”tegasnya.
Nilai pengetahuan dan amaliah ahlak merupakan target utama yang harus dimiliki oleh para santri. Tak heran, jika setiap hari, pendidikan berupa ngaji kitab Fiqih yang banyak mengupas tentang halal dan haramnya sesuatu terus dilakukan. Seluruh santri diwajibkan ikut pengajian kitab dan Al qur’an seusai kegiatan sekolah umumnya.
Selain pengetahuan Fiqih, pelajaran Akhlak juga menjadi sesuatu yang diajarkan secara dominant selain pengetahuan tentang Hadits dan pemahaman A Qur’an. Pasalnya, citra pesantren selama ini dikenal dengan media untuk membentuk ahlak dengan amaliah langsung dimasyarakat.
“Disinilah letak pembeda utama antara produk murni pendidikan umum dengan pendidikan yang dikelola Pesantren. Santri, selain dikenal berpengetahuan luas juga harus dikenal berkakhlak bagus. Jika tidak, maka lembagalah yang akan dijatuhi sangsi moral oleh masyarakat,”tambah Mushofa.
Lebih jauh Musthofa menyatakan, pesantren dengan model pendidikan yang dikelolanya, sesungguhnya merupakan alternative terbaik bagi masyarakat dalam memberikan bekal pendidikan kepada anak-anaknya. Pendidikan ganda yang diberlakukan pesantren, secara significant akan memberikan keuntungan besar.
Jika seorang menjalani pendidikan di pesantren, maka pengawasan secara kontinue akan dilakukan dan menjadi tanggung lembaga. Tinggal diasrama akan lebih membuat perkembangan keilmuan anak semakin cepat. Selain karena intensitas pembelajaraan yang intens, komunitas santri yang bersamanya akan membuat pikirannya tetap terkonsentrasi pada keilmuan saja.
Pentingnya tinggal diasrama, menurut Musthofa adalah untuk membuat proses pembudayaan dan pengamalan hasil ngaji santri lebih bias dibudayakan secara nyata. “Artinya pengawalan itu harus dilakukan dengan maksimal. Begitu ngaji selesai, keilmuannya harus diamalkan. Itu harus dikawal hingga menjadi tradisi bagi santri itu, kalau sudah menjadi tradisi, berarti sudah bisa menjadi kepribadian. Itu sisi penting tinggal diasrama pondok,”pungkasnya.(Ahmad Hasan Halim) Selengkapnya.....

Sabtu, 31 Mei 2008

Perhutani Tambah Amunisi Pengamanan Hutan


JEMBER – Usai melakukan kerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengantisipasi kerusakan Hutan yang ada dalam pengelolaan Perum Perhutani Jember, kini amunisi baru untuk memperkuat penjagaan dan pengawasan demi keamanan hutan ditambah dengan kekuatan dari Kejaksaan Negei Jember.
Bagi Perhutani, hutan dipandang sebagai amanat yang harus dikawal keamanan dan kelestariannya. Hutan yang selama ini secara nyata telah memberikan sumbasih luar biasa besar bagi kelangsungan hidup manusia harus secara ketat dikawal karena kecenderungan perusakan oleh Oknum tidak bertanggung jawab terus terjadi.
Karenanya, Memorandum of Understanding (MoU) yang dilakukan dengan Kejaksaan Negeri Jember kemarin itu merupakan langkah penguatan terhadap upaya penegakan hukum demi keselamatan hutan. ”Sesuai dengan PP 30 tahun 2001, kami memandang perlu dilakukan penguatan hukum kepada internal masyarakat agar kondisi hutan semakin terjaga,”ujar Taufik Setyadi, Administratur Perum Perhutani Jember, usai pelaksanaan Mou dengan Kepala Kejaksaan Negeri Jember.
Penandatanganan MoU yang dilakukan Aula Kantor Perhutani Jember itu dimaksudkan untuk menegaskan komitment perhutani yang sudah bertekat menjaga hutan secara maksimal. Lampu hijau dan kimitment sama juga dikeluarkan oleh pihak penegak hukum seperti Kejaksaan. ”Kesepahaman ini kemudian kami tegaskan untuk lebih baik dan saling mengikat, sehingga langkah kami menjadi semakin mantap,”tambah taufik.
Berdasarkan data yang dimilik Perhutani, Jember memiliki Hutan seluas 72 ribu hektar. Sebagian besar dari jumlah itu saat ini sedang mengalami kerusakan. Padahal, jika kerusakan itu dibiarkan berlarut larut, maka bukan hal mustahil akan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup manusia.
Realitas Jember sudah beberapa kali mengalami dan menghadapi bencana banjir bandanag khususnya awal tahun 2006 lalu, menjadikan pemerintah dan masyarakat harus kembali melakukan penelitian tentang penyebab mendasar dari bencana itu. Faktanya, bencana selalu terjadi karena kondisi hutan yang sudah sangat rusak dan gundul telah membuat kehidupan masyarakat jadi sengsara.
Oleh karena itu, kata Taufik, penjagaan dan pemulihan Ekologi dan ekosistem hutan harus secepatnya kembali dilakukan. Pasalnya, kedua faktor tersebut telah terbuktimenjadi suplayer besar yang sanggup menjadi penopang kehidupan (Life Supporting System). “Sesuai dengan yang diamanatkan Negara kepada Perhutani sebagai BUMN,”tambah taufik.
Taufik juga menandaskan, Mou yang diteken dengan kejaksaan itu akan dimanfaatkan secara positif untuk penegakan hukum. Selama ini, diakui masih banyak persoalan perusakan hutan yang masih sulit diproses secara maksimal. Selain karena barang bukti yang tidak terpenuhi, faktor non tekhnis juga masih sering menjadi kendala.
Dengan modal seratus persen hutan yang menjadi milik Negara yang diamanatkan kepada Perhutani. Tanpa dukungan seua pihak termasuk Kajari, tidak ada artinya. “Kita tidak akan mampu memberikan perlindungan hutan secara maksimal,”jelasn
“Berharap semua pihak bisa membantu Perhutani menjaga dan melindungi asset yang menjadi milik Negara termasuk hutan, karena yang ditanampun dengan menggunakan duit negara,”tandas Taufik.
Didepan jajaran Kajari Jember Taufik mengungkapkan bahwa penanganan hutan di Jember seluas 27 hetar lebih dengan melibatkan masyarakat Jember ternyata tidak hanya saja diperlukan langkah penghijauan, tapi juga diperlukan penyadaran kepada masyarakat Jember.
“Karena masyarakat Jember dalam merambah hutan di Jember berbeda tipologinya dengan daerah lainnya, tidak saja hanya menebang pohon yang menjadi milik Perhutani tetapi masyarakat juga menguasai dan mengambil lahannya,”terangnya.
Ada sekitar 800 hektar kawasan hutan di Jember yang dijadikan pemukiman oleh perambah hutan. “Rumah dikawasan hutan ada yang mulai tahun 1942 dan ada juga tahun 1962. Bahkan yang barupun juga ada,”pungkas Taufik.
Sehingga kawasan hutan yang rusak menurut Taufik ada sekitar 3 sampai 5 ribu hektar. “Kawasan itu yang tidak lagi menjadi penopang kehidupan bagi kehidupan flora dan fauna, utamanya masyarakat Jember sehingga hutan di Jember perlu pengawasan secara terpadu oleh semua pihak,”tambahnya.(hh)
Selengkapnya.....

Khofifah Proyeksikan BLT Untuk Pembangunan Infrastruktur

JEMBER – Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang oleh Pemerintah dikucurkan sebagai kompensasi terhadap naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai Khofifah Indar Parawansa tidak setrategis. Pasalnya, masyarakat miskin Indonesia dan Jawa Timur secara optimal harus diarahkan untuk lebih mandiri dan produktif.

Khofifah mengaku setuju BLT hanya diberikan kepada masyarakat miskin yang sudah berusia senja, tetapi bagi masyarakat miskin yang masih masuk kategori produktif sebaiknya dilakukan perlakuan khusus. “Sehingga bantuan pemerintah BLT tidak akan sia-sia. Harus ada pemetaan dan pembeda BLT itu diberikan tunai kepada siapa dan tidak tunai kepada siapa,”ujarnya, usai melakukan kunjungan langsung kepada para pedagang di Pasar Tanjung Jember kemarin pagi.

Calon Gubernur PPP dan 12 Parpol Non Parlemen itu menegaskan, nilai BLT secara Nasional sangat besar nilainya. Kompensasi tunai kepada maskin itu mencapai angka Rp 52 Trilyun. Nilai itu akan sangat berarti jika penggunaan dan distribusinya kepada maskin dirupakan dalam bentuk yang lebih setrategis dan bersifat jangka panjang.

“Saya yakin kalau masyarakat kita yang masih produktif diajak berembug untuk menerawang lebih jauh, pasti bisa. Sehingga BLT tidak dialirkan begitu saja tanpa perencanaan yang matang. Jangan hanya asal masuk kategori miskin lalu di beri BLT,”terangnya. Ketua Umum PP Muslimat NU itu menegaskan, jika dirinya dipercaya masyarakat dan berkesempatan menjadi Gubernur Jawa Timur di masa mendatang, maka dirinya akan melakukan pembangunan manusia lebih utuh lagi. BLT akan dikelola sesuai peruntukan yang lebih baik. “Bagi masyarakat miskin usia senja, mutlak harus diberi bantuan tunai, karena sudah tidak mungkin dipacu untuk produktif,”kata Khofifah.

Namun bagi yang usianya masih muda dan produktif harus diajak berpikir jangka panjang. “Misalnya disuatu daerah, sektor pertanian sangat dominan, maka dana BLT harus diarahkan untuk pembangunan infra setruktur pertanian, agar pengelolaan persawahan ke depan menjadi lebih baik dan mantap,”tembah pasangan Kaji-Mantep itu menjelaskan kiatnya. Dielukan Masyarakat

Kehadiran Khofifah ke Jember yang didampingi Ny Hasyim Muzadi, Ny Makkiyah As’ad, Nyai Fawaid As’ad, dan Nyai Nihayah Ahmad Sidhiq kemarin pagi benar-benar mendapatkan sambutan luar biasa. Sejak muncul pertama di kediaman Ny Nihayah Ahmad Sidhiq di PP Asri Talangsari Jember kemarin, Khofifah langsung disambut meriah masyarakat sekitar. Kesan bersahabat penuh kekerabatan semakin nampak saat calon Gubernur Jatim itu berkunjung di Pasar Tanjung. Hampir seluruh pemilik stand dipasar tradiosional yang didomasi kaum ibu itu berebut untuk bisa bersalaman dengan khofifah. “Bu Khofifah, semoga sukses dan menjadi Gubernur beneran,”ujar salah satu pemilik stand memeluk Kader NU tersebut.

Di Pasar Tanjung, Khofifah menyempatkan diri ngobrol dengan para pemilik toko. Perbincangan di seputar lonjakan harga pasca kenaikan BBM nampak menjadi topik utama yang ditanyakan oleh ibu-ibu. Sementara, Khofifah berjanji akan mencarikan torobosan untuk bisa mengatasi dampak kenaikan BBM itu secepatnya jika dirinya mendapatkan kepercayaan memimpin Jawa Timur.

Selain pasar Tanjung, Khofifah juga menyempatkan diri bertemu dengan kaum Muslimat NU yang menggelar istighosah di Halaman RS Munaparahita Jember. Meskipun tidak bisa lama, tetapi ratusan massa Muslimat yang hadir cukup puas dan terkesan dengan kehadiran Khofifah. “Salam saya kepada para Bapak yang di rumah agar tidak berpindah kelain hati,”ujar Khofifah disambut tepuk tangan hadirin.

Usai bertemu kaum ibu-ibu, Khofifah melanjutkan perjalanan ke acara Diklat dan LP-PPP (Team Pemenangan Kaji) untuk para PAC PPP se Kabupaten Jember. Sejam kemudian Khofifah mohon diri dan langsung bertemu ribuan Para Guru Ngaji yang sudah menunggu di PP Kasyiful Ulum Rowotamtu Jember. Selain para guru Ngaji, juga hadir memberikan dorongan dua kiai dan Tokoh PPP Tapal Kuda KH Fawaid As’ad (Situbondo) Dan KH Mochtar Busthomi (Jember).(hh)
Selengkapnya.....

Rabu, 09 April 2008

Tahun 2008, Jember Kembangkan Kelapa Kopyor


JEMBER – Tahun 2008, Dinas Pekebunan dan Kehutanan Kabupaten Jember mulai melirik komoditas kelapa kopyor untuk dibudidayakan di areal perkebunan Jember. Pasalnya, perubahan genetika Kepala itu dipandang bisa menjadi daya tarik tersendiri mulai saat ditanam dari bibit hingga berbuah.
Ide dasar untuk melakukan pembudidayaan itu muncul ketika usai melakukan kunjungan ke Pusat Penelitian Jember bulan Pebruari 2007 lalu. Ditempat itu, informasi terkait budi daya kelapa kopyor yang dapat menghasilkan buah kopyor secara keseluruhan bisa diiserap. “Bibitnya dapat diperoleh dari Puslit Bogor yang sudah jadi dan Tahun 2008 ini akan kita kembangkan budi daya kelapa kopyor di Jember,”jelas Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Jember Dwijo Sulastiono.
Ditambahkan Dwijo, pengembangan budi daya kelapa kopyor di Jember pada tahun ini akan menggunakan anggaran APBD. “Penggunaannya selain untuk pembelian bibit, transportasi juga diperuntukkan pembinaan pada calon petani kelapa kopyor dan sebagainya,”imbuhnya.
Rencananya pada tahun ini pula akan disebarkan maksimal 100 bibit dari Puslit Bogor ke masyarakat. “Hanya saja pada tahap awal ini masih belum ditentukan dan masih dilakukan kajian terapan dilokasi karena perlakukan bibit kelapa kopyor harus jauh dari kelapa jenis lainnya,”tandas Dwijo.
Perlakuan yang khusus pada bibit kelapa kopyor yang akan disebarkan kemasyarakat itu akan diberlakukan beberapa persayaratan tanam. Misalnya, harus seteril minimal 100 meter dengan jenis kelapa lainnya. “Dikawatirkan jika berdekatan akan terjadi penyerbukan silang dengan kelapa jenis lain dan akan mempengaruhi calon buahnya,”cetus Dwijo.
Untuk karekter kecocokan lokasi yang cocok untuk membudidayakan kelapa kopyor, menurut Dwijo tidak dipengaruhi tinggi rendahnya tempat. “Lokasi dengan ketinggian 1000 meter dari atas lautpun bisa ditanami kelapa kopyor, apalagi tempat yang rendah juga bisa ditanami,”tambahnya.
Perkembangan kelapa kopyor yang terjadi sekarang menurut Dwijo ada perubahan genetika kelapa kopyor dari Puslit Bogor. “Dijamin mulai dari bibit kelapa kopyor saat besar dan buah nantinya akan menjadi kopyor semua, itu yang ingin dikembangkan,”jelasnya.
Lebih lanjut menurut Dwijo kelapa kopyor pada dewasa ini ternyata memiliki pangsa pasar yang menjanjikan disukai masyarakat dari kalangan menengah keatas. “Apalagi terkait cita rasa yang khas, berbeda dengan rasa kelapa muda pada umumnya,”tandasnya.
Dijelaskan lebih jauh oleh Dwijo pangsa pasar kelapa kopyor di dalam negeri sanga kurang dan sangat membutuhkan banyak. “Di Jember dan sekitarnya aja banyak hotel dan rumah makan yang membutuhkan komoditi itu,”katanya.
Buah kelapa kopyor menurut Dwijo karena langka dipasaran selain sangat menjanjikan. Harganyapun sangat tinggi dibanding dengan kelapa muda. “Karena kelangkaannya dipasaran maka harga kelapa kopyor yang dijual oleh menjadi mahal per butirnya bisa seharga 12 ribu dibanding kelapa muda yang harga sekitar 1.500 sampai 2.000 per butir,”jelasnya.
Berangkat dari situ melihat kelangkaan kelapa kopyor dimasyarakat dan harga sangat menjanjikan Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Jember tahun ini mengembangkan komoditi itu. “Apalagi di Jember belum ada perlu kiranya dikembangkan budi daya kelapa
kopyor di masyarakat kita,”ungkap Dwijo.(hh)
Selengkapnya.....