Akhir drama Centurygate tinggal beberapa hari lagi. Agendanya, 17 Februari besok Pansus akan membuat simpulan akhir dan hasilnya akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR pada 2 Maret 2010. Guna mengawal hasil akhir pansus, anggota Pansus Century dari Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo menyerukan masyarakat untuk menyiapkan telor busuk pada 2 Maret tersebut.
"Silakan datang ke DPR dengan membawa telor busuk. Lalu, sambitlah mobil-mobil para anggota dengan telor busuk jika mereka membelok dari simpulan akhir Pansus," kata Bambang dalam diskusi Centurygate di Kampus Paramadina, Jalan Gatot Soebroto, Sabtu (13/2/2010).
Seruan tersebut untuk mengawal putusan sementara Pansus Century dengan skor 7:2. Guna mencegah perubahan skor, Bambang berharap peran aktif masyarakat untuk turun ke jalan pada 2 Maret.
"Nanti kan ketahuan di Paripurna, siapa saja yang berubah dan membelot," tambahnya.
Terkait perubahan suara, Partai Golkar mengaku takkan berubah. Meski banyak
gerilya politik, dari penangkapan petinggi politik dengan kasus korupsi, isu
mengemplang pajak hingga penawaran jabatan, Partai Golkar tetap yakin jika
bailout century melanggar hukum.
"Kita bisa lihat, siapa yang tiba-tiba ditangkap dan sebagainya. Kalau Golkar jelas, masalah pajak itu masalah murni bisnis," bebernya.
Seruan ini disambut oleh anggota Pansus lainnya, Ahmad Yani dari PPP dengan
dukungan aksi lempar telor busuk. Menurutnya, PP akan tetap bersikukuh dengan simpulan sementara, simpulan akhir dan sampai ke sidang Paripurna.
"Insya Allah PPP tetap dengan simpulan sementara,” pungkasnya
Selengkapnya.....
Minggu, 14 Februari 2010
Kohati Gelar Seminar Kesehatan Bagi Remaja
Banyuwangi (jurnalbesuki.com) - Sebanyak 160 remaja dari kalangan pelajar dan mahasiswa di Banyuwangi, Minggu (14/2) mengikuti acara seminar tentang Kesehatan Reproduksi Wanita yang digelar oleh Korp HMI Wati (Kohati) Banyuwangi. Acara yang digelar di Aula Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi dan menampilkan tiga orang pembicara itu banyak mengungkap tentang berbagai hal terkait dengan kesehatan reproduksi wanita.Ketua Panitia penyelenggara, Mu'awwanah, kepada jurnalbesuki.com menjelaskan, acara seminar ini sengaja digelar dalam rangka hari kasih sayang (Valentine day). “Biasanya, hari valentine seperti ini dirayakan oleh kaum remaja dengan hedonisme serta sex bebas. Tapi Kohati sebagai organisasi mahasiswa yang bergerak dibidang keperempuanan ingin memberikan kegiatan positif yang dipermak dalam sebuah pelatihan bertema remaja dan kesehatan. Dengan maksud, supaya memberikan solusi gaya hidup sehat bagi kalangan remaja modern,” jelas Muawwanah. Menurutnya, penting artinya bagi kalangan remaja untuk mengetahui dan memahami secara dini berbagai hal tentang kesehatan, khususnya menyangkut kesehatan reproduksi wanita. “Sebagai calon orang tua mereka juga harus memahami tentang kesehatan reproduksi.
Tiga pembicara yang ditampilkan dalam seminar tersebut yakni: Betty Kumala Febriawati, S.Psi yang mengupas tuntas tentang Perkembangan Psikologi Remaja, Direktur RSNU Banayuwangi, dr Taufik Hidayat, Sp.An., yang mengupas tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dan Hakim Pengadilan Agama Banyuwangi, Drs Nur Choszin Cholil yang membawakan tema tentang pernikahan usia dini. (jurnalbesuki.com)
Selengkapnya.....
Tiga pembicara yang ditampilkan dalam seminar tersebut yakni: Betty Kumala Febriawati, S.Psi yang mengupas tuntas tentang Perkembangan Psikologi Remaja, Direktur RSNU Banayuwangi, dr Taufik Hidayat, Sp.An., yang mengupas tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dan Hakim Pengadilan Agama Banyuwangi, Drs Nur Choszin Cholil yang membawakan tema tentang pernikahan usia dini. (jurnalbesuki.com)
Sabtu, 13 Februari 2010
Ada Insentif, Guru Madrasah Meningkat
Jember - Data guru madrasah diniyah (sekolah agama Islam) di Jawa Timur amburadul. Jumlah guru madrasah melonjak tiga kali lipat, begitu ada pendataan untuk pengucuran dana insentif Ro 250 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Amburadulnya data ini diakui Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, saat memberikan sambutan acara wisuda Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Falah Assunniyah (Staifas) Kencong
"Dari 26 ribu guru menjadi 86 ribu guru. Karena memang belum pernah didata secara resmi. Akhirnya agak 'kelabakan'," katanya.
Padahal, rencananya Pemprov hendak memberikan insentif untuk setiap guru madrasah diniyah Rp 600 ribu per bulan. Namun, gara-gara adanya pertambahan jumlah yang luar biasa, insentif akhirnya cuma Rp 300 ribu per bulan. Dana insentif ini berbagi dengan dana pemerintah kota/kabupaten (sharing).
Dari 38 kabupaten/kota, baru 18 kabupaten/kota yang siap memberikan dana sharing. Kabupaten/kota yang belum siap beralasan tidak dianggarkan. "Ya, sekuat apapun sharingnya, dana pemprov tetap (akan diberikan)," kata Gus Ipul. Namun, karena kemampuan sharing setiap daerah berbeda-beda, maka jumlah insentif yang diterima masing-masing guru di setiap daerah akan berbeda-beda.
Amburadulnya pendataan guru diniyah tak lepas dari minimnya perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan agama. "Dulu pondok tidak dianggap sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional," katanya.
Gus Ipul masih ingat bagaimana para kiai lulusan pondok pesantren besar sekalipun, seperti Lirboyo, kesulitan mendaftarkan diri menjadi calon legislator. Ini dikarenakan ijazah lulusan madrasah diniyah ponpes tak diakui. "Walau pun pandai dianggap bodoh. Maka, banyak yang mencari ijazah-ijazahan. Ketika menjadi anggota DPR menjadi masalah," katanya. (sumber : jurnalbesuki.com)
Selengkapnya.....
"Dari 26 ribu guru menjadi 86 ribu guru. Karena memang belum pernah didata secara resmi. Akhirnya agak 'kelabakan'," katanya.
Padahal, rencananya Pemprov hendak memberikan insentif untuk setiap guru madrasah diniyah Rp 600 ribu per bulan. Namun, gara-gara adanya pertambahan jumlah yang luar biasa, insentif akhirnya cuma Rp 300 ribu per bulan. Dana insentif ini berbagi dengan dana pemerintah kota/kabupaten (sharing).
Dari 38 kabupaten/kota, baru 18 kabupaten/kota yang siap memberikan dana sharing. Kabupaten/kota yang belum siap beralasan tidak dianggarkan. "Ya, sekuat apapun sharingnya, dana pemprov tetap (akan diberikan)," kata Gus Ipul. Namun, karena kemampuan sharing setiap daerah berbeda-beda, maka jumlah insentif yang diterima masing-masing guru di setiap daerah akan berbeda-beda.
Amburadulnya pendataan guru diniyah tak lepas dari minimnya perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan agama. "Dulu pondok tidak dianggap sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional," katanya.
Gus Ipul masih ingat bagaimana para kiai lulusan pondok pesantren besar sekalipun, seperti Lirboyo, kesulitan mendaftarkan diri menjadi calon legislator. Ini dikarenakan ijazah lulusan madrasah diniyah ponpes tak diakui. "Walau pun pandai dianggap bodoh. Maka, banyak yang mencari ijazah-ijazahan. Ketika menjadi anggota DPR menjadi masalah," katanya. (sumber : jurnalbesuki.com)
Memalukan! Bu Guru dan Wartawan Mesum di Hotel
Banyuwangi - Memalukan! Kata itulah kiranya yang tepat bagi perbuatan oknum wartawan dan bu guru ini. Betapa tidak, keduanya tertangkap basah bermesum ria di sebuah kamar hotel, Kamis (11/2/2010). Padahal, keduanya sama-sama sudah berumah tangga. Yang lebih ironis, perbuatan itu dilakukan pada saat bu guru tersebut seharusnya berada di sekolah untuk mengajar.
Kedua orang tersebut adalah Mul (42), warga Desa Sukonatar, Kecamatan Srono. Sedangkan pasangan selingkuhnya bernama Is (40), ibu dua anak asal Desa Wonosobo, Kecamatan Srono. Is selama ini dikenal sebagai guru SD.
Penggerebekan dilakukan setelah polisi mendapat informasi dari warga. Kecurigaan berawal saat Is dibonceng motor masuk kamar hotel dengan mengenakan baju safari yang biasa digunakan untuk mengajar di sekolah. Apalagi pria yang memboncengnya diketahui bukan suami Is. Dari situlah semakin kuat dugaan kalau saat itu Is dan laki-laki itu hendak berselingkuh.
Aparat sempat kebingungan mencari kamar tempat keduanya check-in. Apalagi Mul ternyata memarkir motornya di dalam kamar hotel yang berlokasi di desa Jajag, kecamatan Gambiran itu.
Saat digerebek, Mul mengaku sebagai wartawan koran mingguan. “Ini kartu KTP dan kartu pers saya,” ucapnya. Is sendiri kala itu berada di kamar mandi. “Istri saya masih buang hajat,” kelit Mul kepada aparat dengan menyebut Is sebagai istrinya.
Kuat dugaan, ketika aparat datang melakukan penggerebekan keduanya baru saja melakukan hubungan badan. Itu terlihat dari tubuh keduanya yang mandi keringat. Ranjang kamar 07 tempat mereka menginap pun acak-acakkan. Polisi lalu membawa keduanya ke Mapolsek Gambiran.
Saat ditanya status hubungan mereka, baik Mul maupun Is menjawab sebagai suami istri. Keduanya mengaku telah menikah secara siri. Mul mengaku menjalin hubungan dengan Is sejak dua tahun lalu. Ketika diberitahu bahwa Is masih berstatus istri orang, Mul langsung menjawab, "Saya tahunya dia janda."
Beberapa jam kemudian, STK, suami Is datang ke Mapolsek Gambiran untuk memastikan perselingkuhan istrinya. Staf Dinas Perkebunan itu nampak shok melihat tingkah istrinya.
Kapolsek Gambiran, AKP Makruf menjelaskan bahwa Mul sudah pernah kepergok melakukan ulah serupa. “Dulu Mul pernah dihajar suami Is. Sekarang diulangi lagi,” terangnya. (disadur dari : jurnalbesuki.com)
Selengkapnya.....
Kedua orang tersebut adalah Mul (42), warga Desa Sukonatar, Kecamatan Srono. Sedangkan pasangan selingkuhnya bernama Is (40), ibu dua anak asal Desa Wonosobo, Kecamatan Srono. Is selama ini dikenal sebagai guru SD.
Penggerebekan dilakukan setelah polisi mendapat informasi dari warga. Kecurigaan berawal saat Is dibonceng motor masuk kamar hotel dengan mengenakan baju safari yang biasa digunakan untuk mengajar di sekolah. Apalagi pria yang memboncengnya diketahui bukan suami Is. Dari situlah semakin kuat dugaan kalau saat itu Is dan laki-laki itu hendak berselingkuh.
Aparat sempat kebingungan mencari kamar tempat keduanya check-in. Apalagi Mul ternyata memarkir motornya di dalam kamar hotel yang berlokasi di desa Jajag, kecamatan Gambiran itu.
Saat digerebek, Mul mengaku sebagai wartawan koran mingguan. “Ini kartu KTP dan kartu pers saya,” ucapnya. Is sendiri kala itu berada di kamar mandi. “Istri saya masih buang hajat,” kelit Mul kepada aparat dengan menyebut Is sebagai istrinya.
Kuat dugaan, ketika aparat datang melakukan penggerebekan keduanya baru saja melakukan hubungan badan. Itu terlihat dari tubuh keduanya yang mandi keringat. Ranjang kamar 07 tempat mereka menginap pun acak-acakkan. Polisi lalu membawa keduanya ke Mapolsek Gambiran.
Saat ditanya status hubungan mereka, baik Mul maupun Is menjawab sebagai suami istri. Keduanya mengaku telah menikah secara siri. Mul mengaku menjalin hubungan dengan Is sejak dua tahun lalu. Ketika diberitahu bahwa Is masih berstatus istri orang, Mul langsung menjawab, "Saya tahunya dia janda."
Beberapa jam kemudian, STK, suami Is datang ke Mapolsek Gambiran untuk memastikan perselingkuhan istrinya. Staf Dinas Perkebunan itu nampak shok melihat tingkah istrinya.
Kapolsek Gambiran, AKP Makruf menjelaskan bahwa Mul sudah pernah kepergok melakukan ulah serupa. “Dulu Mul pernah dihajar suami Is. Sekarang diulangi lagi,” terangnya. (disadur dari : jurnalbesuki.com)
Minggu, 01 November 2009
Pemkab Himbau PNS Tidak Menuntut Lauk Pauk
Pemerintah Kabupaten Jember kembali mengambil sikap tegas untuk tidak mengeluarkan Tunjangan Lauk Pauk bagi kalangn Pegawai Negeri Sipil Dilingkungannya. Dan untuk kesekian kalinya, Bupati Jember MZA Djalal menjelaskan alasan prinsip dalam mengambil kebijakan tesebut.
Kalau dilihat dari angka, nilai APBD Kabupaten Jember yang mencapai 1 trilyun lebih memang Nampak jauh diatas nilai APBD daerah lain. “Tetapi jumlah penduduk kita juga besar, mencapai 2,2 juta. Karenanya jangan membandingkan kondisi Jember dengan daerah lain,”ujar MZA Djalal ketika memberikan pengarahan disebuah acara di Mumbulsari.
Tahun 2010, kebijakan itu juga tidak berubah. Artinya tunjangan Lauk Pauk tetap tidak akan dicairkan. Para PNS diminta untuk memahami kondisi dan kebutuhan pembangunan untuk masyarakat. Sebab dari jumlah nilai APBD itu, yang terserap untuk pengeluaran gaji dan belanja rutin pegawai mencapai 60 persen. Jika dirupiahkan, pengeluaran itu mencapai Rp 850 milyar.
Dengan demikian sisa nilai APBD untuk dialokasikan pada pembangunan hanya tinggal 40 persen saja. “Jika sisa anggaran itu masih harus dikeluarkan lagi untuk memenuhi tunjangan Lauk Pauk, maka pembangunan untuk rakyat akan semakin sedikit. Kan kasihan rakyat,”terang Djalal.
Pencairan uang Lauk Pauk akan mengakibatkan jumlah pengeluaran rutin pemerintah untuk pegawai semakin membengkak. Jika hal itu dibiarkan, maka resikonya akan membuat perjalanan pembangunan dan pemerintah menjadi terkendala serius. “Kalau hak-hak pegawai ini dituruti maka pemkab tidak akan berjalan. Ada kecenderungan belanja pegawai ini terus naik,” tandas Djalal.
Djalal mengaku memang berkepentingan untuk memberikan penjelasan. Dia mengaku sering mendapat SMS yang mempertanyakan uang Lauk Pauk. “Kalau untuk Lauk Pauk, saya mohon maaf tidak bisa mengeluarkan,”katanya menjawab SMS yang masuk ke ponselnya.
Sementara, Kepala Bagian Humas Pemkab Jember, Drs Agoes Slameto, M.Si, menyetakan bahwa penjelasan yang disampaikan bupati untuk memjelaskan kepada semua pihak, utamanya kalangan PNS, bahwa uang LP tidak akan pernah ada atau dengan kata lain Pemkab Jember belum bisa meluluskan harapan kalangan pegawai itu. “Kalau uang LP diminta, mohon maaf saya belum bisa menuruti,” jelas Agoes, seraya menirukan pernyataan Bupati Djalal.
Kesulitan Pemkab Jember untuk memenuhi harapan kalangan pegawai negeri atas uang LP ini, mengingat keuangan untuk keperluan tersebut tidak tersedia. Terlebih lagi, dana yang dibutuhkan, terbilang cukup besar, bahkan bisa mengganggu program pembangunan.
Dijelaskan Agoes, uang LP yang banyak dipertanyakan kalangan pegawai ini memang perlu dijelaskan rinci, agar bisa dipahami bersama dan tidak menimbulkan persepsi macam-macam. Mengingat selama ini, kalangan pegawai, khususnya guru banyak yang menanyakan soal kapan uang tersebut akan dicairkan.“Ini memang perlu dijelaskan, agar saya tidak di sms terus. Ada yang menanyakan kapan LP cair, mengapa Jember tidak mencairkan LP padahal daerah lain sudah. Malahan ada yang mengatakan, kalau LP tidak dicairkan, saya tidak akan mendukung Pak Djalal (untuk Pilkada 2010),” ujar Agoes, yang lagi-lagi mengutip pernyataan yang disampaikan Bupati Djalal, pada acara Dialog Solutif di Kecamatan Mayang itu. (Ahmad Hasan Halim) Selengkapnya.....
Kalau dilihat dari angka, nilai APBD Kabupaten Jember yang mencapai 1 trilyun lebih memang Nampak jauh diatas nilai APBD daerah lain. “Tetapi jumlah penduduk kita juga besar, mencapai 2,2 juta. Karenanya jangan membandingkan kondisi Jember dengan daerah lain,”ujar MZA Djalal ketika memberikan pengarahan disebuah acara di Mumbulsari.
Tahun 2010, kebijakan itu juga tidak berubah. Artinya tunjangan Lauk Pauk tetap tidak akan dicairkan. Para PNS diminta untuk memahami kondisi dan kebutuhan pembangunan untuk masyarakat. Sebab dari jumlah nilai APBD itu, yang terserap untuk pengeluaran gaji dan belanja rutin pegawai mencapai 60 persen. Jika dirupiahkan, pengeluaran itu mencapai Rp 850 milyar.
Dengan demikian sisa nilai APBD untuk dialokasikan pada pembangunan hanya tinggal 40 persen saja. “Jika sisa anggaran itu masih harus dikeluarkan lagi untuk memenuhi tunjangan Lauk Pauk, maka pembangunan untuk rakyat akan semakin sedikit. Kan kasihan rakyat,”terang Djalal.
Pencairan uang Lauk Pauk akan mengakibatkan jumlah pengeluaran rutin pemerintah untuk pegawai semakin membengkak. Jika hal itu dibiarkan, maka resikonya akan membuat perjalanan pembangunan dan pemerintah menjadi terkendala serius. “Kalau hak-hak pegawai ini dituruti maka pemkab tidak akan berjalan. Ada kecenderungan belanja pegawai ini terus naik,” tandas Djalal.
Djalal mengaku memang berkepentingan untuk memberikan penjelasan. Dia mengaku sering mendapat SMS yang mempertanyakan uang Lauk Pauk. “Kalau untuk Lauk Pauk, saya mohon maaf tidak bisa mengeluarkan,”katanya menjawab SMS yang masuk ke ponselnya.
Sementara, Kepala Bagian Humas Pemkab Jember, Drs Agoes Slameto, M.Si, menyetakan bahwa penjelasan yang disampaikan bupati untuk memjelaskan kepada semua pihak, utamanya kalangan PNS, bahwa uang LP tidak akan pernah ada atau dengan kata lain Pemkab Jember belum bisa meluluskan harapan kalangan pegawai itu. “Kalau uang LP diminta, mohon maaf saya belum bisa menuruti,” jelas Agoes, seraya menirukan pernyataan Bupati Djalal.
Kesulitan Pemkab Jember untuk memenuhi harapan kalangan pegawai negeri atas uang LP ini, mengingat keuangan untuk keperluan tersebut tidak tersedia. Terlebih lagi, dana yang dibutuhkan, terbilang cukup besar, bahkan bisa mengganggu program pembangunan.
Dijelaskan Agoes, uang LP yang banyak dipertanyakan kalangan pegawai ini memang perlu dijelaskan rinci, agar bisa dipahami bersama dan tidak menimbulkan persepsi macam-macam. Mengingat selama ini, kalangan pegawai, khususnya guru banyak yang menanyakan soal kapan uang tersebut akan dicairkan.“Ini memang perlu dijelaskan, agar saya tidak di sms terus. Ada yang menanyakan kapan LP cair, mengapa Jember tidak mencairkan LP padahal daerah lain sudah. Malahan ada yang mengatakan, kalau LP tidak dicairkan, saya tidak akan mendukung Pak Djalal (untuk Pilkada 2010),” ujar Agoes, yang lagi-lagi mengutip pernyataan yang disampaikan Bupati Djalal, pada acara Dialog Solutif di Kecamatan Mayang itu. (Ahmad Hasan Halim) Selengkapnya.....
Kamis, 24 September 2009
Pembebasan dari Belenggu Lingkungan Sosial
Kalau dulu pengaruh buruk sering didentifikasi sebagai pengaruh yang datang dari luar, dari masyarakat lain atau dari kebudayaan lain, tetapi sekarang ini ketika situasi sosial telah sedemikian buruk, maka sistem tersebut dengan sendirinya telah memaksa manusia yang hidup di dalamnya untuk turut dalam derap sosial yang sedang menuju pada kenistaan. Dalam situasi begini maka bermasyarakt berarti juga berisiko menghadapi situasi buruk, karena semu teah terdorong untuk melakukan perbuatan nista, seperti mengajarkan kebencian, kerakusan, kekerasan dan sebagainya. Konsep uzlah bahkan hijrah yang dilakukan para Nabi berangkat dari situasi sosial seperti ini.
Menghadapi situasi zaman atau keadaan sosial yang sudah rusak seperti itu kalangan ulama Jawa mengajarkan apa yang disebut dengan topo ngeli (tetap bergaul tapi tidak larut) dengan harapan agar tidak tenggelam dalam kegelapan moral, sehingga tetap bisa menjaga norma agama dan norma sosial yang sehat. Bila orang sudah bisa mensikapi perkembangan sosial seperti itu maka dia disebut sebagai orang yang mati sajeruning urip (mati ketika masih hidup). Mampu menahan semoa godaan hidup sebagaimana dituntut oleh situasi sosial yang ada.
Puasa dalam Islam adalah sebagai upaya mengatasi berbagai problem sosial yang dihadapi terutama soal moral. Bagi orang kebanyakan yang masih pada taraf nafsu bahimiah (jiwa binatang), maka dengan keserakahannya akan sulit menahan godaan nafsu duniawi. Sebaliknya bagi orang yang telah mencapai nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang), akan mampu menghadapi godaan seberapapun beratnya, baik berupa harta maupun kekuasaan.
Kondisi sosial kita sekarang ini telah demikian buruk, di mana seluruh kehidupan telah diliberalisasi, sehingga hubungan antar masnuisa menjadi sedemikian renggang, masing-masing menjadi pesaing dari yang lain. Bersaing dalam memperoleh harta, bersaing memperebutkan pangkat dan kedudukan, bersaing mendapatkan ketenaran. Kesemuanya berujung pada satu tujuan yaitu harta. Persaingan itu ditempuh dengan cara menipu, menjegal berkhianat dan sebagainya. Inilah karakter zaman kita sekarang ini, kejujuran dan kebenaran dianggap tidak relevan.
Puasa yang kita jalankan sebagai sarana untuk memcapai ketakwaan itu sekaligus merupakan sarana untuk menghadapi situasi sosial yang buruk seperti sekarang ini. Tetapi ketika peningkatan ketakwaan belum juga diperoleh, hari telah keburu lebaran sebagai hari pembebasan, bebas dari belenggu sosial yang mengarah pada amoralitas. Dalam konteks ini hari lebaran merupakan hari pebuktian apakah benar-benar puasa kita mencapai ketakwaan, sehingga membawa pada pembebasan. Kalau setelah lebaran seseorang mampu membebaskan dari kultur sosial yang hitam yang liberal dan kapitalistik ini berarati mereka telah memperoleh ketakwaan dan mampu membebaskan diri dari cengkeraman sosial yang merusak.
Tetapi kalau setelah lebaran mereka semakin kuat mengikuti arus tanpa sedikitpun melakukan resistensi terhadap arus budaya massa yang konsumtif, hedonis, maka itu berarati mereka sama sekali tidak berlebaran, tidak memperoleh pembebasan, karena puasanya tidak mengarah pada ketakwaan. Hal iti tidak lain ketika berpuasa nafsu bahimiyah (binatang) tetap menguasai jiwanya sehingga dalam melaksanakan puasa semakin banyak makan dan minum. Kezuhudan bukan diutamakan, sebaliknya ketamakan yang ditampakkan, sehingga nafsu mengumpulkan berbagai kesenangan duniawi lebih ditonjolkan ketimbang upaya meraih kebahagiaan ukhrawi.
Dalam situasi sosial dan politik yang buruk seperti ini dimana setiap orang yang hidup didalamnya harus mengikuti arus dan logika yang mereka gerakkan. Sistem sosial yang liberal kapitalistik ini punya pengaruh besar dalam pembentukan sikap dan kepribadian seseorang, sehingga dengan mudah orang menyesuaikan diri dengannya. Dan amat berat bisa bertahan dari pengaruh sistem ini, kecuali orang yang sudah bisa melakukan topo ngeli atau melakukan mati sajeruning urip, inilah yang disebut dengan hidup asketik yang dlam tasawuf disebut sebagai zuhud, sebiah tahapan awal menuju takarub keada Allah. Puasa merupakan langkah ke sana dan Lebaran merupakan momentum pembuktiannya.
Untuk memperbaiki masyarakat yang telah terbelenggu dalam sistem ini tidak cukup hanya dengan memperbaiki manusia sebagai individu. Melakukan perombakan total dari sistem sosial, atau revolusi sosial ini merupakan langkah strategis yang harus dtempuh. Sekuat apapun membina mental anggota masyarakat kalau situasi sosial tempat dia hidup masih buruk, maka orang akan cenderung berperilaku buruk, ketiak keburukan telah menjadi kelaziman dan tidak adalagi kontrol sosial unuk mencegah keburukan. Revolusi sosial sangat penting sebagai pijakan bagi revolusi moral. (Abdul Mun’im DZ/nuo) Selengkapnya.....
Menghadapi situasi zaman atau keadaan sosial yang sudah rusak seperti itu kalangan ulama Jawa mengajarkan apa yang disebut dengan topo ngeli (tetap bergaul tapi tidak larut) dengan harapan agar tidak tenggelam dalam kegelapan moral, sehingga tetap bisa menjaga norma agama dan norma sosial yang sehat. Bila orang sudah bisa mensikapi perkembangan sosial seperti itu maka dia disebut sebagai orang yang mati sajeruning urip (mati ketika masih hidup). Mampu menahan semoa godaan hidup sebagaimana dituntut oleh situasi sosial yang ada.
Puasa dalam Islam adalah sebagai upaya mengatasi berbagai problem sosial yang dihadapi terutama soal moral. Bagi orang kebanyakan yang masih pada taraf nafsu bahimiah (jiwa binatang), maka dengan keserakahannya akan sulit menahan godaan nafsu duniawi. Sebaliknya bagi orang yang telah mencapai nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang), akan mampu menghadapi godaan seberapapun beratnya, baik berupa harta maupun kekuasaan.
Kondisi sosial kita sekarang ini telah demikian buruk, di mana seluruh kehidupan telah diliberalisasi, sehingga hubungan antar masnuisa menjadi sedemikian renggang, masing-masing menjadi pesaing dari yang lain. Bersaing dalam memperoleh harta, bersaing memperebutkan pangkat dan kedudukan, bersaing mendapatkan ketenaran. Kesemuanya berujung pada satu tujuan yaitu harta. Persaingan itu ditempuh dengan cara menipu, menjegal berkhianat dan sebagainya. Inilah karakter zaman kita sekarang ini, kejujuran dan kebenaran dianggap tidak relevan.
Puasa yang kita jalankan sebagai sarana untuk memcapai ketakwaan itu sekaligus merupakan sarana untuk menghadapi situasi sosial yang buruk seperti sekarang ini. Tetapi ketika peningkatan ketakwaan belum juga diperoleh, hari telah keburu lebaran sebagai hari pembebasan, bebas dari belenggu sosial yang mengarah pada amoralitas. Dalam konteks ini hari lebaran merupakan hari pebuktian apakah benar-benar puasa kita mencapai ketakwaan, sehingga membawa pada pembebasan. Kalau setelah lebaran seseorang mampu membebaskan dari kultur sosial yang hitam yang liberal dan kapitalistik ini berarati mereka telah memperoleh ketakwaan dan mampu membebaskan diri dari cengkeraman sosial yang merusak.
Tetapi kalau setelah lebaran mereka semakin kuat mengikuti arus tanpa sedikitpun melakukan resistensi terhadap arus budaya massa yang konsumtif, hedonis, maka itu berarati mereka sama sekali tidak berlebaran, tidak memperoleh pembebasan, karena puasanya tidak mengarah pada ketakwaan. Hal iti tidak lain ketika berpuasa nafsu bahimiyah (binatang) tetap menguasai jiwanya sehingga dalam melaksanakan puasa semakin banyak makan dan minum. Kezuhudan bukan diutamakan, sebaliknya ketamakan yang ditampakkan, sehingga nafsu mengumpulkan berbagai kesenangan duniawi lebih ditonjolkan ketimbang upaya meraih kebahagiaan ukhrawi.
Dalam situasi sosial dan politik yang buruk seperti ini dimana setiap orang yang hidup didalamnya harus mengikuti arus dan logika yang mereka gerakkan. Sistem sosial yang liberal kapitalistik ini punya pengaruh besar dalam pembentukan sikap dan kepribadian seseorang, sehingga dengan mudah orang menyesuaikan diri dengannya. Dan amat berat bisa bertahan dari pengaruh sistem ini, kecuali orang yang sudah bisa melakukan topo ngeli atau melakukan mati sajeruning urip, inilah yang disebut dengan hidup asketik yang dlam tasawuf disebut sebagai zuhud, sebiah tahapan awal menuju takarub keada Allah. Puasa merupakan langkah ke sana dan Lebaran merupakan momentum pembuktiannya.
Untuk memperbaiki masyarakat yang telah terbelenggu dalam sistem ini tidak cukup hanya dengan memperbaiki manusia sebagai individu. Melakukan perombakan total dari sistem sosial, atau revolusi sosial ini merupakan langkah strategis yang harus dtempuh. Sekuat apapun membina mental anggota masyarakat kalau situasi sosial tempat dia hidup masih buruk, maka orang akan cenderung berperilaku buruk, ketiak keburukan telah menjadi kelaziman dan tidak adalagi kontrol sosial unuk mencegah keburukan. Revolusi sosial sangat penting sebagai pijakan bagi revolusi moral. (Abdul Mun’im DZ/nuo) Selengkapnya.....
Langganan:
Postingan (Atom)