Rabu, 11 Maret 2009

Kiai Sepakat Larang Sikap Golput


JEMBER – Puluhan kiai Jember mengeluarkan larangan bersikap Golput pada pemilu yang akan digelar bangsa Indonesia dalam waktu dekat. Tokoh agama yang dipimpin langsung KH Mansyur Sholeh Wuluhan Ambulu itu merasa perlu mengeluarkan faktwa untuk menyikapi seruan Golput akhir-akhir ini gencar dilakukan beberapa tokoh.
Hadir dalam Pertemuan itu, para kiai senior dan masyayih se kabupaten Jember. Selain KH Mansur Sholeh, Hadir juga KH Moch Hilmi, KH Ahmad Sahri, KH Ghozali, KH Anwar Anas, KH Ihsan Iskandar dan Habib Ahmad Bin Hasan Al Muhdlor Muktisari Jember. Hadir juga Sekjen PKNU H Idham Cholied dan Pengurus DPW PKNU Jatim Imam Ghozali Aro (Iga).
Mansyur Sholeh menilai, keikutsertaan masyarakat untuk menyukseskan Pemilu merupakan sesuatu yang bersifat wajib. Pasalnya, pemilu merupakan agenda nasional 5 tahunan yang sudah disepakati oleh seluruh komponen bangsa. “Maka mengamankan kesepakatan itu merupakan hal yang bersifat wajib. Apalagi didalam pemilu itu terdapat sebuah pilihan untuk memilih pimpinan yang akan menjadi penentu arah bangsa,”tandas Rois Syuriah PCNU Jember yang dipercaya menjadi juru bicara para kiai dan masyayih.
Forum yang digelar di Kediaman KH Anwar Abdul Aziz (PP Sunan Giri) Curah Lele Balung itu juga menyepakati bahwa keikut sertaan masyarakat secara aktif dalam pemilu sebagai bentuk bantuan kepada bangsa dan negara agar berjalan kondusif sesuai dengan harapan masyarakat kecil. Keberhasilan pelaksanaan pemilu akan menjadi penentu kondusif tidaknya perjalanan Bangsa dimasa mendatang.
Masyarakat diminta agar mengabaikan ajakan Golput yang dilakukan oleh para Tokoh. Siapapun tokohnya, ketika melakukan kampanye Golput, dengan dalih apapun tidak bisa dibenarkan. “Apalagi, kita semua tahu, ajakan untuk Golput itu muncul karena sebenarnya tokoh itu sudah merasa putus dengan gara-gara perjuangannya ternyata tidak berhasil,”terang mansyur Sholeh.
Lebih jauh, kiai sepuh Jember itu meminta agar komponen yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pemilu agar bersikap jujur. “Para caleg yang sedang berlomba mencari simpati massa, KPU dan Panwas yang menjadi penyelenggara, jangan pernah melakukan tindakan tidak jujur dan melukai nilai demokrasi yang ingin kita bangun dengan pemilu. Jangan melukai hati rakyat dengan hal yang tidak mendidik,”tegasnya.
Lontaran senada juga disampaikan oleh KH Sahri. Tokoh masyarakat Ajung itu menegaskan pentingnya masyarakat untuk mensukseskan Pemilu 2009 mendatang. “Kita ingin semua berjalan sesuai harapan. Saya berharap semua yang terlibat di Pemilu agar berjalan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jangan justru melakukan pembusukan agar masyarakat menjadi anti para proses demokrasi,”katanya.(hh)
Selengkapnya.....

Minggu, 01 Februari 2009

Mengenal Lebih Dekat Sosok H Idham Cholied



Bertekad kawal Otonomi Sampai ke Tingkat Desa

Dipentas Politik Nasional, nama H Idham Cholied bukan sosok asing. Kiprah dan berbagai ide cerdas yang mengalir dari sosok kelahiran Wonosobo 5 Juni 1970 ini telah lama ikut aktif dalam memberikan warna dipergulatan politik nasional. Tak heran, jika para Ulama yang membidani kelahiran Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) pada 21 Nopember 2006 lalu telah menunjuknya sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) mendampingi Drs H Choirul Anam (Cak Anam) yang didaulat sebagai ketua Umum DPP PKNU.
Bagi Mas Idham, kepercayaan itu merupakan berkah yang didalamnya terdapat tantangan besar yang harus dihadapinya. Selama berkiprah di dunia politik, banyak sekali catatan problematik terkait persoalan masyarakat yang menjadi basis PKNU dan saat ini sedang diwakilinya untuk diperjuangkan. Selain itu, persoalan bangsa dibidang pemerintahan dan kemasyarakatan juga menjadi problem khusus yang harus segera ditangani.
“Tetapi amanat para kiai dan masyayikh ini tetap akan saya laksanakan sebaik-baiknya. Seluruh kekuatan internal diri saya dan PKNU akan saya gerakkan untuk mengawal kepentingan masyarakat yang menjadi basis PKNU maupun masyarakat Umum. Ini prinsip saya, PKNU harus bisa menjadi tauladan dengan nafas politik yang mencitrakan nilai keislaman,”ujar Drs H Idham Cholied memaparkan tekadnya.
Pria yang saat ini sebagai salah satu Caleg DPR-RI Dapil Jember Lumajang itu menegaskan, perjuangan PKNU nantinya akan difokuskan kepada perbaikan kehidupan masyarakat bawah. “Optimalisasi pemberlakuan Otonomi Daerah harus didorong sedemikian rupa agar sisi manfaatnya bisa tembus hingga ke Grass Root (tingkat Desa). Ini merupakan salah satu agenda penting kami yang harus diperjuangkan maksimal,”terang Mas Idham.
Semangat ini akan terus digelorakan Idham Cholied sampai berhasil. Komitment ini selalu ditegaskannya ketika bersilaturrahim dengan para kiai dan tokoh di berbagai desa yang disowaninya. Apalagi jika dirinya dipercaya untuk mewakili rakyat di parlemen nanti. Maka pengawalan dan dorongan agar otonomi bisa tembus diberlakukan sampai ke tingkat desa akan menjadi target yang harus diselesaikan.
Pemberlakuan Otonomi Daerah yang maksimal dan tembus sampai kepada pemerintahan Desa akan memberikan nilai lebih maksimal kepada masyarakat Desa. Sebab menurut Idham, obyek pembangunan paling penting dari era Otonomi Daerah adalah memberikan manfaat pembangunan sebesar-besarnya bagi masyarakat pedesaan.
Hal penting lain yang membuat pemberlakuan kebijakan Otonomi harus menyentuh desa adalah perbedaan karakter masyarakat desa yang relative berbeda satu sama lainnya. Kondisi itu menjadi salah satu penyebab proses dan pola pemenuhan kebutuhan masyarakat juga berbeda. “Di desa A memerlukan pengadaan saluran air, sedangkan di desa B memerlukan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Jika paket program yang dikucurkan dari atas harus dilakukan pada pemenuhan sarana pertanian, maka proses pembangunan dipedesaan menjadi efektif,” papar Alimni Universitas Darul Ulum Jombang itu menegaskan.
Pengalaman selama melakukan Road Show ke berbagai desa telah membuat mantan ketua DPRD Wonosobo itu memiliki kesimpulan, bahwa masing-masing desa sangat perlu diberikan kesempatan untuk merumuskan langkah setrategis untuk membangun sarana dan prasarana di desanya sendiri. Sehingga berbabagi program kerja yang dicanangkan oleh setiap desa di Indonesia tidak lagi ditentukan dari atas. “Pemerintahan diatas Pemerintahan Desa Cukup memberikan alokasi anggaran dan dana sebagaimana yang sudah dilaksanakan selama ini. Namun peruntukan dan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada Desa,”gagas Idham.
Pemberlakuan Otonomi sampai ke tingkat desa itu sesungguhnya bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Apalagi jika semangat yang menjadi dasarnya adalah percepatan pelaksanaan pembangunan yang berbasis kondisi lokal dan masyarakat desa. Pemerintahan kabupaten hingga ke pusat akan menjadi lebih ringan tugasnya. “Tinggal menjadi pengawas pelaksanaan program kerja dan menjadi fasilitator saja,”tandasnya.
Idham optimis gagasannya itu akan mendapat respon baik berbagai kalangan. Perubahan model ini harus segera dilakukan jika memang target pembangunan harus dicapai dalam waktu lebih cepat. Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Desa saat ini sudah cukup mumpuni untuk diberikan hak dan peluang mengatur dan menentukan nasib. “Beri mereka kesempatan untuk mengatur dan menentukan peradapan sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Ini adalah bentuk kearifan yang mendewasakan dan memandirikan,”pungkasnya.(Ahmad Hasan Halim)
Selengkapnya.....

Kamis, 01 Januari 2009

Mengintip Model Sosialisasi PKNU


Bersinergi Dari Caleg Pusat Hingga Daerah


Semakin pendeknya waktu pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu 2009) mendatang, mendesak Partai Politik (Parpol) peserta pemilu melakukan berbagai langkah untuk mensosialisasikan profil dan Caleg yang diusung sebagai perwakilan di Parlemen untuk periode 5 tahun mendatang. Tidak hanya partai baru yang melakukan tindakan itu, Parpol senior yang sudah berkali-kali ikut berlaga di Pemilupun ternyata juga melakukan tindakan serupa. Akhirnya, disepanjang jalan yang kita lewati, berbagai alat peraga pemilu dan berbagai partai yang tentu saja telah menghabiskan biaya besar itu senantiasa nampak dimata.
Sebagai parpol peserta pemilu yang masih baru, Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) juga gencar disosialisasikan kepada masyarakat umum. Tetapi model sosialisasi dari beberapa kali proses sosialisasi yang dilakukan, PKNU telah menyajikan model yang relative berbeda. Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, PKNU telah bergerak maksimal dengan menyentuh berbagai komponen masyarakat. mulai dari Pesantren, Madrasah Diniyah hingga kepada kalangan umum.
“Kita memang terus berupaya melakukan sosialisasi secara maksimal agar profil partai yang didirikan para ulama ini bisa dikenal lebih dekat dan lengkap oleh masyarakat terutama kalangan NU. Sebab basis yang akan menjadi kantong andalan PKNU adalah suara dari warga NU,”tutur Drs. H Idham Cholied, Sekretaris Jenderal DPP PKNU kepada Duta beberapa waktu lalu.
Tetapi, lanjut Cak Idham, kondisi partai yang masih baru dan belum memiliki dana yang cukup, membuat pihaknya harus memeras pikiran agar proses sosialisasi bisa berjalan efektif, murah dan tepat sasaran. Jika efektif, maka daya juang para kader PKNU untuk melakukan sosialisasi parpol akan menjadi lebih kuat.
Cak Idham telah mencoba berbagai formula pendekatan massa. “Sampai kemarin itu, kami yang bersinergi dengan para kader yang kebetulan juga menjadi calon legislative (Caleg) dengan Dapil sama yaitu Imam Ghozali Aro (IGA) untuk melakukan akfititas bersama berupa paket Kegiatan Jalan Jalan Santai (JJS) dan memberikan doorpirize sebagai perangsang. Disitulah saya menemukan model ideal untuk mensosialisasikan partai,”terangnya.
Keinginan untuk mengemas sosialisasi dengan model JJS itu, menurut Idham merupakan usulan dari para Pengurus Anak Cabang PKNU Kalisat Jember dan pengeurus Forum Silaturrahim Kader Ansor (Foska) Jember yang malah sanggup menjadi panitia pelaksana. Awalnya, Caleg DPR-RI merasa gamang untuk melakukan aktifitas yang dibarengkan dengan momentum menyambut tahun baru islam itu. Tetapi setelah berunding dengan Imam Ghozali Aro dan beberapa teman lainnya kegiatan itu disepakati.
“Terus terang, saya kaget dengan peserta yang mengikuti acara itu. Selain karena waktunya pendek, hanya 3 hari efektif, biaya yang diperlukanpun ternyata tidak banyak. Tetapi massa yang berkumpul dan mengikuti kegiatan sosialisasi ala PKNU Anak Cabang Kalisat Jember itu malah diikuti oleh sepuluh Ribu orang lebih. Luar biasa kan?,”papar Cak Idham.
Caleg DPR-RI Dapil Jember-Lumajang itu optimis, paket kegiatan yang menyerupai JJS itu akan menjadi model terbaik untuk sosialisasi profil Partai. Selain itu, para Caleg yang langsung turun akan menjadi ajang silaturrahim yang mantap antara caleg itu sendiri dengan konstituen dan calon konstituen. “Ini meruapakn model penggalangan massa terbuka yang sangat baik untuk mengembangkan sikap kebersamaan antar caleg dan antar caleg dengan masyarakat,”imbuh Cak Idham.
Keberhasilan kegiatan hasil sinergi antar caleg yaitu Idham Cholied (Caleg DPR-RI), Imam Ghozali Aro (Caleg DPRD Jatim), dan Lutfi Baihaqi (Caleg DPRD Jember) serta PAC PKNU Kalisat itu menjadi inspirasi baru untuk menjadikan model JJS sebagai salah satu bentuk sosialisasi PKNU di berbagai tempat lainnya. “Kita tinggal mencari Momentumnya, lalu kita garap sebagaimana yang telah dilakukan di PAC Kalisat Jember. Insyaallah akan menjadi kegiatan yang efektif, efisien, murah dan tepat sasaran,”ujarnya.(*)
Selengkapnya.....

Selasa, 30 Desember 2008

Guru Madin Merapat ke PKNU


Ratusan Guru Madrasah Diniyah (Madin) kemarin berkumpul di pesantren Salafiah Syafi’iyah Asyhariah Curah Lele Jember. Selain untuk menentukan masa depan sekolah diniyah yang dikelolanya, pengelola lembaga pendidikan yang sebagian besar adalah pengasuh Pondok pesantren itu untuk menyatakan sikap politik yang akan diambil menghadapi pemilu 2009 mendatang.
Hadir di Forum bertajuk “Tantangan dan harapan Madrasah Diniyah” kabupaten Jember itu antara lain Sekjen DPP PKNU H. Idham Cholied dan Pengurus DPW PKNU Jember Anwar Syadad. Hadir juga jajaran pengurus DPC PKNU Kabupaten Jember dan para tokoh agama dari kecamatan Balung, Jenggawah, Ajung, dan Ambulu serta H Abdul Halim Subahar yang diundang sebagai pemateri tunggal.
Idham Cholied menjelaskan, PKNU yang didirikan para ulama merupakan wadah terbaik bagi kalangan Nahdliyin terutama para tokoh untuk menwakilkan aspirasi dan usulan yang hendak diperjuangkan di pemerintahan mendatang. “Kami bertekad untuk mengawal aspirasi dan suara ulama yang telah bersusah payah mendirikan PKNU. Itu adalah komitment kami sebagai kader partai,”ujarnya.
Sementara Madrasah Diniyah yang merupakan salah satu pilar tegaknya ajaran Ahlussunnah Waljaah di Indonesia karena mayoritas pengelolanya adalah warga Nahdliyin akan menjadi salah satu agenda utama PKNU untuk diperjuangkan kemapanannya. “Madin adalah proses awal bagi setiap kader untuk bisa mengenyam pendidikan keagamaan yang menjadi pembentuk awal mentalitas kader bangsa. Karena itu, nasip dan masa depannya akan menjadi salah satu bagian yang akan diperjuangkan PKNU,”tandas Idham Cholied yang juga Caleg Untuk Daerah pemilihan Jember Lumajang itu.
Lontaran Idham Cholied itu disambut antusias oleh para peserta yang merupakan pengelola Madrasah Diniyah. Mereka berharap agar keberadaan madin yang selama ini cenderung terpinggirkan bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah. “Dengan demikian kami bisa mengambil peran setrategis dalam pembentukan mentalitas anak bangsa sebagaimana yang diinginkan,”ujar Moch Hasin, salah satu guru diniyah yang hadir.
Hasin dan rekan guru diniyah lainnya mengaku siap mengawal PKNU sebagai partai yang dipiih masyarakat jika komitment baik terhadap kelangsungan hidup Madin menjadi salah satu prioritas. Padahal sebagai lembaga yang sejak dini ikut melakukan pembentukan mental yang berlandasakan norma agama, Madin sesungguhnya memiliki peran penting. “Namun selama ini kami hampir tidak pernah mendapat perhatian lebih,”terangnya.
Keinginan itupun dijawab oleh Idham dengan menyatakan bahwa kelangsungan hidup Madrasah Diniyah akan tetap menjadi salah satu agenda utama PKNU. “Jangan kuatir, Madrasah Diniyah ini merupakan lembaga yang akan selalu kami kawal. Selain karena memang basis pendidikan kalangan Nahdliyin, masalah pendidikan juga menjadi bagian perjuangan kami,”ungkap Idham Cholied menjelaskan.(hh)
Selengkapnya.....

Rabu, 17 Desember 2008

Puluhan Kiai Haramkan Pilih Calon Curang

Puluhan Kiai memberikan Fatwa Haram memilih calon yang terbukti telah melakukan ketidakadilan, dhalim dan curang. Fatwa ini dikeluarkan para kiai usai melakukan Bahsul Masail yang digelar di PP Darul Arifin Curah Kalong Jember akhir pekan lalu. Di Forum itu, hadir sedikitnya 50 kiai yang merupakan para pengasuh Pondok Pesantren di Kabupaten Jember.
Salah satu hasil bahsu masail itu menyebutkan, jika Seorang yang telah melakukan kesalahan yang sebenarnya dirinya tahu, maka orang tersebut tidak diperbolehkan menjadi pemimpin atau menjadi wakil yang mengatasnamakan orang banyak. Karena sikap lalai dan tidak amanah tidak boleh dilakukan dan dimiliki oleh seorang pemimpin atau wakil dari orang banyak.
Para kiai sepakat memberi predikat Fasiq bagi siapapun yang mencalonkan diri untuk menduduki sebuah posisi tetapi dilakukan dengan cara curang dan tidak baik. Apabila dihadapkan pada calon yang fasiq (tidak adil/tidak jujur/ tidak amanah) dan calon yang tidak fasiq, maka masyarakat harus memilih yang tidak fasiq. Dan haram memilih calon yang fasiq. “Bila dihadapkan pada calon yang sama-sama fasiq, maka masyarakat harus memilih calon yang paling sedikit fasiqnya (aqollu dlororon),”demikian bunyi kesimpulan bahsul masail tersebut.
Pengasuh PP Darul Arifin membenarkan bahwa di Pesantren yang asuhnya telah menjadi tempat pelaksanaan Bahsul masail itu. “Kami memang intens membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat langsung. Seluruh anggota adalah para kiai yang memang memiliki penguasaan dibidang Fiqih,”ujar KH Abdullah Samsul Arifin.
Berbagai proses demokrasi yang sudah dilakukan, nampaknya telah banyak memberikan pelajaran kepada masyarakat. hasil dari proses demokrasi yang sering berupa pilihan itu telah melahirkan berbagai sosok yang secara gamplang bisa dinilai langsung oleh masyarakat. Dalam sejarahnya, ternyata tingkat amanah dan keadilan yang dilakukan para wakil maupun pemimpin ternyata tidak sama. Ada yang berjalan dengan amanah dan ada yang tidak.
“Masyarakat harus dengan bisa menjatuhkan secara tepat sesuai dengan hukum yang berlaku, baik hukum Negara dan yang penting menurut hukum agama. Ini berlaku dalam berbagai jenis pemilihan. Baik Pilkades, Pileg, Pilpres, Pilbup, maupun Pilgub,”tegas kiai Abdullah menegaskan.
Menurut Abdullah, pembahasan hukum memilih calon itu dilakukan setelah banyak pertanyaan yang masuk kepada para kiai. Pertanyaan-pertanyaan itu ternyata tidak hanya kepada salah satu kiai, tetapi juga banyak kiai yang mendapatkan pertanyaan sama. “Kebetulan, kami punya forum yang rutin bertemu dan berdiskusi, maka pertanyaan masyarakat itu kami sepakati untuk dibahas,”terangnya Abdullah mengaku hanya memfasilitasi pertemuan yang digelar Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) itu. Sebagai tuan rumah pihaknya memang menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk kelancaran pembahasan itu. “Ini kepentingan ummat, kami tidak ingin ummat ini salah dalam menjatuhkan pilihan,”tandas kiai muda itu. Selengkapnya.....

Rabu, 15 Oktober 2008

Jamur Berasap Tumbuh Di Kreongan


JEMBER – Warga Jl Cumpedak Dusun Kreongan Kelurahan Jember Kidul geger akibat munculnya beberapa Jamur aneh ukuran ekstra besar di samping halaman rumah Bu Jumaati. Tak pelak, rumah bu Jum akhirnya akhirnya dipenuhi warga yang ingin tahu dari dekat Jamur aneh berwarna hitam kecoklatan itu.
Menurut penuturan warga dilokasi, hal aneh yang terlihat dari fisik jamur itu adalah ukuran diameter yang mencapai 40 centimeter. Tumbuhan yang dua hari lalu hanya berdiamter sekitar 15 Centimeter itu bisa berkembang cepat hanya dalam tempo dua hari. “Dan dari baliknya dalam waktu tertentu mengeluarkan asap halus seperti orang ngisap rokok itu,”ujar Bu Jum kemarin dilokasi.
Didik, tetangga Bu Jum menceritakan, Jamur itu diketemukan pertama kali oleh Bu Jum hari senin (13/10) lalu. Tetapi perempuan tua itu merasa tidak ada hal aneh. Baru kemarin pagi, Bu Jum merasa aneh karena perkembangan jamur itu sangat cepat. Diapun mendatangi bu Didik yang rumahnya persis di depan rumahnya. “Kalau mau masak Jamur, dipekarangan rumah saya ada yang sangat besar ukurannya,”ujar Didik menirukan Ajakan bu Jum.
Cerita tentang tanaman yang tumbuh dan besar tiba-tiba itupun kemudian menjalar ke seluruh kampong. Hingga kemarin sore, rumah Bu Jum banyak dikunjungi orang untuk melihat dari dekat, Jamur yang tumbuh di bawah pohon mangga dan beberapa pohon kopi itu.
Didik sendiri mengaku heran dengan Jamur itu. “Saya ditempat ini sudah 18 tahun. Tidak pernah muncul tanaman seperti itu, gak tahu. Kok tiba-tiba muncul jamur itu. Padahal, tanah itu dari dulu tidak pernah ditumpungi apapun,”terang Didik menjelaskan. (hh)
Selengkapnya.....